detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 05 September 2019, 11:25 WIB

Kolom

Musim Panas yang Dingin

Munadhil Muqsith - detikNews
Musim Panas yang Dingin Foto: DW (SoftNews)
Jakarta -

Bagi penduduk asli Rusia musim panas (summer) adalah musim liburan. Buat anak sekolahan dan siswa perguruan tinggi menjadi liburan panjang tahunan. Sering untuk menghabiskan liburan pulang ke kampung halaman atau berjemur di pantai dan tepian sungai. Selain itu, ada kebiasaan juga singgah di dacha (rumah musim panas) sampai dekat waktu masuk sekolah sebelum awal September.

Tahun ini, musim panas yang aneh. Setidaknya, itulah yang saya rasakan di Moskow pada Juni-Agustus 2019 ini. Summer tahun ini temperaturnya berkisar antara 11-22 derajat Celsius, padahal seharusnya suhu normal summer berkisar antara 22-32 derajat C. Tahun ini adalah musim panas yang kholodna atau dingin buat saya!

Keanehan

Bulan Juni biasanya menjadi penanda awal musim summer. Sesuatu yang sangat dinanti-nantikan penduduk asli dan juga saya sendiri. Euforia kedatangan musim panas sangat terasa di sini. Penduduk mulai mengekspresikan diri dengan pakaian warna-warna cerah sebagai bentuk kegembiraan menyambut summer. Hampir enam bulan mereka memakai pakaian berlapis karena musim dingin panjang.

Keanehan musim panas di Rusia saya rasakan bermula ketika cuaca akhir Juni turun sampai 11 derajat C. Keadaan ini terus berlanjut hingga akhir Agustus. Bahkan pertengahan bulan, setelah acara "Agustusan" di KBRI, saya sudah melihat daun-daun kuning berguguran. Hal itu biasanya sebagai penanda akan memasuki musim gugur.

Saya melalui liburan musim panas tahun ini dengan tetap memakai pakaian berlapis. Udara dingin yang menusuk badan, ditambah angin kencang dan hujan, kami lalui musim panas tahun ini. Selain itu, biasanya alat pemanas ruangan pada musim dingin selalu hidup, kali ini tidak hidup karena di apartemen kami alat pemanas dihidupkan terpusat. Terpaksa juga kami tidur dengan selimut tebal karena udara malam yang dingin yang menusuk.

Menanti Bencana?

Anomali cuaca di Rusia tampaknya cukup mengejutkan banyak orang, termasuk para ilmuwan. Kepala Spesialis Meteoburo Moskow Tatyana Poznyakova mengatakan, perubahan cuaca berkaitan dengan perubahan era iklim di dunia. Menurutnya, jika pada biasanya di Eropa Barat maupun Timur cuaca stabil, saat ini di benua Eropa memasuki proses meridional, di mana iklim cuaca lebih bervariasi.

Fenomena anomali cuaca ini diprediksi ilmuwan bisa terjadi karena dua faktor. Pertama, bisa jadi faktor alami; kedua, buatan manusia. Andrei Kiselev, penulis buku Climate Paradoxes mengatakan bahwa saat ini dunia sedang menanti bencana yang akan timbul terus di masa depan akibat anomali perubahan iklim. Perubahan iklim antropogenik atau pemanasan global yang masih terus diperdebatkan ilmuwan bisa jadi sedang terjadi. Manusia sebagai sumber masalah dari perubahan iklim bukan tidak mungkin dinafikan. Bisa jadi kita sedang menuju era kekeringan, cuaca ekstrem, badai, dan kemalangan. Walaupun, menurut dia, ada sebagian terjadi juga secara alami.

Kawasan Eropa Barat saja, musim panas ekstrem, suhu hingga mencapai 40 derajat C. Badan klimatologi Jerman mengatakan, tahun ini merupakan panas yang terpanas Eropa sejak tahun 1500 yang terjadi pada abad ke-21. Beberapa negara seperti Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal mengalami dampak itu. Apakah negara Timur Eropa seperti Rusia juga terkena dampak perubahan iklim karena faktor antropogenik? Ini yang masih terus selidiki, namun temuan ilmuwan di dunia sudah mengarah sampai di situ.

Harus Serius

Perilaku negatif manusia yang berdampak mempengaruhi iklim adalah efek rumah kaca. Meningkatnya CO2 atau karbon dioksida secara signifikan akibat pembakaran kayu atau deforestasi seperti yang terjadi di Hutan Amazon baru-baru ini, dan pembakaran bahan bakar minyak bumi menyebabkan meningkatnya unsur metana di atmosfer bumi. Hal ini yang menyebabkan meningkatnya radiasi matahari yang datang ke bumi.

Pimpinan di seluruh dunia harus serius memerangi perubahan iklim di dunia, termasuk Rusia harus segera menyadari perubahan iklim ini. Lebih menyedihkan lagi, Amerika Serikat (AS) yang sampai saat ini belum meratifikasi Protokol Kyoto untuk memerangi efek gas rumah kaca. Sampai berlanjut pada perjanjian Paris pada 2017 sudah ada niatan Presiden Donald Trump merencana untuk ikut memerangi efek rumah kaca.

Namun, hingga kini kesepakatan hanya sebatas kesepakatan dalam dokumen; implementasi masih belum serius mengeksekusinya. Padahal AS --dan China-- berdasarkan penelitian World Resource Institute pada 2016 adalah produsen emisi CO2 terbesar di dunia.

Oleh karena itu, sebelum terlambat, sebaiknya para pemimpin di dunia kembali duduk membicarakan akibat perubahan iklim antropogenik. Dan, serius memerangi dan beralih mengimplementasikan kebijakannya lebih ke arah environmental ethics demi masa depan dunia dan umat manusia ke depannya.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com