DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Maret 2019, 10:15 WIB

Kolom Kang Hasan

Meributkan Sebutan Teroris

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Meributkan Sebutan Teroris Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Dua masjid di kota Christchurch, New Zealand diserang oleh orang bersenjata. Ia menembaki semua orang yang ia lihat. Orang-orang yang sudah tertembak, dalam keadaan sekarat ia habisi. Sebanyak 50 orang dinyatakan tewas, dan sejumlah korban lain luka berat. Lebih gila lagi, ia merekam tindakan biadabnya itu dan menyiarkannya melalui akun media sosial.

Pelakunya adalah orang kulit putih yang terlalu yakin pada keunggulan kulit putih. Ia menganggap New Zealand adalah tanah orang kulit putih yang tidak boleh didatangi dan didiami oleh imigran dari negeri lain. Tentu saja itu konyol, karena New Zealand, dan Australia (tempat asal pembunuh itu) juga bukan tanah orang-orang kulit putih. Itu adalah tanah orang Pasifik yang dirampas oleh kolonial Eropa beberapa abad yang lalu.

Media memberitakannya dalam berbagai diksi. Ada yang menyebutnya aksi penembakan. Tidak ada yang salah dengan istilah itu, karena yang terjadi memang penembakan. Pada serangan bom kita bisa menyebutnya aksi pemboman. Itu pun tak salah.

Tapi bagi sekelompok orang muslim, itu bermasalah. Mereka punya teori bahwa kalau pelakunya adalah muslim, maka istilah yang dipakai adalah teroris. Sedangkan kalau pelakunya bukan muslim tidak dipakai istilah teroris. Teori itu sebenarnya sudah terbantah sejak awal. Perdana Menteri New Zealand langsung menyebut serangan itu sebagai serangan teroris. Demikian pula banyak pemimpin dunia yang lain.

Bagi orang-orang tadi ternyata itu tak cukup. Ada yang sampai membuat peta, yang katanya adalah bukti framing media yang mencoba menggiring opini dengan tidak menyebut kejahatan ini sebagai tindakan teroris. Media, kata mereka, sengaja memakai istilah penembakan. Kalau kita periksa, saat pelakunya adalah muslim, juga ada media yang menyebutnya penembakan, serangan, dan sebagainya. Karena semua istilah itu cocok belaka.

Poinnya, orang-orang ini keberatan kalau pelaku penyerangan adalah muslim, serangannya disebut terorisme. Lalu sebaiknya disebut apa? Penembakan saja? Serangan saja? Tapi apa bedanya?

Bagi saya tidak ada bedanya. Semua sama saja. Penembakan, pembunuhan, serangan biadab, atau terorisme. Semua pantas diberikan untuk mereka. Kenapa perlu dibedakan hanya karena mereka muslim?

Sebabnya tak lain karena masih banyak muslim yang tidak bisa menentukan sikap di depan aksi terorisme yang dilakukan oleh saudara seiman mereka. Ada orang-orang yang secara tersamar sebenarnya ingin menyebut mereka, para penyerang itu, sebagai pejuang. Apa yang mereka perjuangkan? Berdirinya negara Islam. Masih cukup banyak muslim di Indonesia yang menginginkan itu. Jadi, kalau ada kelompok-kelompok yang memperjuangkan itu, mereka mendukungnya. Kekejian yang mereka lakukan sepertinya tak terlalu jadi masalah buat para pendukungnya itu.

Perhatikan bila ada serangan teroris di Tanah Air. Ada saja pihak yang membuat pernyataan-pernyataan yang mencoba mengaburkan substansi bahwa serangan itu adalah tindakan teror. Pada saat yang sama, mereka justru mengecam tindakan pengamanan yang dilakukan oleh aparat. Ada saja yang mereka reweli.

Orang-orang ini melupakan satu fakta yang sebenarnya begitu telanjang, yaitu bahwa para teroris ini bahkan tidak peduli kalau korbannya muslim. Bagi mereka, membunuh itu adalah tujuan. Polisi kita, yang tentu saja kebanyakan adalah muslim, jadi sasaran mereka. Bahkan di berbagai tempat mereka menyerang masjid, membunuh ratusan orang di situ. Lebih parah lagi, kota suci Madinah pun mereka serang.

Bagaimana mungkin kita masih berat untuk mengatakan bahwa serangan itu adalah terorisme, dan pelakunya adalah teroris? Mungkin kalau mereka sendiri, atau keluarga mereka yang jadi korban, baru mereka berhenti bersimpati pada para teroris itu.

Para ulama sudah tegas menyatakan, tidak ada pembenaran terhadap aksi teror. Apa definisinya? Sederhana saja. Setiap serangan kepada orang sipil tak bersenjata adalah aksi teror. Demikian pula serangan yang menyebabkan jatuhnya korban sipil. Tidak ada ajaran Islam yang membenarkan untuk menyerang orang yang tidak bersenjata. Bahkan di medan perang, orang yang tidak bersenjata wajib dilindungi.

Serangan di New Zealand itu adalah terorisme. Pelakunya adalah teroris. Mereka sama kejinya dengan pelaku serangan lain, tak peduli apa agama mereka, atau kebangsaan serta warna kulitnya. Kita tidak memilah pelaku kejahatan berdasarkan kelompok etnis atau kepercayaan mereka. Kejahatan adalah kejahatan. Bahkan kalau kejahatan itu dilakukan oleh saudara kandung kita sekalipun, itu adalah kejahatan.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed