DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 11 April 2019, 16:32 WIB

Murdoch yang Tak Ada Matinya

Ishadi SK - detikNews
Murdoch yang Tak Ada Matinya Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Masih ingat film James Bond 007, Tomorrow Never Dies yang diperankan oleh Jonathan Pryce? Penulis naskah film itu mendapat inspirasi dari ulah Rupert Murdoch, kaisar penguasa media, kelahiran Australia, yang kini menetap di Fifth Avenue, New York. Meskipun bisnis utamanya media, ia memiliki atau ikut serta sebagai pemegang saham berbagai ragam usaha. Di antaranya jaringan hotel internasional, sebagian besar saham Ansett, perusahaan penerbangan Australia, hingga peternakan biri-biri. Aset medianya menurut Jerome Tuccille, yang menulis biografinya, pada 1989, mencapai US$12 miliar.

Keith Rupert Murdoch (umur 88 tahun) adalah pemilik News Corporation, salah satu perusahaan media terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Di AS, ia memiliki perusahaan 20th Century Fox Film Corporation, jaringan Radio dan TV Fox, The Boston Herald, The San Antonio Express-News, New York Magazine, The Star, New Women, TV Guide, berbagai stasiun radio dan televisi besar serta raksasa seperti Herper & Row, Salem House, dan Zondervan. Di Inggris ia memiliki koran The Times, The News of The Wold, The Sun, Times Books, William Collins & Sons, Sky Channel, dan Kantor Berita Reuters. Di tanah kelahirannya Australia, tempat ia memulai usahanya, Murdoch mengontrol paling tidak 60% dari seluruh penerbitan cetak, radio, dan televisi negara itu. Di Asia ia memiliki jaringan Star TV dan berbagai surat kabar Hong Kong, termasuk South China Morning Post. Pendek kata, menurut Jerome Tuccille, ia sebenarnya orang paling berkuasa di dunia.

Sebagai raja media yang menguasai opini publik, Murdoch terlibat dalam berbagai "clash" politik. Di AS musuh bebuyutannya adalah keluarga Kennedy, yang sejak semula menentang pemilikan silang antarmedia. Murdoch kalah, paling tidak di Massachusetts dan New York, ketika berdasarkan undang-undang ia harus menjual The New York Post dan Boston Herald, karena telah memiliki dua stasiun televisi di kawasan itu. Padahal menurut William Shawcross, penulis biografinya yang lain, "Murdoch paling benci kalau harus melepas aset yang susah payah telah dikuasainya." Dendamnya dilampiaskan ketika ia kemudian mati-matian mendukung Jimmy Carter ke kursi Presiden AS.

Di Australia, jaringan korannya menyerang Perdana Menteri Australia Gough Withlam pada 1975 dan menjatuhkannya dari kursi eksekutif puncak negeri itu. Di Inggris, pada 1969 perusahaan penerbitannya mengedarkan biografi Christine Keeler, seorang pelacur tingkat tinggi yang menjalin hubungan dengan Menteri Pertahanan John Profurmo, enam tahun sebelumnya. Penerbitan buku ini nyaris menjatuhkan Perdana Menteri Harold Mac Millan.

Murdoch di sisi lain mendukung dan membantu Ronald Reagan ke kursi Presiden. Dia juga dikenal amat dekat dengan Edward Koch, Walikota New York. Ia benar-benar bagaikan bandar "baccaratt" politik kelas tinggi yang menyimpan banyak kartu as, dan bisa sewaktu-waktu menaklukkan lawan politiknya kapan pun dan di mana pun.

Ambisinya untuk menjadi raja media tertanam sejak ia muda, ketika masih mengikuti kuliah di Oxford University, Inggris. Ia sangat menyayangkan karier ayahnya yang walaupun sukses besar sebagai reporter profesional tidak mampu menguasai dan mengembangkan sebuah surat kabar lokal sekali pun. Ayahnya terlalu membaktikan diri sebagai seorang jurnalis profesional. Pada usia 22 tahun Rupert Murdoch dipanggil pulang ke Australia karena ayahnya meninggal. Ia diminta untuk memimpin dua koran lokal, Adelaide News dan Brisbane Courier-Mail. Dua koran itulah yang kelak menjadi basis bagi usahanya yang dengan cepat berkembang ke seluruh dunia, dengan cara yang khas, memaksa saingan-saingannya untuk bangkrut atau menjual sedikit demi sedikit sahamnya kepadanya.

Resep jitu yang dikembangkannya selalu adalah market oriented dan market forces. Ia tidak pernah berbicara mengenai quality newspaper seperti New York Times atau Christian Science Monitor. Yang penting baginya adalah korannya laku dan dolar mengalir ke kantongnya. Karena itu hampir seluruh koran, majalah, dan tabloid yang dibelinya diubah isinya dengan berbagai judul yang eksotik dan berita gosip yang sensasional. Ekspansinya luar biasa, kalau perlu dengan meminjam dana bank. Perhatikan langkah-langkahnya yang sangat spektakuler.

Pada 1957, ketika ia baru berusia 22 tahun, ia mulai mengelola dua koran lokal warisan Ayahnya. Pada 1959 membeli koran gosip The Sunday Mirror di Sydney, 1964 membeli The Australian di Canberra, 1967 membeli The Sun di London, 1973 menguasai San Antonio Express, The Texas News, dan The Sunday News Austin Texas. Pada 1975, menerbitkan tabloid National Star yang khusus dijual di supermarket, menyaingi Equirer. Tahun berikutnya membeli Daily Telegraph London. Dan pada tahun yang sama menguasai The New York Post, New York Magazine, dan mingguan The Village Voice. Pembelian tiga penerbitan ini membuat banyak orang pers di Amerika berang. Majalah terkemuka Time dan Newsweek pernah menulis di liputan utama "keserakahan Murdoch".

Kritik pedas tidak menghalangi semangatnya untuk terus membeli berbagai koran besar di dunia. Pada 1981, secara menggemparkan ia menguasai dua koran prestisius Inggris, The Times dan The Sunday Times. Murdoch melangkah lebih jauh pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1983 dia membeli sebagian kecil saham Warner Brothers, dan sebagian besar saham the 21st Century Fox pada 1984. Bersamaan dengan itu ia mendirikan Fox Television. Di sini dia agak tersandung. The Communication Art, lembaga yang mengatur jaringan komunikasi AS melarang seorang warga negara asing menguasai atau memiliki sebagian besar jaringan televisi nasional. Padahal Murdoch sangat berambisi menjadikan Fox TV jaringan televisi keempat yang baru di AS.

Pukul 10:55 pagi, 4 September 1985, di hadapan Hakim Manhattan New York City, secara resmi ia mengubah kewarganegaraannya. Murdoch yang lahir dan dibesarkan di Australia, hari itu resmi menjadi warga negara AS. Korannya The New York Post memuat foto besar di halaman pertama ketika ia dengan tersenyum menjabat tangan Hakim Kram yang menyumpahnya. Koran saingannya menyebut Murdoch sebagai "Man for all occasion". Majalah terkenal The Forbes menulis "What does this Man want?"

Murdoch bukannya tak pernah mengalami kesulitan. Akhir 1990 ia hampir bangkrut ketika utang jatuh temponya mencapai US$ 7,6 miliar. Namun melalui kecerdikannya, kemampuan lobi kelas tinggi, dan intuisi bisnisnya ia dapat mengatasi.

Harian Kompas edisi 12 April 1999 memuat sebuah berita kecil: Menteri Perdagangan Inggris, Stephen Byers memutuskan perusahaan televisi milik Mudorch B Sky B tidak diperkenankan membeli sebagian besar saham klub sepak bola Inggris Manchester United. Alasan yang dikemukakan "Komisi Merger dan Monopoli", hal itu akan merusak kompetisi di antara stasiun televisi yang berniat menyiarkan langsung Liga Sepak Bola Inggris dan bisa menurunkan kualitas sepak bola serta bertentangan dengan kepentingan publik. Murdoch mengaku kecewa dengan keputusan itu. "Mr. Murdoch, you cannot win them all."

Rabu dini hari, 20 Maret 2019, 21st Century Fox, perusahaan multimedia yang dibanggakannya, diakuisisi oleh The Walt Disney Company, usaha bisnis multimedia dan entertainment, konglomerasi terbesar di AS yang berlokasi di Burbank California. Akuisisi ini tidak merupakan akhir dari kejayaan Murdoch, karena menambah kekayaannya senilai US$ 71,3 miliar atau setara Rp 1000 triliun, uang segar secara instan. "Mr. Murdoch, ente memang kagak ada matinye!"

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed