Kolom

'Perang Saudara' Berebut Wagub Jakarta

Adi Prayitno - detikNews
Kamis, 30 Jan 2020 17:30 WIB
Bakal Cawagub DKI
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Hilal politik soal posisi Wagub DKI Jakarta mulai menemui titik terang. Gerindra dan PKS sepakat mengusung jagoan masing-masing bersaing secara terbuka. Gerindra menjagokan Ahmad Riza Patria dan PKS mendorong Nurmansyah Lubis untuk bertarung. Dua sosok yang dinilai sebagai titik temu kompromi politik dari deadlock tak berkesudahan. Ini layak disyukuri karena Jakarta dalam waktu dekat punya wagub setelah sekian lama ditinggal Sandiaga Uno maju pilpres.

Secara politik, munculnya nama calon dari Gerindra dan PKS ibarat 'perang saudara' berebut posisi Wagub DKI Jakarta. Dua partai pengusung utama Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Dua partai yang selama lima tahun memamerkan kemesraan sembari menegaskan sikap oposisi terhadap pemerintah. Bahkan di level daerah, partai besutan Prabowo Subianto dan Sohibul Iman ini kerap menjadi penantang utama calon yang diusung partai koalisi Jokowi. Keduanya solid sukar digoyang berbagai manuver politik apapun.

Setelah Prabowo membawa Gerindra masuk koalisi Jokowi, suasana politik berubah total. Hubungan keduanya mulai memanas. Tak lagi mesra seperti beberapa waktu lalu. Hubungan tak mesra ini salah satunya berdampak pada posisi Wagub DKI Jakarta yang menjadi 'jatah' PKS. Keadaan seketika berubah dramatis. Di tengah kebuntuan, Gerindra mengusung Ahmad Riza Patria bertarung melawan jawara PKS Nurmansyah Lubis. Alasannya sederhana; dua sosok nama yang disodorkan PKS sebelumnya, yakni Ahmad Shaikhu dan Agung Julianto ditolak politisi Kebon Sirih.

Dari sinilah cerita pecah kongsi dimulai. PKS menuding Gerindra sejak awal tak pernah ikhlas memberikan posisi wagub ke PKS. Bahkan dalam berbagai kesempatan, sejumlah elite PKS meyakini ada peran signifikan Gerindra menolak dua calon yang dipatok harga mati itu. PKS menuding Gerindra bermanuver agresif agar paripurna DPRD Jakarta tak pernah kuorum. Intinya, itu siasat menolak memilih Ahmad Shaiku dan Agung Yulianto sebagai wakil Anies Baswedan.

Publik melihat PKS terlampau percaya Gerindra soal posisi Wagub Jakarta. Mestinya PKS sejak awal sadar golden ticket wagub tak jatuh dari langit, tapi harus diperjuangkan. Butuh lobi meyakinkan semua fraksi di Kebon Sirih memilih dua jagoan yang mereka usung. Politik bukan lagi soal pasrah atas kehendak dan takdir Tuhan. Tapi ada ikhtiar serupa rekayasa dan negosiasi. Itulah sejatinya politik. Asketisme politik PKS yang cenderung pasrah takdir Tuhan dalam banyak hal membuat partai dakwah ini kesulitan merebut posisi Wagub DKI Jakarta.

Nasi sudah jadi bubur. PKS tak perlu larut meratapi tiket wagub yang terpaksa harus dibagi ke Gerindra. Tak ada pilihan lain bagi PKS selain harus kerja maksimal mengkapitalisasi semua sumber daya politik memenangkan 'perang saudara' ini. Meski berat melawan Gerindra, dalam politik apapun bisa terjadi. Tak ada pemenang sebelum ada keputusan definitif. Layar sudah terbentang pantang mundur surut ke belakang.

Beradu Kuat

Publik cuma bisa meraba-raba soal siapa yang kemungkinan besar berpeluang menang. Secara umum, head to head antara Ahmad Riza Patria dan Nurmansyah Lubis relatif sepadan. Saling mengungguli dan saling mengalahkan. Riza Patria merupakan sosok politisi matang. Anggota DPR Gerindra dua periode yang sosoknya menasional. Tentu bekal pengalaman politiknya berlimpah. Meski begitu, Riza Patria selama ini dinilai tak terlampau engage dengan urusan Jakarta yang rumit. Lebih banyak fokus urusan nasional.

Sementara Nurmansyah Lubis mantan anggota DPRD DKI Jakarta dua periode. Dinilai ahli di bidang anggaran. Supel, gaul, dan pecinta kopi. Ia merepresentasikan potret kader PKS yang fleksibel terbuka bagi semua kalangan. Meski sosoknya tak menasional seperti Riza Patria, namun kemampuan memahami seluk beluk Ibu Kota tak perlu diragukan. Ia tumbuh besar mengabdi untuk Jakarta.

Pada level figur, Riza Patria dan Nurmansyah Lubis berimbang. Problemnya, pemilihan Wagub DKI Jakarta melampaui kekuatan figur personal kandidat. Melainkan sejauh mana gerilya politik Gerindra dan PKS meyakinkan fraksi lain untuk memilih jagoan mereka. Inilah medan pertarungan yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, publik cenderung melihat Gerindra lebih diunggulkan. Salah satunya karena Gerindra menjadi bagian koalisi pemerintah.

Sentimen satu kolam koalisi pemerintahan bisa dijadikan Gerindra sebagai instrumen perekat merangkul fraksi lainnya. Sementara PKS nyaris sendirian tak punya partner koalisi sejati. Apalagi PKS punya 'musuh baru', yakni PSI yang selalu berseberangan. Paling mungkin PKS bisa meminta bala bantuan PAN dan Nasdem yang belakangan terlihat intim dengan PKS. Nasdem sangat mungkin diandalkan untuk meyakinkan fraksi lain melawan Gerindra. Bahkan Nasdem bisa menjadi faktor kunci yang bisa memenangkan Nurmansyah Lubis.

Oleh karena itu, pemenang berebut posisi Wagub DKI Jakarta masih misteri. Belum terlihat siapa yang bakal jadi juara. Semua infrastruktur politik terus diupayakan untuk menang. Misalnya, PKS mulai mengusulkan pentingnya fit and proper test untuk melihat kompetensi calon. PKS melihat, terutama penguasaan panggung debat, Nurmansyah Lubis lebih unggul ketimbang Riza Patria yang dalam debat sejumlah di stasiun TV swasta relatif kaku. Perang saudara dua partai yang pernah bersekutu ini layak ditunggu. Menarik dan pastinya penuh intrik politik.

Pertaruhan Kinerja

Terlepas siapapun yang terpilih menjadi Wagub DKI Jakarta, satu hal yang pasti, yakni pertaruhan kinerja menuntaskan berbagai persoalan Ibu Kota. Posisi wagub tentu bukan semata 'ban serep' pelengkap posisi politis administratif pemerintah daerah, melainkan jaminan bisa berkolaborasi dan membantu Anies Baswedan menuntaskan semua janji politiknya. Terutama soal keadilan ekonomi distributif serta solusi mengatasi banjir dan macet.

Dua tahun belakangan Anies Baswedan terlihat babak belur sendirian menjadi sasaran kritik. Kebijakan politiknya dinilai tak matang, grasa-grusu, tak rasional, hingga persoalan banjir yang selalu menjadi komoditas politik menyerang Anies. Tak berlebihan kiranya jika ekspektasi publik terhadap kehadiran wagub baru begitu besar agar bisa membantu kerja Anies. Bukan lagi sebatas wacana berselancar bermain indahnya kata-kata.

Suka tak suka, kemenangan Anies Baswedan dalam Pilkada 2017 menyisakan banyak luka. Mengaduk-aduk suasana batin kebangsaan. Memunculkan friksi yang terbelah ekstrem. Perang ayat dan tagar tak berkesudahan. Bekas luka itu masih membekas hingga saat ini. Sukar diobati. Terus mengeras bagai noda yang mendarah daging. Luka efek Pilkada Jakarta terasa menyakitkan memang. Karenanya, kerja nyata solusi utama meredam kritik itu.

Tak mengherankan jika kinerja Anies akan selalu dibanding-bandingkan dengan Ahok sang rival utama. Anies tentu tak bisa berkelit dengan retorika indah. Harus dijawab dengan bukti nyata. Misalnya soal solusi mengatasi banjir Jakarta. Dalam konteks inilah posisi wagub dirasa signifikansinya. Terobosan apa yang bisa diberikan kepada warga Jakarta mengatasi persoalan banjir. Dan tentu isu-isu lain yang bisa menopang janji politik Anies Baswedan.

Sekali lagi, wagub terpilih nantinya harus bisa pamer kehebatan membenahi Jakarta. Dalam politik, pamer kebolehan tak diharamkan. Bahkan sangat dianjurkan sebagai legacy bisa membenahi berbagai persoalan Ibu Kota. Klaim kesuksesan tak bisa diukur sepihak, apalagi hanya diukur dengan perasaan; fakta dan kerja nyata yang harus bicara. Inilah tantangan utama wagub pendamping Anies Baswedan sebagai gubernur 'rasa' Indonesia.

Adi Prayitno Direktur Eksekutif Parameter Politik dan dosen FISIP UIN Jakarta

(mmu/mmu)