Kolom

"Dua Garis Biru", Kehamilan Remaja, dan Kegagapan Kita

Lya Fahmi - detikNews
Jumat, 26 Jul 2019 13:00 WIB
Jakarta - Permasalahan yang diangkat dalam film Dua Garis Biru karya sutradara Gina S Noer yang kini tengah menjadi kontroversi di masyarakat adalah masalah yang kerap saya temui dalam dunia profesi yang saya geluti. Sebagai psikolog yang berpraktik di puskesmas, amat mudah bagi saya menemukan remaja-remaja belasan tahun yang "terpaksa" mengikuti konseling catin (calon pengantin) dan konseling bumil (ibu hamil) di puskesmas.

Isu kehamilan remaja itu nyata dan dekat dengan sekitar kita. Hanya saja, kita sering menganggapnya jauh dan tak akan terjadi pada keluarga kita. Bagaimana pun, Dua Garis Biru mengangkat tema yang sangat jarang dibicarakan secara terbuka. Ketika tema tersebut diangkat ke dalam film, amat menarik mengamati respons-respons penonton yang kebanyakan berusia muda.

Tak dapat ditampik, Dua Garis Biru memang film yang menguras air mata. Tak heran jika sepanjang film terdengar suara srat-srot-srat-srot penonton yang menarik ingusnya. Tapi, bukan berarti film ini disajikan tanpa humor. Pada adegan-adegan tertentu, gedung bioskop riuh dengan tawa penonton. Humor yang ditawarkan oleh Dua Garis Biru memang lucu, tapi jika kita memahami apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga yang berurusan dengan isu kehamilan remaja, humor itu lebih membuat kita ingin menangis daripada tertawa.

Salah satu adegan yang memancing gelak tawa penonton adalah adegan ketika ibunya sang tokoh utama Bima, yang diperankan oleh Cut Mini, histeris memaksa Bima mengaku bahwa ia telah menggunakan narkoba. Tanpa berusaha memahami apa permasalahannya, tanpa memberi Bima kesempatan untuk menjelaskannya, ibu Bima langsung melaporkan Bima telah menggunakan narkoba pada bapaknya yang baru saja bergabung bersama mereka. Adegan ini memang menggelikan dan sangat komikal. Tapi, jika diri kita yang berada dalam posisi Bima, apakah kita masih bisa tertawa?

Frekuensi yang Sama

Berada dalam satu frekuensi yang sama adalah sesuatu yang amat mahal bagi orangtua dan anak remajanya. Tak semua orangtua dan remaja bisa berhasil menumbuhkan empati dan pengertian di antara keduanya. Jika mau jujur, lebih sering orangtua dan remaja saling menahan bara panas, bukan?

Di kehidupan nyata, amat banyak orangtua yang mengalami hambatan dalam beradaptasi dengan perubahan-perubahan anaknya yang memasuki usia remaja. Perubahan-perubahan remaja sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif ketimbang memandang perubahan itu sebagai bagian dari proses perkembangan remaja.

Emosi sering kali terpantik ketika menghadapi perilaku-perilaku remaja yang dianggap menyebalkan. Kemarahan dan pertengkaran antara orangtua dan anak remaja semakin menjauhkan hubungan keduanya. Padahal, tanpa kemarahan pun, remaja secara alami dengan sendirinya menjauhkan diri dari orangtua.

Secara normatif, orangtua memang pelindung dan penanggung jawab bagi anak remajanya. Namun pada kenyataannya, lebih sering kita temui anak remaja yang merasa tidak aman dan tidak nyaman dengan orangtuanya. Seperti halnya Bima yang tidak mampu berterus terang pada orangtuanya tentang apa yang telah terjadi, meskipun sebenarnya ia sangat membutuhkan bantuan agar dapat keluar dari permasalahannya. Bagi saya, adegan Bima yang secara tersirat menjelaskan pada ayahnya bahwa ia telah melakukan kesalahan besar tanpa ayahnya menyadarinya adalah adegan yang membuat perih di ulu hati.

Adegan lain yang membuat para penonton tertawa adalah adegan-adegan yang menggambarkan hubungan antara Bima dan kakaknya, Dewi. Dewi yang masuk ke kamar Bima dengan wajah kusut dan tiba-tiba memukul Bima tanpa aba-aba tak pelak memancing gelak tawa penonton. Alih-alih ikut tertawa, saya justru terpana. Saya kira, jika penonton berada di posisi Dewi, memang hal itulah yang ingin mereka lakukan. Marah sekali rasanya jika kita terseret masalah yang tidak kita perbuat. Mengapa kita harus ikut menanggung masalah yang bukan kita penyebabnya?

Adegan perjumpaan pertama Bima dan Dewi adalah adegan yang paling membuat saya takjub dengan film Dua Garis Biru. Saya mengenal seorang kakak dari remaja yang hamil di luar nikah yang melakukan semua hal persis sama seperti yang dilakukan oleh Dewi pada Bima. Mulai dari kemarahan mengapa adiknya sangat bodoh berhubungan badan tanpa pengaman, dan perasaan sebaiknya sang adik tidak terlahir ke dunia ini agar ia tak perlu ikut menanggung aib keluarga yang memalukan.

Bisa Didiskusikan

Tokoh Dewi menggambarkan secara baik bagaimana isu kehamilan remaja tidak hanya menimbulkan dampak bagi remaja dan orangtuanya, tapi juga berdampak bagi seluruh anggota keluarga. Kemarahan, kekecewaan, dan mungkin penderitaan tidak hanya milik si remaja yang merasa menyesal atau orangtua yang merasa gagal. Ada saudara yang juga merasa sangat marah dan kecewa dan harus berproses mencapai pemaafan. Meski kemarahan Dewi dikemas secara lucu, tapi respons-respons yang ia tunjukkan sangatlah riil. Jika kita yang menjadi Dewi, lagi-lagi rasanya kita tak mungkin tertawa.

Banyak adegan-adegan lain yang berhasil memicu gelak tawa penonton, tapi jika dimaknai lebih dalam sebenarnya peristiwa yang membuat hati terasa diiris-iris. Cukup dua adegan saja yang dikupas agar tak membuat tulisan ini menjadi spoiler. Ada banyak yang bisa didiskusikan oleh orangtua dan remaja setelah menonton film ini.

Respons yang ditunjukkan oleh penonton yang kebanyakan remaja akhir atau dewasa awal mengkonfirmasi apa yang ingin dikemukakan oleh Gina S Noer dalam filmnya, bahwa banyak dari kita yang memang gagap dengan isu seksual, kehamilan remaja, dan hubungan anak remaja dan orangtua. Kita tak membicarakan seks karena itu tabu, tak membicarakan kehamilan remaja karena amit-amit terjadi pada keluarga kita, dan kemarahan anak dapat membuatnya diganjar neraka.

Saya tak bisa tertawa menyaksikan film ini. Bagi saya, tidak ada yang lucu dari film Dua Garis Biru. Dari awal hingga akhir saya hanya menangis, menangis, dan menangis saja.

Lya Fahmi psikolog, tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)