DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 22 September 2018, 11:46 WIB

Selat Malaka dan Potensi Industri Bioenergi Indonesia

Ishadi SK - detikNews
Selat Malaka dan Potensi Industri Bioenergi Indonesia Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Selat Malaka yang terbentang dari Sabang sampai Singapura, sepanjang 800 km adalah pusat lalu lintas pelayaran semenjak abad ke-14 M. Selat itu tidak terlalu luas, namun cukup dalam untuk bisa dilalui kapal-kapal besar. Minimum 11 juta barel minyak per hari melewati selat ini dari Timur Tengah menuju Asia Timur. Sekarang ini 90.000 kapal, umumnya kapal kontainer, yang lewat setiap tahun. Itu berarti Selat Malaka setiap tahun dilewati sepertiga barang perdagangan dan separuh perdagangan minyak dunia.

Selama berabad-abad, Singapura menikmati sebagai satu-satunya pelabuhan Samudera tempat bersandarnya kapal-kapal dagang (kontainer) serta kapal-kapal tanker raksasa yang membawa minyak mentah dari Timur Tengah ke Asia Timur; China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Samudera Pasifik. Singapura menjadi pelabuhan strategis sekaligus pengolah bahan-bahan mentah dari Australia, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lainnya. Pelabuhan Singapura-lah yang menyebabkan Singapura berkembang pesat dengan GNP per kapita. Jauh dibanding dengan GNP per kapita negara-negara ASEAN lainnya.

Indonesia pernah 'kecipratan' rezeki transport barang dan minyak bumi dari Eropa dan Timur Tengah ketika Sabang dinyatakan sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1896-1980. Malaysia lebih cerdas menyikapi lokasi geografis ini. Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada 1997 mulai mengambil sebuah langkah strategis. Ia berinisiatif untuk membangun pelabuhan khusus kontainer seluas 5.000 hektar di Tanjung Pelepas, Johor Baru sekitar 100 km di sebelah barat Singapura. Oktober 1999 Mahathir mengajak Maersk Lines sebagai partner yang akan menggunakan kawasan baru tersebut secara sendirian.

Maersk Lines adalah perusahaan pengangkut kontainer terbesar di dunia yang selama ini menggunakan Singapura untuk pelabuhan mereka. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun setelah beroperasi tahun 2000, Tanjung Pelepas berhasil mencapai peningkatan bongkar muat 1 juta kontainer TEUs (Twenty-food Equivalent Units). Rekor dunia pertumbuhan pelabuhan kontainer tercepat.

Sebagai perbandingan, Pelabuhan Singapura untuk mencapai 1 juta kontainer TEUs memerlukan waktu 10 tahun. Pada 2002 Evergreen Marine Corporation perusahaan pengangkut kontainer terbesar kedua di dunia ikut memindahkan operasi hariannya dari Pelabuhan Singapura ke Tanjung Pelepas.

Dengan menjadi pelabuhan utama dua perusahaan kontainer terbesar di dunia, kemajuan Tanjung Pelepas menjadi sangat cepat. Kenaikannya rata-rata 14,5% per tahun. Tahun 2000 Tanjung Pelepas berhasil mencapai peningkatan bongkar muat 423.710 Container TEUs. Pada 2001 melonjak menjadi 2 juta TEUs dan 2015 - 9,10 juta TEUs.

Pada saat itu Malaysia mengembangkan perusahaan ini menjadi dua kali lebih luas, sehingga mampu menampung bongkar muat 150 juta TEU Technical Handling Capacity. Tanjung Pelepas juga dihubungkan dengan angkutan kereta api four-track railways ke Kuala Lumpur, Thailand, hingga ke Vietnam.

Meskipun terlambat, Indonesia juga mengembangkan pelabuhan serupa di Kuala Tanjung yang diresmikan pada Agustus 2018 yang lalu. Ditandai dengan mendaratnya Superstar Libra berkapasitas 600 ribu TEUs. Ketika meresmikan beroperasinya Kuala Tanjung, Menteri Perhubungan Rudi Karya menyatakan pelabuhan samudera ini akan terus ditingkatkan untuk mampu melakukan bongkar muat 20 juta TEUs per tahun, yang akan ditingkatkan secara bertahap hingga tahun 2023.

Beroperasinya Pelabuhan Kuala Tanjung akan menjadi hook bongkar muat barang bertonase besar yang selama ini lebih memilih bersandar di pelabuhan Port Klang Malaysia dan Singapura. Pelabuhan Kuala Tanjung diintegrasikan dengan Sei Mangkei Special Economic Zones di kawasan seluas 3.000 hektar. Rencananya akan juga dibangun atau ditingkatkan Pelabuhan Malahayati Dumai, Pelabuhan Belawan, dan Batam untuk menangkap pasar di perairan Selat Malaka yang sangat besar, sekarang ini mencapai 100 juta TEUs.

Dari sisi waktu kita memang jauh tertinggal. Di bawah Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang memimpin pemerintahan selama lebih dari 22 tahun, Malaysia memang berkembang luar biasa cepat.

Pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 5,8% pada periode April-Juni 2017. Pertumbuhan ini menjadikan Malaysia negara termaju di ASEAN setelah Singapura. Indonesia terlambat mengantisipasi potensi pelabuhan laut di sepanjang Selat Malaka yang sangat strategis itu. Selama ini bahan mentah maupun produk setengah jadi dari seluruh Indonesia diangkut oleh kontainer menengah sampai dengan 5.000 TEU ke Singapura, dari Singapura menggunakan kapal-kapal kontainer raksasa, 10.000 ton TEUs. Barang-barang tersebut kemudian dibawa ke negara-negara Asia Pasifik dan pantai barat Amerika. Dengan cara itu produk-produk Indonesia menjadi mahal dan menyebabkan margin keuntungan rendah.

Kalau saja pemerintah mampu menetapkan status Sabang sebagai kawasan ekonomi bebas seperti pernah dilakukan 30 tahun yang lalu, dan katakanlah mampu merebut 5% saja dari lalu lintas kapal-kapal pengangkut minyak maupun barang berhenti di Sabang untuk mengisi air, bahan bakar, serta kebutuhan kapal lainnya Indonesia paling tidak akan mampu merenggut 4.500 kapal setiap tahun. Sebuah jumlah yang lumayan besar untuk merenggut devisa dolar untuk kawasan ekonomi bebas Pulau Sabang.

Sementara itu potensi sepanjang pantai timur Sumatera yang belum tergali adalah bahan bakar dari mangrove nipah (bioenergi). Nipah adalah sejenis palem (palma) yang tumbuh di hutan bakau atau di daerah pasang surut tepi laut. Nipah dapat disadap niranya yakni cairan yang diperoleh dari tandan bunga yang belum mekar. Di Malaysia nira nipah dibuat sebagai bahan baku ethanol yang dapat diijadikan bahan bakar nabati pengganti minyak bumi. Ethanol yang dihasilkan sekitar 11.000 liter/hektar/tahun, jauh lebih unggul dibanding kelapa sawit 5.000 liter/hektar/tahun.

Indonesia belum memanfaatkan nipah ini, namun Malaysia telah mengeksploitasi lewat perusahaan Pioneer Bio Industries Corp Sdn Bhd (PIBC) yang mulai akhir tahun 2009 sudah mampu memproduksi 78.000 barel equivalent bbm per tahun. Sampai tahun 2020 mereka mengklaim akan menghasilkan 70 miliar liter bahan bakar bioenergi ethanol senilai USD 35 Miliar.

Indonesia hingga sekarang belum juga siap untuk mengelola pohon nipah yang kawasannya 10 kali lebih luas daripada Malaysia. Bahkan bioenergi ethanol telah dikampanyekan Prabowo pada 2014 lalu, ketika kalah dalam Pilpres, dan gagasan bioenergi pupus. Siapapun yang kelak menjadi Presiden mestinya mau mendorong industri bioenergi yang potensinya melimpah ini di sepanjang Sumatera dan pantai barat Kalimantan.

Mengapa tidak?

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed