Pustaka

Mutiara Hitam yang Mendewasakan Peradaban Kita

Rio Anggi Fernando - detikNews
Sabtu, 21 Mar 2020 11:46 WIB
babad kopi
Jakarta -

Judul Buku: Babad Kopi Parahyangan; Penulis: Evi Sri Rezeki; Penerbit: Marjin Kiri, 2020; Tebal: ix + 348 halaman

Sewaktu kecil, kopi adalah minuman yang dilarang oleh orang tua saya. Pasalnya, minuman ini dianggap kurang baik jika dikonsumsi oleh anak-anak. Alasannya karena efek kopi akan membuat peminumnya jadi insomnia dan gelisah. Hal itu selanjutnya dijadikan legitimasi orangtua saya untuk membatasi pengonsumsian kopi.

Selain kekhawatiran tak berdasar itu, rumor yang berkembang di tempat tinggal saya, kopi disebut sebagai minumannya bapak-bapak, karena dianggap hanya cocok jika dinikmati sambil mengisap rokok. Kekhawatiran lainnya, meminum kopi pada malam hari dikhawatirkan menyebabkan masalah pencernaan dan tekanan darah tinggi.

Dengan sekian kekhawatiran tersebut, menggenapi masa kecil saya untuk menjauhi kopi serta seluk-beluknya.

Namun, ada pengalaman yang paling membuat saya berbahagia dan membuat hati saya berbungah, setelah saya membaca novel Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki. Novel ini membuat saya begitu dekat dengan yang namanya kopi. Setelah masa kecil saya yang berjarak—sekaligus membuat saya heran—dengan kopi, terjawab tuntas setelah membaca novel ini.

Tidak hanya itu, novel ini juga yang membuat saya nantinya mampu menjawab sekian pertanyaan yang muncul ketika menyinggung kebiasaan saya meminum kopi dewasa ini. Kopi yang mulanya saya anggap sebagai hal yang sederhana ternyata mengandung dan memendam hal yang pelik. Selain berbicara soal rasa, nyatanya kopi juga menyimpan soal duka dan lara. Begitu banyak pengorbanan yang telah dikorbankan, sehingga kopi bisa kita nikmati seperti sekarang.

Novel ini mengingatkan saya pada buku kumpulan cerpen Iksaka Banu yang berjudul Semua Untuk Hindia. Di kata pengantar buku itu, Iksaka Banu percaya, bahwa nasib fiksi berlatar sejarah, terutama sejarah kolonial, tampaknya tidak sesuram yang kita duga.

Sejarah kolonial adalah hal yang jarang sekali disentuh oleh awam. Karena sangat identik dengan deretan tahun, angka, serta nama-nama asing yang membuat pusing kepala ketika ingin menghafalnya. Di tangan-tangan penulis fiksi, sejarah yang terkesan kaku dan seram itu akhirnya bisa cair dan diterima oleh semua kalangan.

Sejarah yang terekam dalam tulisan fiksi tidak akan berakhir dengan hitam-putih. Sejarah bisa saja hadir dalam warna abu-abu dan sarat warna, sekaligus paradoksal. Melalui novel Evi ini, sejarah kolonial yang pernah terjadi di bumi Nusantara, dan bumi Parahyangan khususnya, datang kembali kepada kita dalam bentuk yang sama sekali baru, dan terasa begitu manis.

Meskipun begitu, Evi tidak lupa pula menyisipkan rasa pahit di dalamnya. Sama halnya dengan kopi, tetaplah harus mengandung pahit, agar tak kehilangan rasa kopinya. Dalam hal ini, si penulis menjadi seorang yang amat cekatan meracik narasi sejarah yang seringkali penuh konflik.

Sudah cukup kiranya kronik menang-kalah yang mewarnai catatan sejarah kita. Sejarah mestinya tidak lagi sekadar menjadi sebuah nostalgia, tetapi sudah harus menjadi tilas yang membangun peradaban kita hari ini.

Mari perhatikan salah satu dialog yang menggambarkan keadaan kompeni dan penguasa pribumi waktu itu: Ketika manusia telah mencapai puncak, ia melihat puncak yang lain. Ingin meraihnya dengan berbagai cara. Senyatanya patutlah kita bertanya, di manakah puncak sesungguhnya berada? "Manusia yang tak puas berada di puncak mencipta tirani buat melanggengkan kedudukan. Menyedot daya si lemah. Mengerangkeng manusia lain jadi tumpuannya (hlm 37).

Dari dialog tersebut kentara bahwa kopi tidak hanya sekadar komoditas yang menguntungkan, tetapi mampu memacu manusia membangkitkan hasrat menguasainya.

Buku yang ditulis setelah melewati masa enam tahun meriset dunia kopi ini membuat penulisnya tetap setia kepada temuan para sejarawan. Bisa disebut, dalam berfiksi pun sikapnya masih tetap ilmiah. Setiap babak adegan dalam buku ini membawa kita untuk memahami sejarah lintas daerah.

Kita dipaksa untuk memahami pertautan antarbudaya dan relasinya dengan komoditas kopi yang kita miliki. Hingga akhirnya menghantarkan kita pada pemahaman bahwa kopi adalah komoditas yang pernah membuat nama Indonesia mendunia.

Minuman Mewah

Kopi dalam sejarahnya adalah minuman mewah yang hanya boleh dinikmati oleh para penguasa. Tokoh si Ujang dalam novel ini adalah penggambaran nyata bagaimana rakyat kala itu begitu was-was ketika ingin mengkonsumsinya. Siapa sangka, jika yang kita sebut kopi luwak hari ini adalah minuman yang lahir dari kondisi dengan serba keterbatasan.

Waktu itu, mengkonsumsi kopi secara terang-terangan adalah bentuk pelanggaran. Oleh karenanya, rakyat kecil yang ingin menikmati kopi hanya bisa menyiasati dengan mengumpulkan kopi dari tahi luwak. Kondisi penuh paradoks itulah yang membuat kita terseret ke dalam kisah-kisah hidup dari setiap tokoh yang ada di buku ini.

Sampai akhirnya kita tersadar, kopi tidak hanya membuat Indonesia punya eksistensi di mata dunia. Tetapi, juga menyiratkan banyak cerita dari semua orang yang pernah bersinggungan dengannya. Dengan demikian, meski kisah yang disajikan kadang mengharukan dan menegangkan, kita tetap diposisikan oleh Evi di luar sebagai pengamat yang objektif, tanpa mampu mempengaruhi narasi yang dibangun olehnya.

Kopi tidak hanya lezat saat dinikmati dan dibicarakan cita rasanya. Kita juga bisa merasakan kelezatannya jika mengulik banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Mulai dari proses menanam, merawat, memanen, mengolahnya menjadi bubuk, sampai dengan cara penyajian, hingga akhirnya bisa sampai ke dalam cangkir untuk kita minum.

Selain mendidik kita menjadi manusia yang gandrung akan minuman pahit ini, di dalam perjalanannya kopi telah banyak menyengsarakan rakyat pula. Tidak terhitung kiranya nyawa yang meregang dan hilang, hanya agar "mutiara hitam" ini tetap bertahan. Tidak hanya harga yang besar yang harus kita bayar. Melalui novel ini, kita kembali diingatkan tentang pengorbanan para petani yang terus diisap darahnya dan dipatahkan tulangnya.

Rentang waktu enam tahun penulisnya dalam meriset kopi saya kira berbuah manis menjadi buku Babad Kopi Parahyangan yang digadang menjadi tetralogi ini. Kisah yang tersaji memang kisah-kisah lama, tetapi Evi mampu menulisnya ulang dengan gaya yang sama sekali baru.

Novel ini pada akhirnya tidak hanya menjadi murni novel sejarah. Ia menjelma novel sejarah yang dibumbui dengan kisah roman. Terlepas dari itu, semuanya dikembalikan lagi pada pembaca. Ingin menganggap fiksi hanya sekadar fiksi, atau menganggap fiksi sebagai bagian dari sejarah kita, itu terserah kepada pembaca.

(mmu/mmu)