Meluruskan Makna Jihad (7)

Diplomasi sebagai Jihadnya Para Nabi

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 10 Jan 2020 16:35 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Kesuksesan misi dakwah Nabi Muhammad lebih banyak ditentukan oleh kepiawaian berdiplomasi ketimbang dengan jihad melalui peperangan. Dari segi kekuatan perang Rasulullah SAW sesungguhnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan dua kekuatan adidaya yang mengapitnya, yaitu kekuatan Romawi Bizantium di Barat dan kekuatan Persia di Timur. Sukses yang gemilang Rasulullah lebih banyak ditentukan oleh perjuangan diplomasi.

Diplomasi adalah bagian dari jihad yang paling diandalkan Rasulullah. Rasulullah amat piawai di dalam berdiplomasi. Terkadang diplomasinya menempuh jalan-jalan yang sama sekali tidak populis, tetapi ia tetap istikamah. Rasulullah betul-betul berorientasi pada tujuan sebuah perjuangan, bukannya mengedepankan proses.

Berjihad melalui diplomasi selain risikonya sangat minim juga hasilnya bisa lebih permanen. Diplomasi bisa meniadakan atau paling tidak menunda peperangan yang akan menelan korban jiwa dan materi. Karena itu, para Nabi dibekali dengan kekuatan diplomasi yang amat piawai. Lihat misalnya bagaimana kepiawaian Nabi Sulaiman bisa menaklukkan sebuah kekuatan adidaya yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Balqis.

Kepiawaian Balqis dilukiskan sebagai seorang ratu yang diberi gelar "pemilik kerajaan besar" (laha 'arsyun 'adhim) sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Naml/27:23). Pada akhirnya Nabi Sulaiman bisa menaklukkan kerajaan itu tanpa setetes darah yang mengalir.

Contoh lain, ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh Raja Namrud: "Siapa yang menghancurkan berhala-berhala kami," lalu dengan diplomasi Nabi Ibrahim menjawab, "Itu yang paling besar," sambil menunjuk berhala paling besar yang dikalungi kapak, setelah sebelumnya berhala-berhala lain dihancurkan. Nabi Ibrahim tidak berbohong karena yang ditunjuk memang adalah berhala paling besar, walaupun maksudnya bukan dia yang menghancurkan berhala-berhala itu.

Dalam kasus lain, Nabi Yusuf menundukkan saudara-saudaranya yang pernah berusaha mencelakakan dirinya ke dalam sumur bukan dengan cara membalas dendam ketika ia menjadi raja di Mesir, tetapi ia menguji mental saudara-saudaranya dengan cara menyembunyikan alat timbangan ke dalam karung gandum saudara-saudaranya. Para saudaranya dihadapkan kembali kepada raja setelah ditemukan alat bukti di dalam karung.

Nabi Yusuf bukannya menghukum saudara-saudaranya, tetapi memaafkannya. Akhirnya saudara-saudaranya tertunduk malu dan menyesali seluruh perbuatan yang pernah dilakukan di masa lalu. Mereka berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatan yang memalukan itu.

Nabi Muhammad juga kaya dengan pengalaman diplomasi sebagai metode di dalam menggalang pengaruh dan mengembang misi suci, sebagaimana yang akan dibahas dalam artikel-artikel mendatang.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)