Catatan Agus Pambagio

Menimbang Manfaat Runway 3 Bandara Soetta

Agus Pambagio - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 11:21 WIB
Foto: Dok. Angkasa Pura II
Foto: Dok. Angkasa Pura II
Jakarta - Pengguna Bandara Internasional Soekarno Hatta (BSH) pada 2018 sudah mencapai sekitar 65 juta orang dan kepadatan sangat terasa pada waktu-waktu tertentu. Bandara terasa sesak karena seluruh Terminal BSH hanya mampu menampung 60 juta orang per tahun dan diramalkan akan meningkat menjadi 100 juta orang pada 2025. Untuk itu diperlukan program perluasan BSH yang menyangkut daya tampung terminal dan kecepatan pergerakan pesawat mulai dari apron, taxiway sampai landasan atau Runway (RWY).

Perluasan daya tampung BSH sudah dimulai tahun lalu. Ironisnya jumlah penumpang penerbangan di BSH justru turun sekitar 13% karena berbagai faktor, selain harga tiket penerbangan stabil mahal dan kondisi ekonomi dunia juga turun. Suatu hal yang biasa-biasa saja.

Di sisi lain ada pembangunan East Cross Taxiway (ECT), RWY 3, renovasi Terminal 1 dan 2 serta pembangunan Terminal 4 dilakukan untuk mengantisipasi ledakan penumpang pada 2025. Untuk itu pengelola BSH harus superkreatif mengelola investasi yang digelontorkan. Pastikan lakukan perhitungan yang benar, jangan hanya berkata, Siap, Pak!" ketika diperintah membangun oleh Presiden maupun Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN. Apalagi jika perintah pembiayaannya melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Artinya, risiko ada di BUMN Pengelola Bandara.

Rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan tidak kreatifnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pengelola Badan Usaha Bandar Udara tidak perlu terlalu agresif membangun bandara layaknya pusat perbelanjaan (mall) yang megah dengan menjual barang bermerek dan memindahkan food court ke bandara. Model bandara ala mall ini membuat mahalnya biaya pembangunan dan perawatan yang sebagian dibebankan ke konsumen melalui Passenger Service Charge.

Hampir tidak ada penumpang domestik yang akan belanja di mall bandara karena mahal. Sebagian besar konsumen mall bandara adalah wisman karena mereka mendapatkan bebas pajak kalau belanja di bandara.

Lalu sejauh mana perlunya dibangun RWY 3? Apa betul dengan adanya RWY 3 akan ada peningkatan pergerakan pesawat per jam? Pembangunan RWY 3 mahal (Rp 2,6 triliun) dan memusingkan kepala karena harus ada pembebasan tanah di Kabupaten dan Kota Tangerang yang rumit. Pertanyaannya, sejauh manakah RWY 3 akan optimal? Mari kita bahas manfaatnya.

Teguran ICAO

Saya pribadi tidak setuju pembangunan RWY 3 karena mahal. Dulu sekitar 2005, pembebasan tanah pernah dieksekusi, tetapi muncul kasus tuntutan soal alih lahan dan berbuntut beberapa orang masuk penjara. Pernah juga saya tanyakan, mengapa harus membangun landasan baru? Apa tidak cukup kalau hanya membangun East Cross Taxiway (ECT) untuk melengkapi West Cross Taxiway (WCT) yang sudah ada --kalau tujuannya memperbanyak pergerakan pesawat hingga 114 pergerakan per jam, mengingat mahal dan rumitnya lahan di sekitar BSH?

Di sebuah media, bahkan Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin mengatakan, dengan dibangunnya RWY ketiga, BSH akan mendapatkan keuntungan aircraft movement atau pergerakan pesawat yang jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 114 pergerakan take-off dan landing per jamnya (sekarang sekitar 80 pergerakan per jam). "Hal ini tentunya akan ditunjang dengan adanya ECT, di mana pergerakan pesawat antara runway utara dan runway selatan menjadi lebih efisien." Langkah ini perlu diambil untuk menghadapi 100 juta penumpang pada 2025.

Pembangunan dan pengoperasian landasan baru (RWY 06/24) sudah berjalan, namun apakah berdampak positif terhadap pergerakan pesawat di BSH, sehingga antrean untuk mendarat dan terbang di BSH tidak ada lagi? Kekhawatiran saya terhadap keberadaan landasan baru dilengkapi dengan datangnya surat teguran dari International Civil Aviation Organization (ICAO) Asia Pacific Regional Office tertanggal 17 Desember 2019 yang ditandatangani Direktur Regional ICAO Arun Mishra dan ditujukan kepada Dirjen Perhubungan Udara karena RWY 3 atau 06/24 bermasalah.

Surat teguran tersebut berisi enam poin penting, antara lain intinya mempertanyakan keandalan pengoperasian RWY 3. Surat tersebut menanyakan mengapa jarak antara RW 06/24 (RWY 3) dan RWY Utara 07L/25R sangat dekat, hanya 500 m? Sehingga berbahaya jika pesawat akan landing dan take off secara bersamaan dari kedua RWY tersebut, sayap kedua pesawat dapat bersinggungan, apalagi jika cuaca buruk.

Selain itu semua proses landing dan take off dari RWY 06/24 harus menyeberang di East atau West Cross Taxiway dan pergerakan ini dapat mengurangi atau mengganggu trafik di RWY Utara 07L/25R. ICAO juga mempertanyakan masalah operasional di Airside oleh Air Traffic Control (ATC).

Posisi ketiga RWY di BSH dari utara ke selatan ketika kita mendarat dari arah timur adalah RWY 24/06, RWY 25R/7L dan RWY 25L/7R. Jika mendarat dari arah barat adalah RWY 06/24, RWY 7L/25R, dan RWY 7R/25L. Posisi RW 06/24 jaraknya nyaris sejajar dengan RWY 7L/25R atau biasa disebut RWY Utara dan dipakai untuk take off dan landing pesawat dari Terminal 2, 3, dan nantinya Terminal 4. Sedangkan RWY 7R/25L atau biasa disebut RWY Selatan untuk pesawat yang take off dan landing dari Terminal 1.

Pesawat dari Terminal 2 dan 3 yang akan landing atau take off dari RWY 7R/25L harus menyeberangi West atau East Cross supaya tidak menghalangi pesawat yang akan take off atau landing di RWY 7L/25R. Begitu sebaliknya, jika pesawat dari Terminal 1 mau take off atau landing menggunakan RWY 7L/25R dan RWY 06/24 harus melewati West atau East Cross Taxiway.

Sekali lagi RWY 06/24 tidak mungkin digunakan bersamaan dengan RWY 7L/25R karena dapat menyebabkan kecelakaan. Harus digunakan secara bergantian. Pertanyaan saya, "Lha kalau begitu apa gunanya dibangun RWY baru 06/24 yang mahal kalau hanya bisa dipakai bergantian atau sebagai cadangan ketika RWY Utara diperbaiki?" Anggaran terbuang sia-sia dan dapat dibilang merugikan negara.

Saran Optimalisasi

Ternyata benar, menurut penjelasan Kementerian Perhubungan, penggunaan RWY 06/24 atau RWY 3 hanya untuk cadangan ketika RWY 7L/25R atau RWY 7R/25L sedang bermasalah atau ditutup karena ada perbaikan. Artinya, RWY 3 memang tidak optimal karena demi keselamatan RWY baru tidak dapat menambah secara signifikan trafik di BSH hingga 114 pergerakan pesawat per jam, sesuai rencana awal AP II.

Selain itu adanya RWY baru (06/24) dikhawatirkan akan membuat antrian pesawat yang mau take off dan landing bertambah panjang. Lalu RWY 06/24 lokasinya juga berseberangan dengan Terminal 2, 3, dan 4 (mulai dibangun 2021) berpotensi mengganggu pergerakan pesawat ke Terminal 2, 3, dan 4 tersebut jika tidak dibangun cross taxiway perpanjangan (tambahan).

Saya khawatir investasi PT AP II di penambahan landasan akan sama mubazirnya dengan investasi pada Sky Train yang berada di landside yang seharusnya ada di airside. Melihat situasi dan kondisi RWY 06/24, ada baiknya pembangunan Terminal 4 dengan investasi Rp 2,6 triliun ditinjau ulang termasuk potensi penumpang BSH.

Apalagi Menteri Perhubungan juga sesumbar akan membangun Bandara di Tenjo, Karawang, dan Pandeglang untuk mengurangi beban BSH. Komentar saya, "Siapa yang mau naik pesawat dari bandar tersebut?" Tiket tidak terbeli apalagi jika harga avtur menjulang karena US dan Iran jadi berperang. Hati-hatilah dalam membangun infrastruktur, jangan tergesa-gesa demi memuaskan atasan.

Agus Pambagio pengamat kebijakan publik dan perlindungan konsumen

(mmu/mmu)