detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 30 September 2019, 10:41 WIB

Kolom Kang Hasan

Telepon Pintar yang Membodohi

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Telepon Pintar yang Membodohi Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Saat ini hampir setiap orang memegang telepon pintar. Dari kota besar hingga ke pelosok negeri, bahkan di tengah hutan, orang punya telepon pintar. Informasi bebas mengalir, sulit dikendalikan. Setiap orang punya pesawat koran, radio, sekaligus TV di tangannya.

Masalahnya, sumber informasi yang mengalir ke telepon pintar tidak lagi terkendali seperti pada koran, radio, dan TV. Kini setiap orang bisa berfungsi sebagai sumber informasi sebagaimana dewan redaksi koran, radio, dan TV tanpa dikenai beban tanggung jawab. Penerima informasi harus sanggup menyaring sendiri informasi yang ia terima. Tapi masalahnya, sangat sedikit dari pengguna telepon genggam yang sanggup melakukan itu.

Sepotong tulisan, sebuah gambar, atau sepotong video yang diberi narasi tertentu bisa dengan mudah dipakai untuk membangun persepsi orang. Sekali persepsi itu terbentuk, sangat sulit untuk menghapusnya. Gambar dan video khususnya, bisa membangun persepsi yang sangat kuat, meski hanya sepotong. Ketidaktahuan, imajinasi, dan kepercayaan seseorang akan membuat yang sepotong tadi menjadi bermakna jauh lebih luas.

Kemarin saya melihat sepotong video yang dibagikan oleh seorang teman di media sosial. Isinya tentang polisi yang sedang dianiaya, tergeletak tak berdaya, sepertinya sudah meninggal. Tanpa narasi apapun video itu bisa berbicara panjang di ruang imajinasi manusia. Dengan latar belakang informasi lain, bahwa saat ini sedang terjadi kerusuhan di Wamena, orang bisa dengan mudah membuat kesimpulan bahwa video itu adalah kejadian di Wamena saat ini.

Kenyataannya, menurut sebuah keterangan yang saya dapat kemudian, video itu adalah kejadian tahun 2006, bukan kejadian sekarang. Bila ditambahkan narasi, maka sesuatu yang sebenarnya tak membuktikan narasi pun bisa membuat orang percaya isi narasi tersebut.

Sebuah video tentang polisi yang menganiaya pasien di rumah sakit beredar luas. Video itu diberi narasi bahwa polisi menganiaya demonstran. Banyak orang percaya bahwa itu terjadi di sini, sekarang. Padahal bukan. Itu kejadian di negara lain.

Sama halnya dengan video yang beredar minggu lalu tentang ambulans pengangkut batu. Video itu menyorot sejumlah mobil ambulans yang sedang diperiksa, dan ada narasi bahwa ambulans-ambulans itu adalah kendaraan yang dipakai untuk mengangkut batu. Belakangan ada keterangan dari kepolisian bahwa narasi itu tidak benar. Tapi bantahan resmi polisi itu tetap tidak mengubah kesimpulan banyak orang, bahwa ambulans-ambulans itu mengangkut batu yang dipasok untuk para demonstran.

Kenapa bisa begitu? Manusia pada dasarnya malas berpikir. Psikolog yang memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman menerangkan bahwa manusia punya dua mekanisme berpikir, yaitu cepat dan lambat. Otak manusia cenderung memilih mekanisme berpikir cepat. Berpikir cepat menggunakan hanya sedikit energi, sedangkan berpikir lambat menguras banyak energi.

Akibatnya, manusia cenderung segera membuat kesimpulan-kesimpulan yang isinya berupa perluasan atas informasi yang dia terima. Misalnya, melihat video polisi sedang dianiaya oleh sejumlah orang berpostur mirip orang Papua, seseorang langsung menyimpulkan bahwa itu adalah kejadian di Wamena sekarang. Otak hanya dipasok dengan satu informasi, yaitu gambar tadi, ditambah dengan informasi latar, bahwa di Wamena sekarang sedang terjadi kerusuhan.

Proses berpikir cepat menghubungkan keduanya, membangun sebuah kesimpulan bahwa polisi-polisi itu sedang dianiaya di Wamena, sekarang. Padahal bukan.

Pada video ambulans pengangkut batu tadi, ditunjukkan ambulans yang sedang diperiksa, dengan narasi ambulans itu mengangkut batu. Informasi latarnya adalah kejadian pada Mei lalu, ketika ambulans sebuah partai juga dikabarkan dipakai untuk mengangkut batu untuk demonstran. Dengan narasi dan informasi latar tadi, orang akan segera menyimpulkan bahwa ambulans tadi dipakai mengangkut batu.

Tidak ada orang yang bisa bebas dari bias berpikir seperti itu. Bias dialami oleh siapa saja, tak peduli dia pintar atau bodoh. Bias adalah mekanisme otak. Untuk melawan dan mengoreksinya diperlukan energi besar. Karena mekanisme ini, sangat mudah untuk menggiring orang pada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Menggiring opini jadi pekerjaan yang jauh lebih mudah.

Yang sedang terjadi adalah, ada sekelompok orang yang berperan sebagai produsen informasi, untuk menggiring opini publik. Mereka memproduksi tulisan, suara, gambar, dan video untuk menggiring orang kepada suatu kesimpulan tertentu. Di sisi lain, ada orang-orang yang disuguhi informasi, dan mengikuti kesimpulan tadi.

Tapi bukankah tak semua orang yang melihat jadi percaya? Itu bukan masalah. Penggiringan opini memang tidak mengharuskan semua orang percaya. Mereka hanya perlu membuat sebagian orang, dengan jumlah atau persentase tertentu, percaya. Itu sudah cukup.

Zaman dulu Noam Chomsky membeberkan bagaimana media-media besar di Amerika bekerja sistematis untuk membangun opini masyarakat, sesuai keinginan mereka. Kini semua itu jadi lebih mudah dilakukan, dengan adanya telepon pintar.

Konsep telepon pintar adalah user friendly, alias memanjakan penggunanya. Semua yang user friendly begitu adanya. Dulu dengan DOS hanya orang tertentu, yang umumnya orang pintar, yang bisa memakai komputer. Kini dengan Windows semua orang bisa memakai komputer. Telepon pintar adalah lanjutan dari konsep itu. Sebagian besar pengguna tak perlu pusing dengan berbagai hal rumit, karena sudah dipermudah oleh pembuatnya.

Banyak orang tidak sadar bahwa memegang telepon pintar dalam hal tertentu bermakna seperti terhubung dengan sebuah sistem terkendali. Yang mengendalikan adalah pihak lain. Kendali dalam hal ini tidak semata-mata soal pembentukan opini politik seperti yang dibahas dalam contoh-contoh di atas. Penggunaannya sangat luas, khususnya di bidang pemasaran.

Tanpa disadari berbagai pesan bekerja menyentuh alam bawah sadar orang, memandu mereka untuk membuat keputusan, mau beli apa, mau makan apa, menginap di mana, memilih siapa dalam pemilu, dan seterusnya. Yang menerima pesan banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang dipengaruhi.

Telepon pintar bekerja dengan cara yang sangat pintar. Dalam banyak kasus, penggunanya tetap bodoh, sehingga sangat mudah dibodohi.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com