detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 01 November 2019, 14:20 WIB

Kolom

"Double Track" Pertanian di Tengah Badai Resesi

Hafidz Arfandi - detikNews
Double Track Pertanian di Tengah Badai Resesi Sektor pertanian bisa diharapkan mampu menambal kelesuan industri (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -

Resesi ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan merosotnya permintaan atas berbagai komoditi barang dan jasa. Penyebab resesi bermacam-macam, mulai dari membesarnya risiko kredit yang mulai membebani mayoritas produsen dan konsumen, maupun melemahnya daya beli akibat adanya guncangan atas penurunan harga komoditas yang menyebabkan perdagangan tidak lagi seimbang.

Dalam konteks kekinian, resesi global terjadi akibat beberapa faktor yang saling bertabrakan, di antaranya; pertama, terjadinya perang dagang yang menghambat laju pertumbuhan di beberapa negara berkembang, khususnya China yang secara otomatis mempengaruhi permintaan atas berbagai bahan baku dari negara berkembang.

Kedua, meningkatnya risiko kredit di negara-negara Asia akibat melesunya permintaan sektor manufaktur, padahal dalam konteks pembiayaan manufaktur selalu mengandalkan kredit. Ketiga, terjadinya indikasi bubble economics di Amerika Serikat yang tergambar dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi bergantung pada pembiayaan utang jangka pendek, di mana suku bunga acuan relatif tinggi.

Keempat, kelesuan ekonomi di negara-negara Eropa, terutama akibat tidak terjalinnya titik temu pasca-Brexit. Akibat lanjutan dari kesemuanya adalah terjadinya penurunan harga komoditas dunia, terutama minyak yang tidak beranjak dari kisaran 50 dolar AS per barel, meski sempat terkerek naik ketika terjadi ketegangan-ketegangan terutama di Timur Tengah.

World Bank memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi dunia hanya dapat diharapkan dari Asia Selatan dan Asia Timur dan Pasifik; keduanya masih memberikan gairah pertumbuhan hingga 6% sehingga rata-rata pertumbuhan dunia bisa bertahan di 3%. Namun, dua kawasan ini juga mengalami kontraksi di mana beberapa negara terpengaruh dengan gejala perang dagang yang menjadikan pertumbuhan ekonomi dunia mengalami pelambatan hingga 2,6% saja.

Pertumbuhan Melambat

Indonesia secara langsung mungkin tidak mengalami kontraksi atas perang dagang, tetapi secara tidak langsung penurunan permintaan komoditas yang dibarengi tingkat harga yang relatif rendah terhadap komoditas andalan ekspor menjadikan pertumbuhan melambat. Di sisi lain, faktor permintaan domestik mengalami kelesuan yang diakibatkan oleh inflasi pada konsumsi primer yang justru menimbulkan tekanan lebih parah kepada mayoritas penduduk berpendapatan menengah ke bawah. Hal ini dapat dilihat dari garis kemiskinan yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan inflasi secara umum.

Gejala awal resesi sudah ditunjukkan oleh sektor manufaktur yang pada Semester I-2019 hanya mampu tumbuh 3,7%. Padahal, di Semester I-2019 ada tiga momentum penting yang seharusnya mendongkrak permintaan yaitu pemilu, Hari Raya Idul Fitri, dan siswa masuk sekolah. Tiga momen tersebut ternyata tidak mampu memberikan insentif daya beli secara signifikan, konsumsi pemerintah yang mencapai 6,93%, konsumsi LNPRT yang mencapai 16.09%, sedangkan untuk konsumsi rumah tangga yang tumbuh pesat adalah kesehatan dan pendidikan mencapai 6.17%.

Besarnya konsumsi pemerintah di Semester I juga menjadi isyarat bahwa di semester berikutnya konsumsinya akan relatif lebih rendah mengingat alokasi anggaran pemerintah sangatlah terbatas. Meski pertumbuhan PDB Semester I masih bertahan di 5,06%, tetapi perlu diwaspadai bahwa pertumbuhan ini lebih didorong oleh sektor tersier (jasa), terutama ditandai kembali bergairahnya jasa keuangan dan real estate di mana Semester I-2019 kembali tumbuh di atas PDB mencapai 5,93% dan 5,6% padahal di akhir 2018 masing-masing hanya tumbuh 4,17% dan 3,58%.

Jasa komunikasi dan informasi serta jasa perusahaan yang selama ini tumbuh relatif baik juga tampak makin prestisius dengan pertumbuhan masing-masing mencapai 9.33% dan 10.15%, tetapi jasa perdagangan tidak kunjung membaik tetap di kisaran 4,95%. Kondisi ini sepertinya menggambarkan bahwa sektor jasa memang memberikan harapan, tetapi seberapa besar daya tahannya di tengah badai resesi perlu ditelisik mengingat permintaan jasa sangat elastis terhadap kondisi-kondisi eksternal, terutama yang berkait dengan jasa keuangan yang diharapkan menjadi mesin pendorong perekonomian, tetapi justru akan melambat ketika situasi sedang berisiko.

Maka, perlu sebuah upaya serius bagi pemerintah untuk mengamankan potensi pendorong pertumbuhan dalam jangka pendek yang masih bisa diharapkan sebagai pengaman di tengah resesi global.

Sektor Pertanian

Sektor yang relatif mudah untuk digenjot adalah sektor pertanian. Sektor ini setidaknya memiliki peran besar dalam beberapa hal. Pertama, sektor pertanian menyangkut 37 juta penduduk atau 30% dari populasi bekerja sehingga memberikan daya tahan ekonomi khususnya pada wilayah pedesaan. Kedua, sektor pertanian akan diharapkan memperkuat aliran kredit ketika produktivitasnya membaik dan terjadi perputaran komoditas pertanian. Ketiga, sektor ini bisa diharapkan mampu menambal kelesuan industri yang bergantung pada pasokan bahan baku impor untuk mendorong shifting industri menengah yang berbahan baku lokal baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.

Persoalannya, apakah sektor ini bisa menghasilkan nilai tambah dengan pengelolaan yang konvensional? Akan sangat sulit mengandalkan skema pertanian tradisional yang sangat padat karya dan bergantung pada kondisi alam (cuaca, air, suhu, pengendalian hama). Perlu terobosan besar untuk menjalankan pertanian dalam double track sekaligus, yaitu menggenjot produktivitas melalui konsolidasi pertanian modern dan memperbaiki kesejahteraan petani dengan pemberdayaan.

Track pertama, dipilih dengan mengembangkan komoditas-komoditas yang berorientasi ekspor, di mana komoditas ini memiliki nilai tambah dan menghasilkan marjin yang cukup signifikan untuk dikembangkan secara masif melalui agroindustri. Selama ini, sektor pertanian kita sangat bergantung pada komoditas perkebunan --sawit, teh, kopi, coklat dan tembakau-- tetapi meninggalkan produk-produk pangan dan hortikultura yang dari sisi harga relatif lebih stabil dan permintaannya tidak elastis terhadap harga, melainkan cenderung terus meningkat secara gradual.

Produksi tanaman pangan dan hortikultura masih belum diminati investor dan lebih banyak dikerjakan secara tradisional. Padahal jika orientasi ekspor yang dikejar, maka produksi sudah barang tentu akan lebih efisien untuk menutup kebutuhan domestik. Ekspor pangan dan hortikultura penting untuk menambal defisit perdagangan pangan, terutama gandum, kedelai, daging, susu, dan lain-lain selain juga menambal defisit ekspor secara keseluruhan.

Dalam pengembangan agroindustri negara perlu menyediakan insentif yang memadai, tetapi tidak harus melalui pemberian konsensi besar-besaran, melainkan dapat diintegrasikan dengan program reforma agraria yang memanfaatkan lahan tidur untuk dikelola masyarakat secara kolektif. Apa yang dilakukan FELDA di Malaysia patut dijadikan rujukan.

Track kedua, untuk memperbaiki kesejahteraan petani satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah dengan mendorong integrated farming, menyatukan aktivitas pertanian untuk saling memenuhi kebutuhannya sendiri. Setidaknya dengan penerapan ini secara kolektif dapat menurunkan cost sektor pertanian sehingga marjin yang didapatkan meningkat secara bertahap. Pemanfaatan sisa-sisa pertanian untuk aktivitas produktif bisa dilakukan dengan inisiatif kolektif yang difasilitasi pemerintah untuk menghubungkan antarpelaku usaha --petani-peternak-petambak-- atau dalam skala middle melibatkan perusahaan-perusahaan di sektor tersebut yang akan resiprokal dalam memenuhi kebutuhannya.

Dalam konteks sinergi sektor pertanian, negara setidaknya perlu menjamin perlindungan paten untuk hasil rekayasa genetik baik untuk benih, pengendali hama, inovasi pupuk, dan lain-lain, tetapi secara afirmatif memberikan ruang bagi petani untuk terlibat dalam konservasi pengetahuan lokal. PR negara berikutnya adalah perbaikan irigasi, konservasi air berbasis hulu-hilir, pengendalian banjir, rekayasa iklim mikro, pengendalian hama dengan rescue team yang berkolaborasi dengan laboratorium tepat guna baik di perguruan tinggi maupun industri.

Double track sektor pertanian perlu dikelola agar tidak saling kontraproduktif sebaliknya harus mampu mempersempit kesenjangannya dengan kolaborasi, di mana petani tradisional dapat direorganisasi dalam kelompok yang berbasis produksi "bukan penerima bantuan semata". Di sinilah peran lembaga keuangan yang makin inklusif diperlukan, setidaknya untuk memberikan instrumentasi permodalan dan penjaminan asuransi untuk mengelola risiko gagal panen melalui skema koperasi.

Koperasi ini pula yang nantinya dapat dikembangkan untuk menjadi supplier bagi industri olahan pangan. Jika dengan skenario ini,pertanian dapat tumbuh di atas PDB setidaknya 5-6%, maka akan memperbaiki daya beli secara signifikan dan sekaligus memberikan insentif bagi sektor industri untuk tumbuh lebih baik. Inilah PR nyata Kabinet Kerja Jilid II (Kabinet Indonesia Maju) untuk terus melaju di tengah badai resesi global.

Hafidz Arfandi peneliti ekonomi di Institute Harkat Negeri


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com