Kolom

Pemuda dan Puja-Puji di Era Disrupsi

Fathul Qorib - detikNews
Selasa, 29 Okt 2019 12:34 WIB
Ilustrasi: detikcom
Jakarta -

Berbicara tentang pemuda dan prestasinya di tingkat dunia, kita cenderung akan pesimis. Layaknya berbicara tentang pendidikan, olahraga, kreativitas, dan teknologi, kesemuanya membuat pandangan langsung menunduk. Padahal dalam sedetik kita searching di mesin pencari di internet akan ditemukan banyak prestasi mengesankan yang diraih oleh pemuda Indonesia dari tahun ke tahun.

Belum lagi 23 pemuda Indonesia yang masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia pada 2019 yang sukses membangun ekonomi digital, atau pahlawan olahraga yang mengharumkan bangsa selama Asian Games 2018. Masih banyak alasan agar kita membanggakan pemuda Indonesia dengan prestasinya yang luar biasa. Bahkan jika kita memasukkan Nadiem Makariem dan Ahmad Zaki sebagai pemuda, maka betapa spektakulernya pemuda Indonesia.

Banyak orang mengharapkan masa depan Indonesia gemilang karena surplus demografi yang akan diterima Indonesia pada 2030-2040 mendatang. Hampir 64 persen warga negara ini akan berusia produktif --sebagian besar pemuda-- sehingga menjadi sumber tenaga dan pemikiran yang mumpuni untuk membawa bangsa ini ke panggung dunia. Pertanyaannya sekarang, apakah pemuda sudah setangguh itu untuk diserahi tanggung jawab yang berat ini?

Jika melihat fakta prestasi pemuda boleh jadi optimisme masih kuat terpegang. Secara akademis, banyak siswa berprestasi dalam kompetisi science, musik, dan olahraga. Di bidang teknis banyak pemuda Indonesia yang berhasil mengembangkan keilmuannya di bidang big data dan analisisnya. Mereka menguasai berbagai pengetahuan yang dapat diandalkan di masa depan. Meskipun jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju tidak ada pemuda berusia di bawah 30 tahun, itu bukan alasan kualitas pemuda Indonesia buruk.

Sebabnya, menteri adalah jabatan yang riskan karena berhubungan dengan birokrasi dan politik sehingga pemuda minim pengalaman dikhawatirkan mengacaukan sistem. Karena itu pemuda harus belajar di luar jalur-jalur mainstream agar kreativitas, mental kritis, serta jiwa kolaboratifnya terasah. Saat prestasinya sudah teruji, maka boleh bagi pemuda berbangga menjadi menteri sebagaimana Nadiem dan Wishnutama.

Masa Depan

Menjadi pemuda di masa sekarang tidak cukup dengan mengandalkan otot untuk berbuat banyak bagi dunia. Otot mungkin berguna bagi pemuda ketika agrikultur dan revolusi industri 2.0 masih mendominasi angkatan kerja Indonesia. Zaman berubah; otot sudah digantikan dengan otak yang bisa mengubah setiap peluang menjadi keuntungan. Tidak perlu membuat produk sendiri untuk bisa berjualan barang dan jasa.

Sekarang, otot dan otak sebagai modal utama pemuda tersebut harus digabung-hubungkan dengan kreativitas menciptakan peluang serta keluwesan dalam menjalin kerja sama yang saling mendapatkan manfaat. Nama zaman ini adalah industri 4.0 yang merupakan masa ketikaa teknologi informasi dan komunikasi mengendalikan segalanya. Ilmu pengetahuan sekarang bergerak menuju ke kolaborasi antarsektor, bukan lagi kompetisi.

Karena itu semua kerja-kerja menuju perubahan harus ditata ulang agar bisa tetap berpartisipasi. Perusahaan sebesar apapun pada akhirnya akan collaps jika enggan memanfaatkan era disrupsi ini. Sebagaimana media massa yang berhenti cetak jika tidak beralih ke konvergensi, maka seperti itulah sebuah pendidikan, kebudayaan, olahraga, science, dan sosial harus mempertimbangkan disrupsi segala bidang.

Pemuda masa depan adalah pemuda yang sadar pola-pola pendidikan di zamannya dihubungkan dengan karakteristik industri. Ketika masa masih fase industri 3.0, sebuah perusahaan mencukupkan diri dengan otomatisasi mesin-mesin produksi. Lembaga pendidikan mengajarkan pengetahuan menggunakan teknologi semata untuk memudahkan proses pembelajaran. Penguasaan terhadap teknologi penting, tetapi memahami, memodifikasi, dan mengarahkan pesan jauh lebih penting di era industri 4.0.

Maka di revolusi industri 4.0 ini pendidikan harus memanfaatkan internet of things (IoT), artificial intteligent (AI), cloud computing, dan virtual reality (CR) untuk setiap pembelajarannya. Pemuda sebagai pemilik zaman harus menguasai berbagai pengetahuan baru yang berhubungan dengan internet, data, dan algoritma yang tidak seberapa penting di masa 10 tahun lalu, tetapi menjadi penentu umat manusia di lima sampai sepuluh tahun mendatang.

Karena itu, ketika Nadiem Makarim dipilih Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, satu hal yang diinginkannya adalah link and match dunia pendidikan dan dunia industri. Jokowi tampaknya memahami dampak industri 4.0 yang sekarang masih susah payah dibangun dalam sistem pendidikan Indonesia. Nadiem tentu memiliki tugas berat untuk mewujudkannya.

Momen peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-91 ini menggarisbawahi, sebenarnya tanggung jawab besar ada pada pundak pemuda. Selama ini pemuda dipuja-puji sebagai generasi emas yang bisa mengangkat martabat Indonesia, memperbaiki kualitas pendidikan, serta menjadi sumber daya manusia yang unggul. Pemuda harus membantu tugas kementerian dalam mencapai padunya pendidikan dengan industri.

Pemuda yang berusia 16-30 tahun sebagaimana UU No 40 Tahun 2009 sebagian besar masih sekolah dan kuliah di perguruan tinggi. Tanggung jawabnya adalah mempelajari dengan sungguh-sungguh pengetahuan yang bisa diterapkan di masa disrupsi mendatang. Perguruan tinggi yang menaungi sebagian besar pemuda harus menyediakan pembelajaran yang bukan hanya mengakomodasi akademisi mahasiswa, tetapi juga soft skill mereka.

Dengan kolaborasi antarsektor yang saat ini gencar dilakukan beberapa start-up buatan pemuda Indonesia, maka optimisme terhadap pemuda di masa depan akan semakin besar. Tantangannya tidak sederhana, tetapi pemuda selalu bisa menemukan solusi yang bisa merevolusi cara bekerjanya agar tetap dapat berkontribusi aktif dalam perkembangan dunia.

Fathul Qorib Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, aktif dalam pengembangan literasi generasi muda di Malang Raya



(mmu/mmu)