detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 17 Oktober 2019, 13:30 WIB

Kolom

Menggunakan "Gadget" untuk Bekerja

Yeri Lando - detikNews
Menggunakan Gadget untuk Bekerja Foto: iStock
Jakarta -
Akhir-akhir ini banyak orangtua cemas melihat anak mereka asyik main gawai berjam-jam. Membuat batasan durasi waktu merupakan cara yang biasanya diterapkan agar anak tidak kecanduan gadget. Sebenarnya cukup beralasan jika orangtua membuat batasan penggunaan gadget seperti itu karena kebanyakan masyarakat termasuk anak-anak masih memanfaatkan gadget hanya untuk bermain ketimbang membuat sesuatu yang kreatif.

Selama ini masyarakat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen teknologi dan belum menjadi inovator atau pencipta. Tetapi, sangat disayangkan yang sering kita temui justru banyak anak dan orangtua sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menggunakan gawai secara benar. Salah satunya melalui aplikasi-aplikasi pemrograman yang memungkinkan anak merancang sebuah perangkat lunak sederhana.

Mereka akan kecanduan (gawai), tetapi dengan perspektif yang baru, yaitu produktif menciptakan sesuatu. Hal yang perlu kita lakukan di sini adalah mengubah pola pikir anak-anak yang sebelumnya adalah pengguna aplikasi menjadi pencipta aplikasi. Perubahan pola pikir menjadi langkah awal dalam menyambut Revolusi 4.0.

Mengubah Pola Pikir

Melalui perubahan pola pikir, anak-anak pada akhirnya akan mencoba mencari aktivitas lain selain bermain gadget karena mereka menggunakan gadget untuk bekerja. Penggunaan gadget untuk bekerja akan membawa sikap bosan pada anak jika gadget juga dipakai untuk bermain. Oleh karena itu, menyambut Revolusi 4.0 yang didengungkan oleh Presiden Jokowi dapat dijawab dengan langkah pertama mengubah pola pikir anak yang sebelumnya hanya pengguna aplikasi dan program-program yang ada di gadget dan komputer menjadi pencipta aplikasi dan program.

Dengan menciptakan aplikasi dan program baru, anak menemukan bahwa gadget juga mampu menciptakan sesuatu. Selain itu, pengenalan gadget kepada anak-anak sangatlah penting mengingat kebanyakan pekerjaan pada zaman sekarang dengan penghasilan layak selalu bersinggungan dengan penggunaan teknologi tinggi. Oleh karena itu, tidak dianjurkan jika sikap orangtua melarang penggunaan gadget untuk anak-anak. Hal itu justru menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat mengikuti perkembangan zaman dan sulit untuk bersaing dengan negara-negara lain.

Melarang penggunaan gadget akan mengurangi improvisasi mereka dalam menciptakan sesuatu. Keberhasilan negara-negara maju menguasai pasar dunia karena mereka mampu menguasai teknologi mutakhir. Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan start-up juga tumbuh menjamur di negara-negara maju. Oleh karena itu, tidak salah jika kita memulai mengenalkan gadget kepada anak-anak asalkan kita mampu mengarahkan mereka untuk menggunakannya secara positif.

Menciptakan aplikasi-aplikasi baru yang mampu bersaing di pasar internasional adalah langkah yang harus segera kita lakukan. Kita perlu membangun start-up-start-up terbaru yang mampu bersaing di pasar internasional. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja sama semua pihak baik pemerintah, sekolah, maupun orangtua agar bahu-membahu menjawab tantangan zaman. Zaman sekarang adalah zaman berbasis teknologi. Karena itu, metode pembelajaran siswa juga sebaiknya berbasis teknologi.

Orangtua kerap berilusi bisa mengontrol dan membatasi ruang gerak anak. Orangtua merasa bahwa dengan membangun pagar anak tidak akan melompatinya. Padahal kebanyakan anak akan cari jalan lain untuk melompati pagar. Kalau kita bisa mengajarkan anak cerdas memilah mana yang baik dan mana yang tidak, hasilnya akan luar biasa daripada kita hanya membangun pagar. Membangun pagar hanya akan membangkitkan rasa ingin tahu mereka dan keinginan untuk memecahkan masalah.

Beri mereka tantangan dengan menjadikan gadget sebagai sumber pembelajaran. Memberikan mereka pemahaman akan konsekuensi dari semua yang dipilih adalah cara cerdas orangtua dalam menghadapi arus perkembangan zaman. Dunia saat ini telah bergeser ke arah kecepatan teknologi, kreativitas dan inovasi. Lalu pertanyaannya, apakah di masa depan anak-anak sudah siap menghadapinya? Di sinilah cara mendidik orangtua perlu diubah.

Orangtua dan anak harus sama-sama belajar dalam pemanfaatan gadget karena kedua belah pihak tidak ada satu pun yang memiliki pengalaman hidup di era digital. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Presiden Jokowi kesulitan membawa Indonesia bersaing di dunia internasional karena saat ini Indonesia masih kekurangan programmer. Padahal programmer sangat dibutuhkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

Kesulitan itu coba diatasi oleh Kemendikbud dengan memperkenalkan mata pelajaran Informatika ke sekolah-sekolah. Harapannya di masa depan anak Indonesia mampu bersaing dengan anak-anak dari negara lain. Mata pelajaran Informatika adalah langkah praktis dalam menjawab tantangan pendidikan zaman sekarang. Di saat Indonesia sedang berjuang menyambut Revolusi 4.0, negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan sudah di Revolusi 5.0. Tingkat perkembangan teknologi mereka jauh lebih cepat dibanding Indonesia. Karena itu, ketakutan penggunaan gadget untuk anak-anak sudah seharusnya mulai ditinggalkan.

Tugas semua orangtua dan juga para guru adalah bagaimana gadget menjadi sumber belajar untuk anak-anak. Revolusi industri keempat tidak bisa kita hindari. Untuk menghadapinya, orangtua dan juga para guru mesti sama-sama belajar. Jika masih menggunakan prinsip kebenaran hanya milik guru dan orangtua, akan membawa anak pada gua kegelapan ilmu pengetahuan. Selain itu, guru juga perlu berinovasi dalam pembelajaran di kelas. Menggunakan sarana teknologi dalam pembelajaran di kelas sudah seharusnya dilakukan oleh semua sekolah. Tujuannya agar anak semakin tertarik untuk belajar dan hal itu sesuai dengan cara belajar mereka yang berbasis teknologi.

Perkembangan teknologi tidak pernah menunggu kita yang terlambat. Sudah saatnya kita berlari kencang mengejar ketertinggalan dari negara lain. Jika tidak ingin menjadi penonton dalam percaturan ekonomi dunia, maka yang harus kita lakukan adalah revolusi pendidikan sejak dini. Anak-anak SD sudah seharusnya mempelajari informatika. Tujuannya agar anak-anak itu tidak gagap dan merasa asing dengan teknologi yang ada. Dengan demikian, Indonesia di pasar internasional bisa menjadi pemain atau bahkan menjadi pemimpin dan bukannya lagi menjadi penonton. Sehingga Revolusi 4.0 yang selalu disampaikan oleh Pak Jokowi dapat diwujudnyatakan.

Yeri Lando peminat isu pendidikan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com