Kolom

"Gejayan Memanggil": Viral di Media Sosial, Masif di Lapangan

Habib Iman Nurdin Sholeh - detikNews
Selasa, 24 Sep 2019 11:21 WIB
Aksi "Gejayan Memanggil" (Foto: Pradito Rida Pertana)
Jakarta -

Sejak Sabtu (22/9) malam, viralnya postingan-postingan yang berisikan pesan singkat broadcast ajakan aksi damai di Gejayan, Yogyakarta oleh aliansi sekelompok masyarakat yang terdiri dari satuan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat sipil lainnya menggemparkan dunia maya. Trending pembicaraan ini mulai menunjukkan angka yang meningkat pada Minggu (23/9) dini hari. Berkat adanya fitur saling berbagi di media sosial, gerakan #GejayanMemanggil menjadi the first trending in social media.

Tak hanya itu, gerakan #GejayanMemanggil juga telah disorot oleh banyak pihak karena ajakan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi di ruang publik secara terbuka digelar Senin (23/9) oleh ratusan mahasiswa, pelajar, dam kelompok masyarakat lainnya.

Dalam narasi kajiannya, gerakan #GejayanMemanggil ini terinspirasi dari gerakan-gerakan yang dilakukan untuk meruntuhkan rezim kemiliteran Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Landasan perjuangan dalam membuka gerbang reformasi saat itu ditandai dengan berbagai persoalan bangsa, terutama dalam hal kemanusiaan dan ketidakadilan, yang terdiri dari tingginya angka kemiskinan dan ketimpangan, ketidakpastian hukum, penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga, serta tingginya tingkat pengangguran. Melalui deretan persoalan inilah, setidaknya ada enam tuntutan agenda reformasi pada 21 tahun silam. Yakni 1) adili Soeharto dan kroninya; 2) amandemen UUD 1945; 3) penghapusan dwi fungsi ABRI; 4) hapuskan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN); 5) pelaksanaan otonomi daerah seluas-luasnya; dan 6) supremasi hukum.

Memori perjuangan dalam meruntuhkan rezim Orde Baru tersebut menggugah pikiran dan nurani untuk melakukan refleksi bersama atas berbagai persoalan kebangsaan selama ini. Terutama, peristiwa-peristiwa politik seperti upaya pelemahan KPK secara terstruktur yang mengerucut pada kejanggalan pemilihan pimpinan dan pengesahan RUU KPK yang baru. Selain itu isu supremasi hukum seperti disahkannya pasal-pasal karet tentang makar dan kehormatan presiden yang mengebiri demokrasi, serta beberapa pasal yang mengatur ranah privat masyarakat dalam rencana pengesahan RKUHP oleh DPR.

Ditambah lagi, hadirnya Undang-Undang Pertahanan dan UU Ketenagakerjaan yang terkesan mendadak seolah terkesan menjadi formalitas sesaat para anggota DPR dalam melakukan tugas legislasi. Tentu bukan tanpa masalah, hadirnya UU tersebut justru dianggap sebagai gaya penjajahan terbaru kepada rakyat dengan wajah yang lain. Selain itu, isu-isu ekologi seperti kebakaran hutan dan tambang, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual juga menjadi kajian yang tidak kalah urgen.

Memori Perjuangan

Dalam sejarah pergerakan mahasiswa, Gejayan adalah memori perjuangan aktivis mahasiswa yang berada di wilayah Yogyakarta dan berasal dari berbagai kampus di daerah itu. Memori perjuangan Gejayan merupakan peristiwa sejarah yang berdarah. Bermula dari aksi damai yang digelar pada 8 Mei 1998 oleh mahasiswa di beberapa kampus, seperti di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) Yogyakarta, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Kemudian, tidak kurang dari 5000 mahasiswa UGM melakukan aksinya di bundaran Kampus UGM. Mereka menyampaikan keprihatinan atas kondisi perekonomian yang dilanda krisis moneter pada saat itu, melakukan protes atas harga-harga bahan pokok yang melambung tinggi serta menuntut dilakukannya reformasi.

Aksi demi aksi juga dilakukan di Kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Kampus IKIP Yogyakarta yang tempatnya berseberangan. Para pengunjuk rasa melakukan protes terhadap sikap represif dari aparat yang terjadi pada 5 Mei 1998. Pada saat menjelang sore mereka ingin bergegas menuju UGM, dengan maksud bergabung dengan kelompok demonstran lainnya. Namun keinginan mereka terhalang oleh pihak aparat keamanan dengan dalih keamanan. Hingga akhirnya, bentrokan pun tidak dapat dihindarkan. Konfrontasi antara para mahasiswa dengan aparat keamanan berlangsung sekitar pukul 17.00. Pembubaran paksa dilakukan dengan penyerbuan dan menyemprotkan gas air mata terhadap para demonstran.

Bergabungnya kelompok masyarakat sipil ke dalam barisan demonstran para mahasiswa menjadi kekuatan tambahan untuk mengimbangi sikap represif aparat. Para demonstran membalas serbuan dan semprotan gas air mata dengan lemparan batu. Aparat melakukan tindakan represif dengan memukul setiap orang yang berada di tempat tersebut, termasuk para pedagang kaki lima. Aksi pengejaran pihak aparat terhadap para mahasiswa juga terjadi hingga memasuki kompleks Kampus Santa Dharma dan UNY. Ketegangan ini berlangsung hingga malam hari. Bahkan sekitar pukul 22.00 kondisi semakin mencekam.

Letupan suara tembakan secara bertubi-tubi menjadikan wilayah sekitar menjadi mencekam. Bahkan sampai dini hari, aparat keamanan berupaya untuk terus menerus melakukan pembubaran paksa dengan menembakkan water canon hingga akhirnya para demonstran berupaya untuk membakar sebuah kendaraan yang menyemprotkan water canon tersebut. Namun upaya itu gagal. Api hanya menyala beberapa saat, kemudian berhasil dipadamkan.

Memori huru-hara aksi massa Gejayan 1998 semakin kuat dalam ingatan saat seorang mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA Universitas Sanata Dharma yang bernama Moses Gatotkaca gugur pada Jumat 8 Mei 1998. Ia ditemukan dalam keadaan sekarat oleh beberapa relawan Posko PMI Universitas Santa Dharma setelah aparat melakukan penyusuran di wilayah bentrokan sekitar Hotel Radisson. Sebagaimana Yun Hap yang terbunuh dalam peristiwa Tragedi Semanggi II, demikian juga empat rekan lainnya dalam tragedi Universitas Trisakti, yaitu Elang Mulya Lesmana, Hendrawan Sie, Heri Hertanto, dan Hafidin Royan. Mereka tertembak di dalam kampus dengan peluru-peluru tajam bersarang di objek-objek vital tubuh seperti leher, dada, dan kepala.

Mendongkrak Opini

Setiap aksi gerakan massa tentu selalu mendongkrak opini yang tidak tunggal. Setiap orang memiliki subyektivitas dan kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam merespons setiap peristiwa. Tergantung pada kemampuannya dalam menafsirkan realitas, dan referensi sosial politik yang dimiliki. Ada yang beranggapan bahwa aksi #GejayanMemanggil diinfiltrasi oleh kepentingan pihak oposisi politik Istana, ada pula yang mengaitkannya dengan upaya kelompok tertentu yang disinyalir anti-Pancasila, radikal, yang menentang NKRI dengan berupaya menitipkan isu khilafah pada aksi damai tersebut.

Terlepas dari semua itu, jika memperhatikan analisis percakapan media sosial Drone Emprit menunjukkan bahwa #GejayanMemanggil menjadi tren percakapan di media sosial, bahkan semakin meningkat volumenya setiap waktu. Walaupun sempat bersaing dengan tagar "MahasiswaBergerak", namun pola percakapan, konstruk narasi-narasi yang di-posting tidak jauh berbeda dengan #MahasiswaBergerak, bahkan akan cenderung melambung beriringan dengan aksi massa yang berlangsung pada Senin (23/9).

Dari hasil analisis percakapan media sosial Drone Emprit menunjukkan bahwa gerakan #GejayanMemanggil menampilkan satu cluster. Bahkan yang menarik bahwa akun-akun yang memviralkan tagar ini justru bukan akun yang selama ini menjadi polarisasi dalam kontestasi politik, yaitu akun pro dan akun kontra politik. Dalam peta media sosial saat ini, gerakan tagar "GejayanMemanggil" dimotori oleh energi baru.

Dalam postingan-postingan akun Twitter Ismail Fahmi yang merupakan founder dari Drone Emprit diungkapkan bahwa akun-akun yang menggelorakan dan menjadi penggerak tagar "GejayanaMemanggil" merupakan akun-akun buku yang merupakan top influencer seperti @JDAgraria, @panjipnjk @EA_Books, @MahasiswaYUJIEM, @obedkresna. Ismail Fahmi melanjutkan dalam postingannya bahwa meski aksinya terjadi di Yogyakarta, namun percakapan gerakan ini meluas secara nasional. Bahkan menurut Peta Drone Emprit, percakapan gerakan ini diperbincangkan dari Aceh sampai Papua. Sedangkan sisi motor gerakannya berada di daerah Yogyakarta, Sleman, Jakarta, Surabaya, dan Bandung

Selain itu, jika diperhatikan secara saksama, narasi-narasi kajian sampai tuntutan yang digaungkan dalam aksi damai #GejayanMemanggil tidak ada satu pun yang menyerempet pada narasi politik oposisi ataupun narasi khilafah. Sebagaimana disinggung di awal, isu-isu yang digelorakan adalah isu-isu tentang keadilan, kemanusiaan, dan isu ekologi. Jika membaca butir per-butir pernyataan sikap pada press release Aliansi Bergerak yang juga merupakan penggerak aksi #GejayanMemanggil, setidaknya ada tujuh poin yang mereka nyatakan.

Poin-poin tersebut adalah 1) mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP; 2) mendesak pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia; 3) menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia; 4) menolak pasal-pasal bermasalah yang tidak berpihak pada pekerja; 5) menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertahanan yang merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria; 6) mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual; 7) mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Mengaktifkan Kesadaran

Gerakan #GejayanMemanggil ataupun #MahasiswaBergerak mengaktifkan kesadaran nalar kolektif untuk bisa semampu mungkin melakukan pembacaan-pembacaan realitas sosial-politik dan aspek-aspek kebangsaan lainnya, yang ditindaklanjuti dengan melakukan kajian-kajian akademis. Hal ini dapat mengaktifkan kembali tradisi mimbar akademik, diskusi publik, dan kegiatan literasi lainnya yang di beberapa kampus yang barangkali sudah luntur. Selain karena pergeseran budaya kritis kaum pelajar yang cenderung mengalami degradasi, keadaan kampus yang cenderung oligarki dan feodal serta kuatnya pengaruh senioritas di masing-masing kampus turut membentuk pola pikir dan gerakan kaum terpelajar.

Tidak sedikit kaum terpelajar yang memiliki api semangat membara, namun dengan kekuatan literasi yang minim, membuatnya mudah menjadi aktivis kutu loncat. Terkadang di satu sisi memiliki semangat nalar kebangsaan yang kuat, namun juga terkadang terjebak pada perspektif tunggal tentang suatu hal menurut kelompok tertentu dan fanatisme tokoh figur. Seakan kebenaran hanya ada pada figur dan kelompok yang disenanginya, akhirnya terbawa pada paham yang eksklusif, terlebih fanatisme itu pada identitas keagamaan.

Aktifnya tradisi literasi, gerakan terpelajar akan mampu mempertahankan konsistensi gerakannya dengan tidak mudah terjebak pada infiltrasi penumpang gelap yang hendak mencederai idealisme gerakan atau bahkan mencelupkan pada polarisasi politik yang selama ini ada. Secara personal, dengan kuatnya literasi membuat orang menjadi selektif untuk memilah dan memilih wacana-wacana gerakan yang berkembang saat ini. Dengan kuatnya literasi, bisa membedakan mana kawan mana lawan; mana isu strategis dan mana isu politis; mana isu privat dan kolektif; mana isu yang menggiring pada fanatisme aliran, mana isu yang inklusif. Kekuatan literasi juga bisa menjadi penguat gerakan untuk tidak mudah goyah dan pecah dengan tawaran-tawaran gerakan lain yang mengkamuflase.

Bahkan dengan kuatnya tradisi literasi justru bisa menjadi jawaban atas sikap skeptis dan rendahnya kepercayaan publik pada gerakan-gerakan masa selama ini, karena dianggap telah hilang dari inti perjuangan dan telah banyak disalahgunakan, sehingga muncul gerakan-gerakan masa bayaran, pasukan nasi bungkus, dan lain sebagainya. Ada pula gerakan massa yang memiliki tujuan mulia, namun terjebak pada afiliasi politik tertentu sehingga dengan mudah dimanfaatkan untuk kemenangan politik tertentu, bahkan terkonversi menjadi organisasi sayap gerakan politik. Jika sudah terjebak dan terjerembab pada lingkaran polarisasi politik seperti itu, maka isu-isu keadilan, kemanusiaan, lingkungan, dan sebagainya menjadi tenggelam tidak ada yang memperjuangkan bahkan hanya menjadi komoditas politik saat melakukan marketing politik.

Habib Iman Nurdin Sholeh mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung

(mmu/mmu)