DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 11 Januari 2019, 14:27 WIB

Kolom

Goenawan Mohamad, Kafka, dan Keadilan

Robi Mardiansyah - detikNews
Goenawan Mohamad, Kafka, dan Keadilan Foto: Dok.detikcom
Jakarta - Setiap tafsir puitik terhadap teks sudah selalu memiliki praandaian. Panji-panji puitika bahasa menyebutnya dengan "harmoni". Ia mengacu pada keselarasan, beroperasi di ranah "antara", menampik positivitas sembari meng-Illahi-kan negativitas internal yang terhampar di dalam teks. Ia bekerja tak ubah mantra, berangsur-angsur gaib akibat pengulangan-pengulangan yang mengikutinya. Mengutip Goenawan Mohamad, sarat "bunga-bunga dan memberikan aroma harum yang menyenangkan." Juga mania.

Goenawan Mohamad, dalam sebuah ulasannya mengenai hukum dan keadilan, mengawali tulisannya dengan sebuah aporia, "Tanpa yang-mustahil, manusia mati berkali-kali." Goenawan membayangkan, kita serupa "orang dari jauh" , "orang dari udik", "sang tamu" yang terdapat dalam Vor dem Gesetz (diterjemahkan Widya Mahardika menjadi Di Depan Hukum dalam Seorang Dokter Desa, Yogyakarta: OAK, 2016) karya Kafka yang fenomenal itu ketika hendak menemui Hukum --yang menurut Goenawan, seraya mengikuti Badiou, "sebuah pengertian yang perlu mengenakan huruf Kapital di dalam cerita ini."

Dengan menggunakan model imanensi Deleuze dan Guattari, dan Titorelli, Goenawan jatuh pada sebuah simpulan yang pada dasarnya tetap tak tersimpulkan: maka keadilan sebagai "proses imanen dari hasrat" berbeda dengan hukum, yang bila diperlakukan sebagai sesuatu yang transendental akan mirip "mesin yang abstrak". Beda hukum dan keadilan ditegaskan, batas-batas keduanya diakui, namun sekaligus tak dihiraukan oleh Goenawan. Lantas, tentang Hukum dan Keadilan, dua ihwal yang sama-sama perlu dibumbuhi Kapital pada awalannya, dalam pandangan Goenawan, itu perkara "kebetulan". Hukum harus jelas di tengah keadilan yang samar-samar (?).

Tak jelas apa yang dimaksudkan Goenawan tentang keadilan yang tampil sebagai kebetulan itu. Sebab, dalam What is Philosophy yang masih terdapat pada halaman yang sama dari yang dikutip Goenawan, Deleuze dan Guattari juga menulis, "Ruang imanensi bukanlah sebuah konsep atau konsep dari semua konsep." Ia tak hendak menggampangkan perbedaan, mengaburkan detail ke dalam generalitas --teks tak selamanya bisa lebur ke dalam konteks. Keadilan dan hukum yang terdapat dalam ruang imanensi subjek bukan bagian dari struktur yang tertutup; ia istimewa akibat sifatnya yang "jalin-menjalin".

Dengan kata lain, keadilan tak hanya muncul dari (dan oleh) hukum. Jika seseorang menganggap bahwa hukum merupakan keadilan-yang-niscaya, bahwa keduanya punya karakteristik yang sama sehingga mesti dibumbuhi Kapital, hal ini berakibat tak dimungkinkannya "penciptaan dan peletakkan" keadilan di dalam hukum. Sebagaimana yang dijelaskan Deleuze dan Guattari kemudian, apabila aspek jalin-menjalin ruang yang beragam itu digampangkan, fungsi hukum sebagai ikhtiar penemuan keadilan juga tak dimungkinkan. Goenawan seperti hendak mengatakan --lengkap dengan bunga dan harum-- keadilan sebagai sesuatu yang tak mungkin ditindak dan diupayakan. Ia mungkin ada bila dipasrahkan menjadi milik "kebetulan". Dan hukum, bila konsisten merujuk pada asumsi Deleuze dan Guattari (tanpa puisi, tentu saja!), hanya satu ruang di antara sekian banyak ruang yang secara langsung jalin-menjalin dengan keadilan.

Goenawan agaknya menganggap, keadilan menjadi keadilan sejauh ia dibiarkan sebagai yang-acak, tak tertebak, niscaya. Goenawan kemudian mengambil contoh hari kemerdekaan Republik Indonesia, yang baginya, tak pernah ada seandainya keadilan diperlakukan sebagai akhir dari suatu upaya terencana, hasil dari perjuangan bertahun-tahun untuk bebas dari kolonialisme. Apa jadinya apabila kita menganggap keadilan sebagai sesuatu yang niscaya, gaib, bahwa ia menyerupa sesuatu yang buta seperti yang diasumsikan Titorelli, dan kemudian dibayangkan oleh Goenawan? Meminjam pandangan Gregoris Ragil dalam esainya yang berjudul The Ambivalent Face of Japanese Colonialism and The Resurgence of Nationalism in Indonesia (1942-1945), bila kemerdekaan lahir bukan hasil dari "'agensi' para nasionalis", kekuatan-kekuatan yang digalakkan oleh Sjahrir dkk di level akar rumput jadi tak ada artinya --dan keadilan tak mungkin lagi.

Albert Camus, seseorang yang kata-katanya berkali-kali dipungut Goenawan namun juga sering tak dicantumkan, menganggap karya-karya Kafka ibarat samudera yang keistimewaannya terletak pada kedalaman dan sifatnya yang multidimensional. Karya-karya Kafka, kata Camus, "menuntut untuk dibaca ulang dengan sudut pandang baru." Ia seperti kolase kemungkinan-kemungkinan; "keagungan karya tersebut terletak pada kenyataan bahwa ia menawarkan segalanya dan tak memastikan apapun."

Kita boleh berasumsi, barangkali Goenawan tak punya niat mengerdilkan makna keadilan yang tak ubah "mesin yang abstrak" tatkala berhadap-hadapan dengan hukum. Terutama dalam konteks Di Depan Hukum, yang mana setiap upaya menuntut keadilan di dalam hukum tak ayal membuat kita serupa "orang dari desa", yang dengan sikap patuh dan khusyuk menunggu dipersilakan masuk "si Penjaga Pintu". Namun, sebagaimana Deleuze dan Guattari yang menekankan bahwa ruang imanensi tak dapat dipisahkan dari "dunia material objektif", saya menolak menggunakan kerangka puitik untuk memahami cerita ini dengan suatu tilikan yang bermain-main dalam dimensi "paradoksal teks" di mana imajinasi puitik mengakibatkan ciutnya arti dan makna keadilan, menyembunyikan borok hukum di balik otoritas si Penjaga Pintu.

Ada kalanya sejarah tak sepuitis yang dibayangkan Goenawan. Tak sesendu "kepak sayap" yang terdapat dalam karya Titorelli, atau sekerdil tokoh yang menanti keadilan dalam cerita Di Depan Hukum itu. Soal ini, saya teringat kalimat terkenal seorang intelektual muda, kalimat yang kemudian lebih kesohor ketimbang keseluruhan ide yang ada di dalam karyanya, "Di hadapan Tuhan, kita hanya bisa diam. Namun, di hadapan dunia, kita tidak bisa diam."

Bersalahkah Goenawan bermain-main dengan puitika bahasa? Saya ragu. Sebab ada yang memang tak bisa dibantah dari ulasan Goenawan tentang kaitan hukum dan keadilan di dalam karya Kafka itu. Bahwa kita sama-sama tak tahu apa yang sebenarnya terjadi; ada apa di balik pintu, apakah ancaman kematian atau justru kepastian Keadilan dan Hukum?

Namun, adakah Goenawan tahu apa gerangan yang membawa orang dari udik itu bisa sampai Di Depan Hukum? Sebab Kafka tak pernah tahu.

Robi Mardiansyah penulis lepas


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed