detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 18 Juli 2019, 13:00 WIB

Kolom

Pengenalan Lingkungan Sekolah dalam Sistem Zonasi

Imam Subkhan - detikNews
Pengenalan Lingkungan Sekolah dalam Sistem Zonasi Siswa SMKN 1 Pundong, Bantul jalani pengenalan lingkungan sekolah dengan unik dan gembira (Foto: Edzan Raharjo)
Jakarta -
Hari-hari pertama masuk sekolah biasanya diselenggarakan masa orientasi siswa (MOS) bagi para siswa baru. Kegiatan MOS yang dahulu identik dengan perpeloncoan, kini diubah namanya menjadi pengenalan lingkungan sekolah (PLS). Untuk mendukung program ini, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.

Permendikbud ini membawa semangat untuk menghilangkan kegiatan yang berupa perpeloncoan dan lebih menekankan pada aspek edukasi dan kreativitas siswa yang menyenangkan. Masa orientasi siswa benar-benar diarahkan untuk membangun keakraban antarwarga sekolah serta mengenalkan lingkungan dan budaya sekolah. Program ini juga diharapkan sebagai ajang untuk menumbuhkan karakter positif anak, seperti nilai kejujuran, integritas, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisiplinan, budaya hidup bersih dan sehat, etos kerja, dan semangat gotong royong.

Sejalan dengan itu, program pengenalan lingkungan sekolah menjadi sangat penting dan strategis jika dikaitkan dengan sistem penerimaan siswa baru berbasis zonasi. Pasalnya, dengan kebijakan sistem zonasi, sekolah akan menerima murid yang sangat beragam.

Sebelum menerapkan zonasi, sekolah-sekolah terpolarisasi berdasarkan input atau masukan siswanya, sehingga di masyarakat muncul istilah sekolah favorit atau unggulan dan sekolah buangan atau ecek-ecek. Kategori sekolah ini lebih didasarkan pada tingkat kemampuan siswa yang diterima, sekaligus nantinya output atau keluaran yang akan dihasilkan. Parameternya adalah angka-angka nilai hasil ujian di atas kertas. Polarisasi sekolah inilah yang juga ingin dihapus oleh pemerintah melalui penerapan sistem zonasi. Nilai-nilai ujian nasional tak lagi dijadikan sebagai instrumen seleksi, melainkan dasarnya lokasi tempat tinggal atau jarak sekolah dengan rumah siswa.

Selama ini, banyak dijumpai ada anak yang rumahnya berhadap-hadapan dengan sekolah favorit, tetapi hanya bisa melihat lalu-lalang anak-anak dari daerah lain belajar di sekolah tersebut. Sementara dia yang terbatas kemampuan akademisnya, ditambah dari keluarga miskin pula, hanya bisa mengenyam bangku sekolah di pinggir kota yang sangat jauh lokasinya. Inilah bentuk pemerataan dan keadilan akan akses pendidikan yang ingin diwujudkan oleh pemerintah.

Hanya saja, dalam pelaksanaannya di lapangan, sistem zonasi banyak ditentang oleh masyarakat karena beberapa faktor, seperti kesiapan pemerintah daerah dalam mendata jumlah lulusan siswa dan kuota sekolah lanjutan, pola pikir masyarakat yang masih academic minded, dan ada unsur kelalaian pemerintah di dalam meningkatkan mutu sekolah secara merata. Sehingga kegaduhan terjadi ketika masa pendaftaran siswa baru, dan barangkali sampai sekarang masih ada ketidakpuasan dari orangtua terhadap sekolah yang didapatkan anaknya saat ini.

Zona Prestasi dan Empati

Terpenting saat ini, siswa telah menemukan habitat belajarnya, terlepas apakah sekolah tersebut sesuai dengan harapan dan keinginannya atau tidak. Justru ini menjadi tantangan, tidak hanya bagi siswa itu sendiri, melainkan juga bagi guru dan orangtua. Terutama pihak sekolah, pada masa orientasi ini para guru harus mampu meyakinkan kepada para siswa barunya untuk cinta dan bangga terhadap sekolah, sekaligus memberikan motivasi belajar yang kuat sesuai bakat, minat, dan potensi masing-masing.

Para siswa harus dipahamkan bahwa sekolah adalah miniatur masyarakat yang di dalamnya terdapat perbedaan dan keragaman. Siswa akan bergaul dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang beraneka ragam, baik tingkat kemampuan berpikirnya, latar belakang keluarga, termasuk akan mendapati anak-anak spesial, yaitu anak berkebutuhan khusus. Di sinilah tugas guru untuk bisa memahamkan siswa tentang perbedaan-perbedaan tersebut, yang pada akhirnya akan menumbuhkan pribadi siswa yang peduli dan penuh empati terhadap sesama.

Mereka akan menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi memiliki kelebihan sekaligus kelemahan atau keterbatasan. Dengan menyadari keterbatasan yang dimilikinya, maka pada diri siswa akan muncul sikap saling menghargai dan mau bekerja sama satu sama lain. Mereka tak lagi mempersoalkan tentang, "Saya pandai dia bodoh, saya anak orang kaya dia anak orang miskin, saya kuat dia lemah," dan seterusnya. Tetapi yang muncul, "Saya dan dia adalah keluarga dan saudara."

Oleh karena itu, jika rasa saling menghargai dan menghormati telah terpatri kuat pada jiwa anak, tugas guru selanjutnya adalah memfasilitasi mereka untuk belajar secara optimal sesuai potensi individualnya. Kelas yang beragam tentu tak bisa dilakukan pendekatan pembelajaran yang seragam. Guru harus benar-benar kreatif dalam menerapkan model dan metode pembelajaran. Ekstremnya, jika di kelas tersebut terdapat 25 siswa, maka seorang guru juga harus siap dengan 25 model belajar, 25 metode belajar, dan 25 media pembelajaran.

Memang diakui, jika ingin menjadi pendidik yang benar-benar pendidik, guru harus mau repot dan kerja keras. Guru tak lagi hanya bersikap santai dan sekadar mengisi waktu luang. Guru harus memiliki rencana program pembelajaran yang matang dan terukur sesuai kondisi siswa di kelasnya. Guru harus mampu melakukan modifikasi kurikulum dan pembelajaran sesuai karakteristik siswanya. Guru tak boleh hanya melakukan pendekatan secara klasikal atau kelompok, tetapi sudah fokus pada kemampuan individual anak. Bahkan jika dipikir-pikir, 24 jam waktunya tak akan cukup untuk memikirkan pendidikan para siswanya. Jika tugas guru benar-benar dilakukan dengan serius, sungguh-sungguh, dan penuh rasa tanggung jawab.

Memang sempat muncul penilaian di masyarakat bahwa dengan sistem zonasi ini akan menurunkan motivasi siswa untuk belajar dan berprestasi. Ibaratnya, siswa tak usah susah-susah belajar, karena dengan nilai seberapa pun tetap akan diterima di sekolah, bahkan di sekolah yang favorit, selama masih dalam zonanya. Inilah yang mesti dipupus pada diri siswa. Motivasi belajar dan berprestasi harusnya lebih meningkat lagi, karena memahami karakteristik siswa yang beragam di sekolah tersebut. Jiwa kompetitif harusnya semakin menguat, karena menyadari bahwa pesaingnya tak hanya di satu sekolah tersebut, tetapi justru antarsekolah. Sekolah di zonanya masing-masing berlomba-lomba untuk meningkatkan mutu sekolah, termasuk profil siswa keluarannya.

Guru Mengenal Siswa

Pada masa orientasi ini, bukan hanya menuntut siswa untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah, tetapi juga menuntut guru untuk mengenal dan memahami karakteristik siswa per individu. Saya yakin, ketika proses penerimaan siswa baru kemarin, guru hanya sekadar tahu nama siswa, nama orangtua, alamat tempat tinggal, dan identitas lainnya yang sifatnya administratif. Tetapi guru belum memahami karakter siswa secara utuh dan menyeluruh, termasuk mengetahui kelebihan dan dominasi kecerdasannya.

Oleh karena itu, pada awal-awal pembelajaran ini, setiap guru harus bisa melakukan asesmen atau penilaian diri terhadap anak didiknya, sehingga guru memiliki catatan profil siswa yang valid terhadap kondisi awal pertumbuhan dan perkembangan anak. Tidak hanya perkembangan akademik semata, tetapi potensi anak lainnya juga terungkap. Kemudian langkah selanjutnya, guru akan menyusun rencana program pembelajaran bekerja sama dengan guru-guru terkait, bahkan akan lebih baik juga melibatkan orangtua, sehingga akan terjadi sinergisme antara pihak sekolah dan keluarga.

Anak-anak yang hebat dan berprestasi akan terlahir dari lingkungan pendidikan yang hebat pula, termasuk dukungan guru-guru yang hebat. Jika setiap sekolah di zonanya memiliki guru-guru yang semangat untuk maju, bukan hal yang sulit untuk mewujudkan sekolah-sekolah favorit baru. Ke depan, setiap sekolah adalah favorit dan unggulan, bukan karena mendapatkan masukan siswa yang sudah hebat atau fasilitas sekolah yang lengkap, melainkan karena proses pendidikan yang berkualitas dan di dalamnya terdapat guru-guru yang memiliki etos kerja yang kuat. Semoga!

Imam Subkhan pemerhati pendidikan, pengelola lembaga pendidikan di Solo


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed