DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 07 Mei 2019, 16:30 WIB

Kolom

Meraih Sukses Ramadhan

Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA - detikNews
Meraih Sukses Ramadhan Pawai obor menyambut Ramadhan (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta - Ramadhan hadir sebagai solusi bagi orang-orang beriman. Tabiat jiwa manusia cenderung melemah. Keimanan pun fluktuatif, terkadang naik dan turun. Pada saat manusia sangat membutuhkan kekuatan iman dan ruhiyah (spiritual) untuk menghadapi berbagai problematika hidup yang sulit dan berat, Ramadhan hadir ke tengah-tengah kehidupan mereka.

Dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah memberikan bantuan dan sekaligus hiburan kepada umat Islam dalam menghadapi kondisi berat, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang berat dan sulit tersebut. Ini berarti Ramadhan adalah nikmat dan karunia Ilahi.

Ada sedikitnya 7 (tujuh) kiat untuk meraih sukses Ramadhan. Pertama, berbahagia dengan hadirnya Ramadhan, karena ia termasuk karunia dan nikmat Allah. Allah berfirman: Katakanlah, Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 58).

Karena itu, kita men-tarhib Ramadhan. Kata tarhib berasal dari kata rahhaba, yurahhibu, tarhiiban yang berarti melapangkan dada dan menyambutnya dengan mesra dan gembira. Dan Nabi Muhammad pun telah men-tarhib Ramadhan dua bulan sebelumnya, yaitu sejak bulan Rajab.

Kedua, menyiapkan diri dengan baik, mulai dari: (1) Persiapan hati; dengan meningkatkan intensitas dan kualitas ibadah. (2) Persiapan akal; dengan mendalami Fiqhu's Shiyam (pengetahuan seputar aturan-aturan syariat seputar puasa), sehingga dapat melaksanakan puasa dengan baik dan benar. (3) Persiapan fisik; sebab fisik yang lemah tidak bisa menunaikan ibadah puasa dengan sempurna.

Allah berfirman: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197).

Ketiga, merencanakan peningkatan prestasi ibadah dibarengi dengan tekad kuat untuk menjadikan Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Baik perencanaan yang bersifat global maupun perencanaan bersifat rinci, baik secara kuantitas maupun kualitas. Seperti dengan menyusun Daftar Menu Ibadah berisi Tarawih yang utuh, tilawah Alquran sampai khatam, ifthar shaim (memberi buka puasa), peningkatan kuantitas zakat dan sedekah, dan lain-lain.

Ayat 18 dari Surat Al Hasyr menegaskan pentingnya perencanaan dalam hidup seorang mukmin karena dapat mengantarkan kepada derajat takwa.

Keempat, melaksanakan ibadah puasa dan amaliah-amaliah Ramadhan lainnya dengan hati yang ikhlas semata-mata didasari atas panggilan iman dan memperhatikan segala adab serta sunah-sunahnya. Sebab, diterimanya suatu ibadah hanya dengan dua syarat itu.

Kelima, mujahadah (bersungguh-sungguh) menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat), Syahrut Tarbiyah dan Syahrud Da'wah (Bulan Pendidikan dan Dakwah), serta Syahrul Jihad (Bulan Perjuangan). Ketika kita bersungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan kepada kita berbagai jalan kemudahan, termasuk kemudahan dalam meraih sukses Ramadhan.

Allah berfirman: Dan orang-orang yang ber-mujahadah untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al 'Ankabut: 69)

Keenam, Berpuasa seperti puasanya orang yang akan meninggalkan dunia. Dalam hadis shahih Nabi SAW memberikan tips salat yang khusyuk dengan sabdanya: Apabila kamu hendak salat, maka salatlah seperti salatnya orang yang akan pamitan." (HR Ahmad, no. 23498, Ibnu Majah, no. 4171, dan di-shahih-kan oleh Syekh Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 401).

Dalam konteks Ramadhan, pesan itu seakan menjadi: Berpuasalah seperti puasanya orang yang akan meninggalkan dunia. Kita semua pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini, tanpa pernah bisa kita prediksi, dan kematian tidak pernah akan permisi. Menghadirkan perasaan "jangan-jangan Ramadhan kali ini adalah yang terakhir" --kemungkinan itu bisa terjadi-- dapat memacu dan memicu kita untuk dapat mengoptimalkan pertemuan kita dengan Ramadhan dengan peningkatan beragam amaliah Ramadhan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Ketujuh, memohon taufiq (kesuksesan) kepada Allah dalam doa. Sebab, Allah-lah Pemilik Kesuksesan. Dan Ramadhan juga dikenal sebagai Syahrud Du'a (Bulan Doa). Sehingga di tengah-tengah pembahasan tentang puasa, Allah juga menyisipkan satu ayat tentang doa, yaitu ayat 186 dari QS Al Baqarah.

Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA Sekjen IKADI, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed