DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 12 April 2019, 14:06 WIB

Kolom

Sang Penggerutu

Dodo Hinganaday - detikNews
Sang Penggerutu Foto: iStock
Jakarta -

"Knemon, orang tua itu, membenci setiap orang! Marah-marah sepanjang hari!" Demikian Pan memulai narasinya. Sang dewa hutan Yunani Kuno, yang juga penguasa taman, kebun, dan ternak ini memperkenalkan sosok bernama Knemon, "Tiada satu pun kata yang menyenangkan kepada setiap orang! Tak pernah menjadi orang pertama yang berkata, Salam, sahabat, apa kabar?"

Namun, Pan memberi perkecualian. Tidak ada orang yang diperlakukan secara ramah oleh Knemon, kecuali sang dewa sendiri. "Ia akan menyapaku…ia berbicara padaku, sambil lalu." Memang, tidak mungkin ia akan menjauhi sang dewa. Salah bertindak, Knemon bisa gagal panen. Dan, sang dewa paham sekali soal itu, "Tentu, ia tak bisa benar-benar menolakku, bukan? Berbasa-basi karena kewajiban. Basa-basi sambil lalu."

Knemon dan Sostratos

Demikianlah kita dipertemukan dengan Knemon. Ia adalah salah tokoh komedi Dyskolos (The Grouch, Sang Penggerutu). Kreatornya adalah Menander, seorang komedian Yunani Kuno, yang mementaskannya pertama kali pada sekitar tahun 317 SM. Tidak ada satu pun orang yang senang pada orang tua ini. Ia sendiri juga tampaknya jauh lebih senang memiliki musuh daripada sahabat.

Tak berhenti di situ, Pan kembali bercerita tentang Knemon. Darinya kita mengetahui, istri Knemon dan Gorgias, anak laki-lakinya, meninggalkan orang tua itu. Mereka tidak tahan lagi terhadap sifat penggerutunya. Maka, Knemon tinggal dalam kesepian bersama putrinya, Myrrhini, dan seorang budak tua bernama Simike. Berbeda dari sang ayah yang pemarah, Myrrhini adalah seorang gadis yang tulus. Penghormatan kepada para dewa pun dijalankannya dengan penuh bakti, tidak seperti ayahnya yang hanya basa-basi.

Sampai di situ, dengan segera kiranya kita akan bersimpati pada Myrrhini. Mungkin kita juga akan tergoda untuk mencaci istri Knemon dan kakak tirinya yang tega membiarkan sang gadis hidup bersama sang penggerutu. Pan dan para nymph, peri alam yang kerap tinggal di hutan atau sungai, pun berharap dapat menolongnya. Sayangnya, nasib Myrrhini memang belum beruntung.

Jika tidak terlalu perlu, tidak ada satu manusia pun yang mau berurusan dengan Knemon. Galaknya pria itu juga menciutkan nyali orang-orang yang ingin mendekati Myrrhini. Kecuali Sostratos. Ya, Sostratos, anak Kallippides, orang kaya itu.

Kisah bergulir. Kekonyolan demi kekonyolan pun muncul di sepanjang cerita Dyskolos, menggambarkan betapa kuatnya keinginan Sostratos mempersunting Myrrhini. Pyrrhias, hambanya yang diutus bertemu Knemon, lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari amukan petani tua itu. "Beri jalan, beri jalan, setiap orang! Biarkan aku lewat! Beri jalan!" demikian teriak Pyrrhias ketakutan.

Adegan lain memperlihatkan Sostratos yang gemetar saat ingin bertemu Knemon. Saking takutnya, ia salah bicara, "Saya sudah membuat janji dengan seseorang, Bapak. Saya seharusnya bertemu dengannya di sini." Tanpa basa-basi Knemon meneriakinya, "Memangnya kamu pikir ini kuilnya Leos? Memang kamu selalu membuat pertemuan di sini, di depan pintu rumahku?" Belum habis rasa kaget Sostratos, Knemon melanjutkan, "Baiklah, kalau begitu kenapa kamu tidak sekalian saja membuat tempat duduk di sini? Yang nyaman dan empuk untuk bokongmu!"

Singkat cerita, Sostratos tidak menyerah. Ia lalu berhasil mendekati Gorgias agar dibantu untuk menaklukkan sang ayah. Kesempatan emas pun tiba. Knemon jatuh ke dalam sumur saat akan mengambil ember, yang secara tidak sengaja dijatuhkan Simike. Knemon diselamatkan Gorgias, lalu mempercayakan Myrrhini agar dirawat oleh putranya itu. Gorgias pun mengusulkan Sostratos sebagai pasangan Myrrhini, yang akhirnya disetujui ayahnya.

Cerita belum berakhir di situ. Sicon, koki sewaan keluarga Sostratos, memutuskan untuk memberi Knemon "pelajaran". Dibantu Getas, pembantu Sostratos, ia mengerjai Knemon, memintanya agar tidak lagi menggerutu. Knemon pun diharuskan belajar menikmati kegembiraan pesta perkawinan kedua anaknya dengan anak-anak Kallipides. Bukannya malah menjauhkan diri dan menyepi.

Pesan Dyskolos

Dyskolos adalah kisah kehidupan kita sehari-hari. Di balik kisah itu tergambar cita-cita manusia: ingin hidup tenang, damai, tanpa perlu merengut, menggerutu, dan memaki-maki. Jalanilah hidup dengan gembira dan penuh cinta yang tulus, kira-kira begitulah pesannya. Jangan seperti Knemon, yang sok mengumbar keramahan hanya kepada dewa. Itu pun hanya basa-basi, sekadar supaya keinginannya dipenuhi. Dipikirnya, sang dewa tidak mengetahui tabiat asli sang pemarah.

Menjalani hidup dengan makian, gerutu, dan amarah ternyata lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat. Orang berniat baik yang ingin mendekat malah jadi takut dan menderita. Para bawahan yang tampaknya patuh dan bersahabat, ternyata menyimpan niat untuk membalas perlakuan kasar sang penggerutu.

Syukurlah kalau pembalasan itu, walaupun juga kasar, sekadar bermaksud memberi pelajaran, seperti yang dilakukan Sicon dan Getas. Supaya sang penggerutu berubah, bertobat. Jauh lebih berbahaya kalau para bawahan itu diam-diam ingin menggulingkan tuan berperangai kasar itu, tanpa ia sendiri menyadarinya. Bentuknya bisa jadi sama: "serangan" diam-diam saat sang tuan tidur. Tetapi, maksudnya pasti beda.

Pesan lainnya juga diwartakan oleh Dyskolos. Anda yang bersimpati pada Myrrhini kiranya sadar betul: betapa salah dan buruknya pilihan untuk menyerahkan seseorang yang Anda cintai kepada seorang pemarah dan penggerutu. Bisa dijamin, orang tercinta itu akan menderita sepanjang hidupnya. Padahal, ada orang baik, yang dapat melihat keindahan dan begitu mencintai sosok seperti Myrrhini. Yang mau berusaha keras demi mewujudkan cintanya itu, walaupun harus berhadapan dengan ayah Myrrhini yang galak itu.

Akhirnya, silakan membayangkan diri Anda sebagai tokoh-tokoh dalam Dyskolos. Silakan pula belajar dari kisah itu, walaupun cerita itu ditulis berabad-abad lalu, di tempat yang nun jauh di sana. Tak ada ruginya. Yang rugi adalah jika Anda salah memilih tokoh dan menjadikannya panutan bagi hidup Anda.

Dodo Hinganaday mahasiswa Program Magister Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed