DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Februari 2019, 10:52 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ongkos Tradisi dan Pemiskinan Diam-Diam

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Ongkos Tradisi dan Pemiskinan Diam-Diam Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Lelaki itu tiba-tiba nongol di depan pintu saya. Sungguh njanur gunung, tidak selazimnya. Biasanya dia cuma melintas di jalan kecil samping rumah, naik motor Mega Pro nya, tanpa pernah bertegur sapa. Di acara-acara kampung memang kadang kami berpapasan, tapi seutas senyum pun sangat jarang terlempar dari bibir berselubung kumisnya.

Saya persilakan dia duduk. Tentu masih dengan penuh rasa heran. Satu-dua paragraf ia sampaikan sebagai pembuka, menyatakan kepingin sesekali mampir ke rumah saya, juga berbasa-basi menanyakan istri saya bekerja di mana.

Waini. Nyambung ini. Dan beberapa detik setelah obrolan itu terasa klik, dia sampaikanlah maksudnya.

Lelaki itu mengatakan bahwa keluarga mertuanya sedang kena musibah. Ada anggota keluarga yang meninggal. Nah, di kampung mertuanya itu, jika ada orang meninggal, maka aneka hidangan harus disiapkan untuk para tamu. Minimal seekor sapi harus dipotong untuk bahan sajian hidangan tersebut.

Mengingat betapa besarnya biaya untuk tradisi kematian itu, maka:

"Maksud kedatangan saya ke sini, kalau njenengan ada kelonggaran, saya mau pinjam uang sekian, Mas. Nanti dua bulan lagi saya kembalikan."

***

Sudah hampir setahun berlalu sejak hari itu. Boro-boro dua bulan uang pinjaman langsung kembali, ternyata kabar dan sekadar permintaan maaf pun tak terkirim sama sekali. Beberapa kali pula saya berjumpa dengan Si Bapak itu. Di masjid, di acara kerja bakti kampung, pada saat melayat waktu ada tetangga meninggal, kala kenduri di RT sebelah, dan sebagainya.

Pak Kumis tampak diam saja melihat saya, saya pun entah kenapa malah seperti sungkan sendiri dibuatnya. Ini sungguh tidak benar. Mosok saya sendiri yang malah sungkan? Bukankah posisi saya adalah "korban", bukan pelaku? Tapi, memang situasi psikologis seperti yang menimpa saya ini lazim, dan barangkali pernah terjadi pada Anda-Anda juga.

Saya tidak hendak bercerita tentang betapa urusan utang-piutang, atau lebih tepatnya urusan diutangi tetangga dan sanak saudara, menjadi sesuatu yang sudah pasti buruk secara sosial. Saya hanya ingin melihat akar penyebab utang itu, yakni bagaimana tradisi yang menyertai kematian hingga hari ini masih terus saja memunculkan kerepotan-kerepotan. Semuanya berlangsung diam-diam, nyaris tidak pernah dibicarakan.

Ini memang tidak terjadi di setiap tempat. Namun, apa yang masih senantiasa berlangsung di lingkungan saya, juga di banyak tempat lain, menunjukkan kondisi demikian. Kematian anggota keluarga membawa konsekuensi pengeluaran yang tidak sedikit. Paling tidak, harus ada pembacaan doa bersama yang diselenggarakan tujuh malam berturut-turut. Selama itu pula, setiap malam sebutlah ada seratus orang warga yang hadir. Ada minuman, cemilan, juga makan besar yang disajikan.

Jika dibikin rata-rata biaya konsumsi per orang 10 ribu, maka per malam satu juta rupiah harus dikeluarkan. Dalam tujuh malam, ya tujuh juta. Itu nilai minimal. Bisa lebih besar lagi, tergantung jenis menu, apalagi pada hari terakhir harus ada besek nasi berkat yang dibawa pulang tiap tamu.

Bagi Anda, angka tujuh juta barangkali sepele. Namun, bagi banyak sekali orang, itu angka luar biasa. Warga kampung yang sehari-hari bekerja sebagai petani atau buruh paling-paling berpenghasilan setara upah minimum, bahkan kadang lebih kecil lagi. Tujuh juta bisa senilai setengah tahun belanja rumah tangga, bisa bermakna tabungan bertahun-tahun, bisa juga bermakna simpanan yang sedianya dialokasikan untuk biaya sekolah anak-anak mereka. Dalam hitungan hari, semua itu bisa lenyap karena tradisi.

Apa yang saya ceritakan ini baru sebagian saja. Pernah ada kabar tetangga menjual sawahnya. Dengar-dengar, sawah itu ia jual untuk kebutuhan pembiayaan peringatan seribu hari kematian orangtuanya. Dan itu biasa, bukan modus yang langka. Kebiasaan yang terlalu melekat, dan akhirnya memproduksi tekanan-tekanan sosial, adalah kata kuncinya.

Jadi, bagi warga di desa-desa agraris seperti daerah kami, sawah dan ternak selalu menjadi andalan untuk kebutuhan-kebutuhan pengeluaran besar. Makanya, kalau anak mau masuk jadi tentara, misalnya, sawah dilepas buat ongkos "oli". Pada lain waktu, sawah dijual untuk biaya rumah sakit jika ada anggota keluarga yang opname berminggu-minggu. Pada kali lain ya itu tadi, sawah dilepas untuk biaya tradisi terkait kematian.

Masih mending kalau sawah itu dijual untuk ongkos pelicin anak yang masuk tentara. Artinya, satu modal produktif cuma digeser menuju modal produktif lainnya. Tolong jangan dulu membahas isu korupsi dalam penerimaan anggota TNI, apalagi isu rapuhnya ketahanan pangan karena sawah keluarga itu kemungkinan langsung dibeli orang dan disulap menjadi kapling-kapling perumahan. Ini semata dari sudut pandang produktivitas keluarga yang semula memiliki sawah itu. Jika tadinya pemasukan keluarga berasal dari hasil bertanam padi atau palawija, kini berubah jadi sumber tetap yang berasal dari gaji kelas tamtama. Cukup manis, bukan?

Berbeda halnya jika tujuannya untuk pembiayaan tradisi kematian. Pertama, jelas sekali satu sektor produktif yang menjadi andalan keluarga akan lenyap. Anggota keluarga hilang, sumber pemasukan pun menyusul hilang. Kedua, seringkali hal itu terjadi secara mendadak, tanpa persiapan, tanpa ancang-ancang, sebagaimana umumnya kematian yang acapkali tanpa penjadwalan. Akibatnya, yang terjadi adalah semacam kemiskinan mendadak.

***

Jika membaca cerita saya ini, sekilas pasti muncul kesan bahwa saya tampil sebagai sebangsa laskar Padri puritan yang hendak membabati tradisi-tradisi lokal. Tidak, jangan salah paham. Fokus saya sama sekali bukan dalam isu purifikasi ajaran agama. Meski saya sendiri secara genetis lahir dan tumbuh dari keluarga yang agak-agak puritan, bukan berarti saya menolak secara membabi buta tradisi-tradisi lokal demikian.

Banyak tradisi lokal yang membangun kehangatan, memperkokoh spirit paguyuban, dan menjadi salah satu benteng terakhir yang melindungi akar identitas kita dari segala gempuran pengaruh ini-itu. Namun, ternyata tidak semua yang tampak sebagai kearifan itu benar-benar arif adanya. Dalam banyak kasus, ternyata mekanisme-mekanisme yang seharusnya memperkokoh fondasi kehidupan bersama itu malah terus-menerus menggerogotinya, merapuhkannya, dan menciptakan problem-problem sosial susulan di belakangnya.

Selama ini, sesuai riset-riset ekonomi, kita cenderung gampang percaya bahwa hanya ada dua hal yang menciptakan kemiskinan masyarakat, yaitu konsumsi beras dan rokok. Namun, kemiskinan yang tercipta dari dua penyebab itu berjalan secara gradual seiring kenaikan harga, bersifat perlahan, setahap demi setahap, dan relatif terpantau. Pada saat yang sama, kita menutup mata bahwa ada sumber-sumber yang menciptakan kemiskinan secara mendadak di dalam tubuh masyarakat kita. Kita jarang berani mengusiknya, karena takut dituding puritan, atau tidak menghormati kekayaan tradisi lokal.

Mungkinkah dirancang satu strategi budaya kecil-kecilan yang mampu mengatasinya? Atau, kita biarkan saja sendi-sendi sosial terus tergerus, tampak kokoh dan guyub di luar tapi sesungguhnya keropos dan menyedihkan di dalam, sembari kita asyik-masyuk berdiskusi tentang wacana-wacana besar?

Iqbal Aji Daryono warga sebuah kampung di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed