DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 01 Maret 2019, 15:00 WIB

Kolom

Mencari Pakar yang Ilmuwan

Ikbal Maulana - detikNews
Mencari Pakar yang Ilmuwan Foto: ABC Australia
Jakarta - Di dunia yang berkembang pesat kita dihadapkan pada masalah-masalah baru yang jangankan untuk menyelesaikannya, untuk memahaminya saja kita sering tidak berdaya. Kita membutuhkan ilmu untuk mencerna dan mengatasi masalah tersebut, tetapi kita sering tidak tahu apakah ilmunya tersedia, dan kalaupun tersedia bisakah kita memahaminya dalam waktu yang ada.

Bangunan pengetahuan, lebih-lebih pengetahuan ilmiah, tersusun secara akumulatif. Kita harus lebih dulu memahami pengetahuan yang lebih dasar untuk memahami pengetahuan yang lebih lanjut. Pemahaman kita akan sesuatu dibangun di atas tumpukan pengetahuan demi pengetahuan. Kita tidak bisa loncat begitu saja. Ada tangga pengetahuan yang harus kita naiki untuk mencapai pemahaman tertentu.

Yang menjadi masalah adalah tangga pengetahuan bukanlah tangga satu jalur, tetapi bercabang-cabang. Jika kita belajar sendiri, kita sering tidak tahu cabang mana yang harus kita lalui. Selain itu, kita juga sering tidak memiliki cukup waktu untuk mempelajarinya sendiri. Karena itulah kita membutuhkan pakar, seorang yang memiliki pengetahuan tentang masalah yang kita hadapi.

Ada banyak jenis pakar beserta bidang kepakarannya. Di dunia bisnis, perusahaan kerap menggunakan jasa konsultan, mulai dari untuk membantu mengembangkan strategi bisnis pemasaran sampai mengeksplorasi peluang bisnis baru. Ada juga konsultan yang membantu pemerintah dalam mengembangkan program atau kebijakan pembangunan. Bahkan ada juga konsultan bagi politisi dan partai politik yang ingin memenangkan pemilihan. Di media massa kita mengenal intelektual publik atau pengamat yang dengan kekayaan pengetahuannya membantu masyarakat mengurai masalah-masalah publik yang pelik.

Ada jenis pakar yang lain, yang tidak hanya memanfaatkan pengetahuan yang ada, tetapi juga turut mengembangkan ilmu pengetahuan. Mereka adalah para ilmuwan, yang umumnya bekerja di perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Mereka melakukan uji-coba dan pengamatan, mengembangkan model, dan melakukan eksplorasi teoretis untuk menjelaskan hal-hal yang bukan hanya tidak diketahui masyarakat umum, tetapi juga yang belum dipahami oleh ilmuwan lainnya.

Mereka bisa juga mencari penjelasan ilmiah dari sesuatu yang sudah dikenal masyarakat luas, misalnya mengapa suatu ramuan tradisional bisa menyembuhkan penyakit tertentu, senyawa kimia apa yang terkandung dalam ramuan tersebut. Karena sifat pengembangan pengetahuan adalah sarat dengan upaya saling belajar dan saling koreksi, seorang ilmuwan bisa saja bekerja untuk menguji temuan ilmiah dari ilmuwan lainnya. Pada dasarnya para ilmuwan bekerja untuk mengembangkan dan memperkuat bangunan pengetahuan yang ada, yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh ilmuwan lain, para pakar, praktisi dan masyarakat luas.

Pengembangan ilmu adalah pekerjaan yang sulit. Karena itulah para ilmuwan umumnya menekuni bidang penelitian yang sempit. Kecuali ilmuwan yang bekerja untuk perusahaan/bisnis, umumnya para ilmuwan saling belajar dan berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dengan ilmuwan-ilmuwan lain di berbagai penjuru dunia dengan cara saling mempelajari karya tulis ilmiah (KTI) mereka. Mereka membangun pengetahuan secara bersama-sama. Mereka mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk buku atau makalah dalam jurnal yang bisa dibaca dan dikritisi oleh ilmuwan lainnya. Mereka juga saling mengutip KTI masing-masing dalam rangka membangun teori ilmiah.

Keterlibatan banyak ilmuwan dalam upaya memahami suatu fenomena atau mengembangkan teori tertentu, termasuk dengan cara saling mengkritisi, adalah cara komunitas ilmiah untuk lebih mendekati kebenaran atau objektivitas hasil penelitian. Keterbatasan cara atau sudut pandang seorang ilmuwan bisa dikompensasi oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Hal ini bisa dicapai para ilmuwan antara lain dengan bekerja sama langsung dalam satu proyek penelitian. Tetapi, cara ini tidak bisa melibatkan banyak orang. Karena itulah publikasi hasil penelitian dalam KTI menjadi media para ilmuwan untuk mendorong pengembangan pengetahuan secara bersama.

Untuk menjaga kualitas KTI, komunitas ilmiah juga menerapkan mekanisme untuk menjaga kualitas, yakni dengan penelaahan sejawat (peer-review), yakni penelaahan oleh ilmuwan yang menekuni persoalan yang sama atau berdekatan. Agar bisa leluasa tanpa mengganggu hubungan pribadi antar-ilmuwan, maka penelaahan itu dilakukan secara tertutup (blind review) --penelaah tidak tahu nama penulis dari KTI yang dia telaah, dan penulis KTI juga tidak tahu siapa yang menelaah karya ilmiahnya.

Melalui penelaahan tertutup, penelaah bisa fokus pada kualitas KTI tanpa memandang reputasi atau gelar penulisnya, apakah S2, S3, atau profesor. Dalam mempublikasikan KTI-nya di penerbitan yang berkualitas, ilmuwan ibarat pemain sepak bola yang di setiap pertandingan harus membuktikan kualitas dirinya. Jika di pertandingan sebelumnya dia sudah biasa mencetak gol, bukan berarti pada pertandingan berikutnya dia pasti bisa mencetak gol. Demikian juga dengan ilmuwan, agar karyanya bisa dipublikasikan di penerbitan yang berkualitas, dia juga harus membuktikan kualitasnya lagi, dengan cara bisa lolos dari proses penelaahan sejawat yang tertutup.

Tiap penerbitan memiliki tingkat kualitas yang berbeda-beda. Kualitas penerbitan ilmiah menunjukkan, ibarat pertandingan sepak bola, seorang ilmuwan sanggup bermain di liga yang mana. Ketatnya penelaahan ini oleh banyak ilmuwan tidak dilihat sebagai perintang karier mereka, tetapi justru sebagai mekanisme validasi untuk lebih mendekati objektivitas ilmiah. Banyak ilmuwan bisa meningkatkan kualitas KTI-nya setelah mendapatkan umpan balik dari para penelaah yang tidak diketahui jati dirinya. Selain itu, kualitas penerbitan juga menunjukkan kualitas mereka sebagai ilmuwan.

Adanya penerbitan dengan penelaahan yang ketat bisa membantu masyarakat non-ilmuwan, ilmuwan dari bidang yang berbeda, industri, lembaga donor, ataupun lembaga pemerintah dalam memperkirakan kualitas hasil penelitian, yang pada gilirannya juga memperkirakan kualitas seorang ilmuwan. Orang yang tidak menekuni bidang penelitian tertentu, tentu tidak bisa mengukur kebenaran atau kualitas KTI di bidang tersebut. Tetapi, dengan mengetahui bahwa KTI tersebut dipublikasikan dalam jurnal yang bereputasi tinggi dan memiliki faktor pengaruh yang besar, mereka bisa mengetahui bahwa KTI tersebut berkualitas.

Untuk membantu berbagai pihak, termasuk ilmuwan yang baru mulai meniti kariernya, berbagai organisasi ilmiah internasional mengeluarkan daftar jurnal dan buku dalam bidang keilmuan masing-masing. Untuk jurnal, sebagian organisasi ilmiah juga membuat daftar peringkatnya, yang biasanya sulit ditembus oleh ilmuwan pemula. Daftar jurnal dan buku yang lebih luas lagi adalah yang disajikan dalam basis data pengindeks, seperti Scopus dan Clarivate Analytics (sebelumnya dikenal sebagai Thompson Reuters). Ada 37 jurnal yang diterbitkan di Indonesia yang sudah terindeks Scopus.

Basis data ini juga memuat jurnal-jurnal yang lebih mudah ditembus dibandingkan dengan yang ada pada daftar dari organisasi-organisasi ilmiah. Rentang kualitas jurnal yang diindeks Scopus cukup lebar, mulai dari kualitas Q4 yang terendah sampai kualitas Q1 yang tertinggi. Dari basis data ini, dengan teknik scientometrics, bisa ditemukan pengaruh suatu jurnal, KTI, ataupun ilmuwan dalam pengembangan ilmu. Basis data ini membantu ilmuwan untuk mengidentifikasi tingkat kualitas jurnal yang akan dijadikan sebagai media untuk mempublikasikan hasil penelitiannya, sekaligus membantu pihak lain untuk memperkirakan kualitas atau pengaruh ilmuwan yang akan dimintai bantuannya.

Ikbal Maulana peneliti di bidang filsafat dan kajian sosial teknologi di Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptekin (P2KMI) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed