detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 Februari 2019, 15:00 WIB

Kolom

Ongkos Modernitas dan Pemiskinan Terang-Terangan

MY. Arafat - detikNews
Ongkos Modernitas dan Pemiskinan Terang-Terangan Ilustrasi: Andhika Akbarayansyah/detikcom
Jakarta - Ada tulisan cukup menarik di detikcom pada 12 Februari 2019. Judulnya Ongkos Tradisi dan Pemiskinan Diam-Diam. Penganggitnya, Iqbal Aji Daryono bercerita tentang pengalaman tetangganya yang sedang "tertimpa" keharusan untuk menggelar tahlilan selama sekian malam untuk mendoakan almarhum mertuanya. Di upacara itu tidak a hanya sekadar perapalan doa ampunan, tetapi juga sedekah yang diwujudkan melalui penyajian hidangan di luar kebiasaan. Orang Jawa biasa menyebut hidangan itu "berkat". Rupanya, di kampung mertua tetangganya itu, ada semacam "kewajiban" untuk menyembelih seekor sapi demi ketertunaian dan keparipurnaan doa. Karena tidak punya cukup modal untuk menggenapi ongkos tradisi itu, si tetangga meminta bantuan keuangan kepada Iqbal.

Iqbal telah menegaskan bahwa tulisannya itu bukanlah ungkapan sambat atau keluh-kesah karena uangnya dipinjam dan --malangnya lagi-- belum dikembalikan hingga melewati batas waktu sebagaimana dijanjikan. Bukan itu. Iqbal hanya mengulas peristiwa yang ia sebut sebagai "pemiskinan diam-diam" di balik penegakan tradisi. Iqbal sudah menegaskan bahwa barangkali di kampung lain tidak demikian keadaannya. Meski demikian, Iqbal mengabarkan bahwa tradisi memang memiliki cara kerja berupa penyedotan modal berlipat-lipat. Hingga ada warga masyarakat yang harus berutang karena "kewajiban" yang pada dasarnya bukan kewajiban itu. Beberapa pembaca tulisan Iqbal dari mazhab puritan malah ada yang langsung menyikat tradisi dan kelompok pelestarinya.

Tanggapan saya ini bukan untuk mencari pembenaran atas ongkos tradisi. Melainkan ingin menunjukkan "logika ongkosiyah" yang pada dasarnya tidak hanya mendekam di dalam tradisi. Narasi perihal perongkosan yang dituturkan Iqbal perlu diluruskan. Sebab, sejatinya apa saja hari ini memang butuh ongkos. Selain tradisi tahlilan, ada banyak upacara keagamaan lain dalam semua agama dan aliran kepercayaan yang membutuhkan ongkos tinggi. Lihat saja upacara tradisi yang mengharuskan kerbau, sapi, atau babi sebagai menu utama hidangannya. Mewah sekali, bukan? Belum lagi jika kita mengulas ongkos tradisi pernikahan berdasarkan adat suku-bangsa di Indonesia. Para jomblo pasti akan meninjau kalkulasi ijtihad eksogamisnya di sini.

Persoalannya bagi saya, dalam tulisan itu Iqbal mengurung narasi beban berat ongkos-ongkosan hanya pada satu arena, yaitu tradisi, dalam hal ini upacara tahlilan untuk mendoakan orang meninggal selama sekian malam. Padahal, ongkos tinggi bin besar pada dasarnya ada hampir di dalam keseluruhan kehidupan manusia modern hari ini. Dalam berbagai literatur sosiologi, era yang kita hidupi hari ini sering disebut sebagai era masyarakat berbiaya tinggi (high cost society). Apa saja butuh biaya. Apalagi ibadah. Hari ini, setiap hari-hari besar keagamaan, terutama agama semitik, selalu beriring dengan tindak-tanduk gila belanja. Bahkan untuk menghadirkan seorang juru dakwah terkenal sekalipun ada lika-liku ongkosiyah-nya. Apalagi hanya sekadar untuk membeli madu atau kurma demi alasan penegakan konsumsi sunah agama.

Ongkos tinggi tidak hanya ada dalam tradisi. Karena Iqbal mengambil kasus utang-utangan, saya juga akan mengambil kasus serupa. Iqbal pasti tahu bahwa amal utang-mengutang itu hari ini bahkan telah menjadi oli pelumas perjalanan peradaban manusia modern. Ada seorang kawan berstatus ASN yang menceritakan perihal tumpukan utangnya di bank. Katanya ia berutang untuk membeli mobil, tanah, dan membangun rumah. Setiap bulan gajinya secara otomatis dipotong oleh bank. Kawan-kawan sesama ASN lain juga punya cerita yang mirip-sama. Tradisi "menyekolahkan" SK PNS ke bank itu mulai mereka bangun sejak gaji mereka tuntas turun 100%. Keperluan mereka bermacam-macam. Mulai dari membangun rumah, membeli tanah, mengkredit mobil, dan keperluan hidup lainnya.

Ada satu cerita menarik tentang ini dari seorang kawan sesama ASN yang juga ditakdirkan menjadi juru dakwah laris. Alkisah, sang kawan itu pada suatu hari mengantarkan SK PNS-nya ke sebuah bank. Semua gajinya ia relakan untuk dipotong demi melunasi utang berikut bunganya. Rupanya pihak bank mempertanyakan apakah mungkin kawan tersebut akan bertahan hidup tanpa sepeser pun gaji? Kawan saya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan berlembar-lembar kertas berisi jadwal ceramahnya selama setahun itu hingga setahun ke depan. Akhirnya bank menyetujui proposal pinjamannya. Dari sini kita bisa memahami logika ongkos modernitas.

Perkawanan saya dengan para penegak ongkos modernitas itu membuahkan berlaksa cerita eka irama. Bahwa mereka semua sering mengeluhkan keadaan keuangan pada awal bulan. Istilah yang paling sering saya dengar adalah "tanggal 1 sama dengan tanggal 30". Artinya, di situ gaji masuk, di situ pula ia keluar. Di situ dompet terisi, di situ pula ia terkuras demi melunasi utang berikut bunga-bunganya. Malah banyak juga kawan yang berpihak pada keuntungan rumah kontrakan ketimbang rumah sendiri yang dibangun di atas utang. Meski bisa dilunasi, tetapi di pundak mereka ada berkarung-karung utang hingga hitungan tahunan. Tentu saja ini di luar berbagai pendapat fiqh yang memperbolehkan perbuatan meminjam uang ke bank. Saya di sini hanya melihat dari logika ekonomi perongkosannya sebagaimana Iqbal melakukannya.

Cerita sahih lain barangkali perlu dituturkan. Pada suatu ketika, ayah saya dimintai pendapat oleh beberapa tetangga yang sangat ingin berhasrat melaksanakan umrah dan naik haji. Mereka bertanya kepada ayah perihal hukum meminjam uang di bank untuk memenuhi ongkos naik haji. Ayah tidak menjawab boleh atau tidak. Ayah tahu bahwa para penanya itu memiliki tanah. Ada pula yang memiliki sawah. Ayah menyarankan mereka untuk menjual sawah atau tanah ketimbang mereka harus naik haji dengan uang pinjaman. Akhirnya mereka berangkat haji. Tapi, tidak dengan uang hasil jual tanah atau sawah, melainkan dengan modal uang pinjaman dari bank lengkap dengan bunganya. Deretan tentang riwayat ongkos modernitas ini belum diperpanjang dengan cerita para pengusaha yang menjadi sahabat karib utang dan bunga-bunganya.

Logika utang-mengutang kepada bank, yang hari ini menjadi semacam "sunah modernitas", mirip dengan logika utang-mengutang sebagai ongkos tradisi dalam tulisan Iqbal. Malah, bagi saya, menggenapi ongkos tradisi itu lebih terhormat dibandingkan dengan mengutang untuk keperluan sandang-pangan-papan yang pada zaman ini lebih tampak sebagai tingkah gaya-gayaan. Kemampuan tabungan hanya bisa untuk membeli Avanza, tapi ngotot ingin memiliki Pajero atau Fortuner. Akhirnya bank menjadi sasaran. Kemampuan ekonomi hanya mengontrak rumah sederhana, namun dengan berbagai argumen kuat akhirnya mendatangi bank untuk membeli tanah dan membangun rumah mewah.

Ongkos untuk menunaikan "sunah" modernitas bagi saya lebih tidak realistis. Kalau tidak punya uang untuk membangun atau membeli rumah, bukankah sebaiknya mengontrak saja? Kalau tidak punya cukup uang untuk membeli mobil, bukankah sebaiknya membeli motor saja? Begitu juga dengan polah utang-mengutang dalam langgam kredit HP, laptop, dan sebagainya yang hari ini menjangkiti ruang-ruang kebudayaan dan peradaban manusia Indonesia.

Saya hanya ingin menyajikan pandangan mengenai fakta budaya yang didasari oleh kesamaan logika: ongkos. Tegasnya, bahwa hari ini kita hidup pada zaman pemiskinan. Baik pemiskinan terang-terangan maupun pemiskinan diam-diam. Ia boleh jadi ada dalam rupa-rupa ongkos tradisi. Boleh jadi pula ia merupa dalam ongkos modernitas.

Tentu saja ongkos modernitas sering selamat dari berbagai tuduhan. Ada pagar argumen rasional sampai religius yang dibangun oleh para pemujanya. Hingga hampir-hampir tidak mungkin ia ditujah dari berbagai arah. Berkebalikan dengan ongkos tradisi yang malah sering dibanting dengan tuduhan klenik, takhayul, tidak efisien, memberatkan ahli musibah, kuno, dan serupa-rupanya. Pada bagian ini, tradisi dan para penganutnya kerap diserang. Terutama oleh para pemuja dalil-dalil agama. Sekalipun saya menjauhi perbuatan mengutang untuk mengongkosi modernitas, tapi di dalam ketidakadilan cara pandang itu kadang saya merasa sedih.

MY. Arafat pegiat seni dan kebudayaan, tinggal di Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com