Kolom

Mengelola DAS Kayan yang Rawan Banjir

Pendi Tri Sutrisno - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 13:50 WIB
DAS Kayan di Kalimantan Utara yang rawan banjir
Jakarta -

Salah satu "teras rumah" Indonesia di bagian utara adalah Provinsi Kalimantan Utara. Salah satu provinsi yang termasuk baru ini memiliki potensi alam dan kebudayaan manusia yang tinggi sebagai "wajah bangsa" di kawasan perbatasan. Pusat pemerintahan terletak di Tanjungselor, dapat ditempuh dari kota mana pun via pesawat; menuju Tarakan via jalur udara, lalu dilanjutkan dengan perjalanan via transportasi kapal menuju Tanjungselor. Kini, kabarnya telah ada rute pesawat dari Balikpapan langsung menuju Tanjungselor.

Berbincang tentang potensi alam dan budaya manusia, tentunya tidak terlepas dari begitu kayanya khasanah budaya yang ada di Tanjungselor tersebut. Penduduk Tanjungselor terdiri dari beragam etnis dan budaya, di antaranya penduduk asli dari etnis Dayak (Kenyah, Kayan, Punan), Etnis Bolongan dan Tidung, serta para penduduk dari luar di antaranya Jawa, Bugis, Timor, Sunda, dan lain-lain. Mulai terbangun kehidupan perkotaan dengan pertumbuhan pusat-pusat pendidikan dan ekonomi di lingkungan penduduk ini.

Kehidupan masyarakat Tanjungselor akan terus mengalami perubahan-perubahan menuju ke tahap taraf hidup yang tinggi. Harapannya tentu dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, segala unsur pendidikan, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan juga akan meningkat. Termasuk di dalamnya adalah upaya pengelolaan lingkungan dan penanggulangan terjadinya bencana alam.

Mengingat mulai sering terjadinya hujan dengan intensitas yang cukup tinggi, aspek kewaspadaan terhadap ancaman kejadian alam yang cukup ekstrem seperti banjir perlu ditingkatkan. Salah satunya adalah dengan adanya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara terpadu. Secara sederhana, DAS merupakan kawasan yang dibatasi oleh igir pegunungan secara berkeliling di mana ketika turun hujan, air akan terakumulasi menuju pada sungai utama yang berada di wilayah yang paling rendah.

Tanjungselor berada pada satuan wilayah DAS Kayan. DAS ini salah satu daerah aliran sungai yang memiliki luas sekitar 3 juta hektar. Luas yang cukup besar untuk ukuran suatu satuan sistem daerah aliran sungai. DAS yang memiliki luas cukup besar memiliki konsekuensi bahwa cakupan area tangkapan hujan yang luas sehingga memiliki potensi sumber daya air permukaan yang besar. Hal tersebut tentunya harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan.

Pengelolaan Terpadu

Pengelolaan DAS harus dilakukan dengan baik dan menjangkau ranah multidisiplin ilmu. Keseluruhan elemen di pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk menghasilkan rumusan dan perlakuan yang tepat dalam melakukan pengelolaan DAS. Terlebih pada DAS Kayan ini, selain memiliki luas yang besar, juga hampir 80% tutupan lahannya adalah hutan. Tutupan lahan berupa hutan juga akan menghasilkan beberapa kemungkinan dalam pengelolaan sumbe rdaya.

Hasil hutan yang tinggi serta fungsi hutan dalam melakukan tata kelola air harus terus terjaga. Namun, faktor tersebut juga akan dipengaruhi oleh faktor fisik lain di antaranya jenis dan material tanah yang ada. Cakupan DAS Kayan ini memiliki jenis material tanah berupa podsolik (lempungan) yang berarti memiliki sifat yang kurang peka dalam penyerapan air. Sehingga perlu antisipasi yang baik jika hujan dengan intensitas tinggi turun di bagian tengah dan hulu DAS.

Limpasan permukaan dengan intensitas tinggi akan dengan cepat masuk ke sistem sungai utama dan akan menghasilkan debit yang besar. Melalui permisalan model tersebut, ancaman banjir luapan dan genangan di kawasan hilir DAS cukup tinggi. Tanjungselor berada pada kawasan hilir DAS Kayan.

Jalan Utama

Sungai Kayan adalah sungai utama yang menjadi muara perjalanan air permukaan di dalam satu sistem DAS Kayan. Selain itu, Sungai Kayan juga menjadi jalan utama dalam perjalanan transportasi sungai untuk menuju ke daerah lain. Salah satunya adalah Desa Long Peso.

Perjalanan menyusuri Sungai Kayan menuju Desa Long Peso dari pusat kota Tanjungselor dapat ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam menggunakan kapal cepat (speedboat) dengan kapasitas maksimal penumpang 6 orang.

Desa Long Peso merupakan salah satu desa dengan jumlah rumah dan masyarakat majemuk, saling toleran, dan hidup dengan harmonis. Keutuhan budaya lokal juga masih sangat terjaga. Penduduk di Long Peso ini mayoritas bekerja di sektor perkebunan dengan menggarap kebun milik pribadi, atau ada yang ikut menggarap kebun milik perusahaan. Ada juga yang bekerja sebagai petani dengan menanam padi untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

Berdasarkan informasi masyarakat setempat, kejadian banjir pernah menggenangi desa ini. Konon, ketinggian air yang menggenang mencapai setinggi atap rumah normal atau sekitar 2 – 3 meter. Padahal secara sepintas, beda tinggi antara Sungai Kayan dengan permukiman yang ada cukup besar, ditambah dengan jarak mendatar yang cukup jauh. Namun hal tersebut bukan sebuah kemustahilan terhadap risiko terjadinya banjir berupa genangan maupun banjir luapan dari Sungai Kayan, jika debit air yang datang cukup besar dan bersifat bandang (tiba-tiba).

Masyarakat harus peka dan mampu merespons riwayat banjir yang pernah terjadi, dengan berusaha mencari solusi nyata untuk mengurangi risiko kerusakan akibat terjadinya banjir yang dapat menimbulkan berbagai dampak kerugian.

Potensi alam dan budaya Kalimantan Utara yang sangat tinggi semakin menekankan bahwa aspek kesiapsiagaan dan pegelolaan lingkungan secara berkelanjutan cukup mendesak dilakukan. Semua elemen pemerintah daerah dan masyarakat perlu bahu-membahu dalam melakukan pengelolaan lingkungan. Mulai dari kajian dan analisis sistem DAS, ancaman risiko bencana, hingga kearifan lokal kehidupan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang terus mengalami peningkatan.

Perencanaan dan pengembangan wilayah ke depan hendaknya berorientasi pada kelestarian alam dan lingkungan, agar peningkatan kelayakan hidup masyarakat dengan jalan peningkatan kualitas pendidikan dan kehidupan ekonomi yang memadai dapat berjalan berkelanjutan. Terciptanya Kalimantan Utara yang sehat, bersih, makmur, tangguh bencana, dan sejahtera merupakan cita-cita mulia yang dapat bersama-sama diwujudkan.

Pendi Tri Sutrisno alumni Fakultas Geografi UGM, konsultan pemetaan dan pengelolaan lingkungan

(mmu/mmu)