Jungkat-Jungkit Kaya-Miskin

Kolom

Jungkat-Jungkit Kaya-Miskin

Arie Saptaji - detikNews
Jumat, 01 Feb 2019 14:05 WIB
Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Arie Saptaji (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Awal 2019, perfilman Indonesia menawarkan topik menarik: jungkat-jungkit kaya-miskin. Awal Januari, tayang Keluarga Cemara yang mengisahkan keluarga yang bangkrut dan jatuh miskin. Akhir Januari, beredar Orang Kaya Baru yang bertutur tentang keluarga yang kaya mendadak. Bagaimana kedua film itu menyikapi dinamika perubahan status sosial-ekonomi ini?

Penggambaran kaya-miskin kerap terjebak dalam stereotip miskin-tapi-bahagia atau kaya-tapi-celaka. Stereotip itu bisa jadi dilambari kearifan. Bahwa kebahagiaan itu tidak hanya ditentukan oleh kekayaan. Bahwa ada banyak hal yang lebih berharga daripada harta. Masalahnya, stereotip cenderung menyederhanakan persoalan. Kondisi yang kompleks dirampatkan jadi hitam-putih. Kedua film tadi belum sepenuhnya berhasil lolos dari perangkap ini.

Keluarga Cemara (Yandy Laurens) merupakan prekuel dari kisah yang selama ini kita kenal sebagai cerpen dan sinetron serial karya Arswendo Atmowiloto, memaparkan asal-muasal kemiskinan keluarga tersebut. Abah bangkrut dan terpaksa memboyong keluarganya dari Jakarta ke desa di dekat Bogor. Film berlanjut menggambarkan proses adaptasi dan penerimaan mereka ketika mendadak jadi orang miskin.

Adaptasi berlangsung dalam latar desa yang romantis: warganya lugu dan suka menolong. Di sisi lain, Emak (baca: perempuan) masih ditempatkan sebagai kanca wingking dalam mengatasi krisis keluarga. Tetap Abah yang mesti tampil sebagai pahlawan keluarga.

Padahal, Abah sendirilah yang ceroboh. Bagaimana tidak? Baru saja bangkrut gara-gara tidak hati-hati bikin surat perjanjian, eh malah diulangi lagi: dalam kondisi emosi lagi galau, tanpa pikir panjang srat-sret tanda tangan akta jual-beli rumah. Bikin kesalahan yang lain dong, Bah!

Lalu, film ini terpeleset lumayan jauh. Dewa penolong muncul melalui peluang bisnis yang kekinian dan, masalahnya, sekaligus sarat pesan sponsor: ojek online. Kesannya jadi menyerupai film-film pendek iklan Thailand yang sering viral di YouTube itu. Film Thailand itu bahkan kadang tidak perlu menampilkan produk yang diiklankan, cukup memasang title card di bagian akhir. Dalam Keluarga Cemara, ojek online itu menjadi "bintang".

Dengan menjadikan Abah sebagai pengendara ojek online, jika dibikin sekuel, bakal muncul kerepotan untuk menyejajarkannya dengan pesan yang terkandung dalam kisah awal. Dalam cerpen dan sinetron serial, Abah adalah tukang becak. Kalau tidak terpaksa, kalau tidak betul-betul sudah tidak ada pilihan lain, rasanya orang tidak akan menjalaninya. Abah sebagai tukang becak mewakili orang miskin dalam keuletan, kegigihan, ketidakcengengan, dan kreativitas melawan kemelaratan. Misalnya, rumah bocor saat musim hujan dinikmati sebagai konser musik.

Lain cerita ketika Abah menjadi pengendara ojek online. Bisnis ini digambarkan amat menjanjikan dan ke depan diramalkan kian menggurita. Anda mungkin pernah mendengar kesaksian tentang pegawai bank yang rela melepaskan kariernya dan beralih menjadi pengendara ojek karena prospeknya lebih cerah. Semacam itu. Nah, Abah secara tidak langsung menjadi bintang iklannya, yang tentu perlu digambarkan meraih taraf kesuksesan tertentu. Entah bagaimana sekuelnya nanti menyiasati dinamika ini.

Orang Kaya Baru (Ody C. Harahap) menggambarkan kondisi sebaliknya, melalui sebuah keluarga dengan tiga anak. Bagian awalnya, ketika keluarga itu masih miskin, terpapar cukup hangat dan cukup segar, seperti adegan berendam di bak mandi itu.

Sebenarnya mereka tidak miskin-miskin amat. Buktinya anak-anak bisa kuliah dan sekolah di tempat yang mahal. Akibatnya, ada penggambaran kemiskinan yang berlebihan. Sebuah keluarga yang bisa menuruti nasihat Bu Susi untuk sering-sering makan ikan, masak tidak mampu membelikan sepatu layak pakai untuk si bungsu? Lalu, mestikah mereka menyusup ke resepsi pernikahan orang tak dikenal sekadar supaya bisa makan enak? Tidak cocok untuk orang miskin tetapi idealis seperti mereka.

Lalu, keluarga ini kaya mendadak-secara mengejutkan dan agak ganjil. Sang Ayah ternyata selama ini pura-pura miskin. Ketika ia meninggal secara tiba-tiba, ternyata ia sudah menyiapkan warisan melimpah bagi istri dan ketiga anaknya. Di sini terlihat betapa gagap si penulis skenario berusaha menyodorkan alasan kekayaan mendadak itu.

Masalahnya lagi, begitu keluarga itu jadi kaya, cerita pun jadi ambyar, berlebihan, dan klise, penuh dengan fantasi dan stereotip tentang orang kaya mendadak. Langsung kalap belanja ini-itu sampai... ya, kira-kira sudah bisa ditebak ke mana ujungnya, bukan? Memang sah-sah saja kalau niatnya mau main-main dan meledek, tetapi tidak adakah tawaran yang lebih bernas?

Bandingkanlah dengan cerita berikut ini. Sekantung besar uang jatuh-benar-benar jatuh-ke pangkuan Damian, bocah Inggris berumur 8 tahun. Karena menganggap uang itu dikirim oleh Tuhan, Damian, yang akrab dengan sejarah para santo Katholik, berupaya menggunakan uang itu untuk memberkati sesama, terutama dengan menolong orang-orang miskin.

Anthony, kakaknya yang berusia 10 tahun, menganggap uang itu sekadar sebagai durian runtuh, suatu keberuntungan yang tak terduga. Ia ingin berfoya-foya dengan uang itu, antara lain dengan menawar apartemen dan membayar sejumlah anak nakal di sekolah untuk menjadi pelindungnya.

Perbedaan sikap kedua kakak-beradik itu menjadi benang merah film Millions (Danny Boyle, 2004). Secara mengusik film itu dengan jujur memperlihatkan bahwa mempergunakan uang secara murah hati itu tak jarang lebih pelik daripada menghambur-hamburkannya secara tak bertanggung jawab. Bukankah memang demikian tantangan yang kita hadapi?

Melalui dua tokoh, Danny Boyle menawarkan dua sikap terhadap kekayaan. Dalam Orang Kaya Baru, ada seorang ibu dan tiga anaknya, dan mereka semua kalap, senada-seirama berlomba menghamburkan uang warisan. Tidak adakah seorang pun yang berpikir untuk menggunakan uang itu secara waras?

Pada akhirnya, keluarga rakus itu seolah-olah dicemooh, "Kalian tidak pantas jadi orang kaya, kalian tidak bisa bertanggung jawab, hidup kalian malah jadi berantakan!" Dan, mereka pun menerima "hukuman" dengan ikhlas dan bahagia.

Keluarga Cemara dan Orang Kaya Baru, dalam taraf yang berbeda-beda, menguatkan tawaran yang hitam-putih itu: hidup-sederhana-tapi-bahagia atau hidup-kaya-tapi-celaka. Miskin mendadak itu musibah; kaya mendadak itu racun. Tidak adakah alternatif yang lain? Dalam Orang Kaya Baru, misalnya, kalau si bapak mau mendidik keluarganya, kenapa tidak selagi masih hidup, dengan menunjukkan bagaimana hidup secara kaya, terhormat, bijaksana, dan bahagia?

Pada 1973, Sjuman Djaya menghasilkan salah satu karya terbaiknya, Si Mamad. Terinspirasi oleh cerpen penulis Rusia, Anton Chekhov, film ini sukses menyajikan isu kemiskinan dan dampak sosialnya. Kisahnya tentang Mamad, pegawai kantor yang jujur dan tertib. Saking tertibnya, waktu berangkat dan waktu pulang kantornya dijadikan patokan oleh tetangga untuk berangkat bekerja atau berhenti ngerumpi.

Dengan gaji pas-pasan, ia menghidupi istri dan enam anaknya. Selama ini ia mampu berdiri teguh dalam sikapnya. Namun, ketika didesak oleh kebutuhan menjelang kelahiran anak ketujuh, pertahanannya ambrol. Ia mengikuti kebiasaan teman-teman kantornya: korupsi kecil-kecilan.

Nyatanya, hati nuraninya tak bisa dibohongi. Mamad tersiksa. Ia berusaha menjelaskan duduk perkaranya pada atasannya. Atasannya sebenarnya maklum-maklum saja karena kebiasaan mengutil aset kantor sudah jadi budaya di instansinya. Toh dia sendiri juga tidak bersih dari korupsi.

Mamad tak siap menerima keadaan ini. Ia bergumul untuk menegakkan kembali integritasnya. Tersiksa oleh gugatan hati nurani, Mamad menggali liang kuburnya sendiri.

Film ini cocok betul diputar di sel penjara para koruptor dan pengutil aset negara. Berulang-ulang. Tanpa jeda. Dua puluh empat jam sehari. Dengan volume selantang-lantangnya. Sebuah film yang menohok.

Empat puluh enam tahun lalu, isu kemiskinan diangkat jadi film komedi tragis yang kaya makna dan penuh gugatan. Kini, jungkat-jungkit kaya-miskin dibesut sebagai bahan iklan dan ledekan.

Arie Saptaji penulis serabutan dan tukang nonton, tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)