DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 20 September 2018, 12:03 WIB

Kolom

Prabowo dan 'The Invisible Power'

David F. Butar Butar - detikNews
Prabowo dan The Invisible Power Ilustrasi: Fuad Hasim
Jakarta -

Gerakan politik umat yang begitu terasa pada tahun politik 2017 lalu, meletakkan Pilgub DKI Jakarta sebagai ajang uji kekuatan. Benar, pengaruh penyilangan agama dengan politik berbuah manis dengan menumbangkan petahana pada saat itu dan menghantarkan pasangan Anis-Sandi sebagai jawara Pilgub DKI Jakarta 2017.

Di balik dinamika politik saat itu, ada nama Prabowo Subianto yang terkenal sebagai "king maker". Gerakan politik umat FPI yang ada saat itu dimotori oleh Rizieq Shihab juga terbilang sukses sebagai bagian dari lingkaran politik Prabowo untuk mewujudkan hasrat politiknya.

Menjelang tahun politik 2019 menjadi pekerjaan baru lagi bagi para elite-nya Prabowo. PKS yang selama ini membangun koneksi politik yang baik dengan Prabowo, mendaulat Mardani Ali Sera sebagai salah satu jenderal tempurnya. Tagar '2019 Ganti Presiden' sukses mendapat tempat di tengah masyarakat sebagai polemik.

Kasus penistaan agama yang terjadi sebelumnya pada Ahok menjadi legitimasi atas gerakan politik umat untuk berdiri teguh dalam dinamika politik Indonesia saat ini. Dengan begitu para elite dalam lingkaran politik Prabowo terbilang memiliki akses yang kuat masuk ke ranah isu agama untuk dipolitisasi.

Modal Prabowo

Bak laga pertandingan sepak bola, leg pertama pada 2014 yang lalu berhasil dimenangkan oleh Jokowi. Leg kedua pertarungan Jokowi vs Prabowo akan tersaji pada 2019 mendatang. Setelah sah hanya ada dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan maju dalam kontestasi pilpres mendatang, Prabowo akan kembali menantang Jokowi sebagai petanaha yang kini berpasangan dengan salah satu ulama besar yakni Ma'ruf Amin. Tantangan berat pun semakin terlihat bagi kubu Prabowo.

Namun, di samping itu gerakan politik umat hadir sebagai "modal" bagi Prabowo. Dalam pandangan Piere Bourdieu, modal berkaitan dengan persoalan kekuasaan dan dominasi. Jika dikaji berdasarkan konstruksi teori modal Bourdieu, modal simbolik kini sudah dimiliki oleh Prabowo. Artinya, adanya kelompok sebagai simbol yang memiliki kekuatan dalam mengkonstruksi realitas, mampu menggiring orang untuk mempercayai, mengakui dan mengubah pandangan orang tentang realitas seseorang, sekelompok orang, sebuah partai politik, atau sebuah bangsa.

Hadirnya koalisi gerakan Islam politik seperti FPI, GNPF, dan Garda 212 memperkuat posisi Prabowo dalam percaturan politik nasional yang beberapa tahun terakhir ini diwarnai dengan isu agama. Bentuk kekecewaan beberapa oknum politik agamis terhadap penguasa saat ini mengharuskan mereka mengorganisir kelompok dan juga isu agar dapat mewadahi kepentingan mereka dalam percaturan politik saat ini. Dengan hadirnya mereka dalam lingkaran politik Prabowo, menjadi modal yang bisa diperhitungkan guna mencapai target pada kontestasi pilpres mendatang.

Invisible Power

Politik tidak akan pernah terlepas dari kekuasaan. Dalam konteks ini, hadirnya gerakan Islam politik tentu menginginkan sebuah perubahan dalam pola kekuasaan saat ini. Proses demokrasi di Indonesia beberapa waktu terakhir ini sangat mencerminkan kekuasaan yang tidak terlihat (invisible power). Contohnya dalam bentuk partisipasi masyarakat yang dipengaruhi oleh rayuan simbolik berupa ideologi atau semacamnya.

Ideologi yang dimaksud biasanya berbasis agama dan sangat bersifat hegemonik. Elite agama menjadi salah satu faktor penentu dalam keberhasilannya. Mencuatnya nama Rizieq Shihab dapat menuntun partisipasi masyarakat atas dasar nilai agama. Tentunya hal tersebut sangat menguntungkan pihak Prabowo. Dalam praktiknya invisible power sangat terikat dengan pola perilaku pemilih yang menjadi faktor penting untuk memenangkan hati masyarakat.

Munculnya oknum yang bersuara di tengah masyarakat dengan berbagai interpretasi religius demi kepentingan politik tertentu nyatanya dapat melukai demokrasi dan kedewasaan berpolitik. Namun, ketika berbicara kekuasaan, pola permainan isu pun menjadi salah satu cara terbaik untuk mengotak-atik dan mengkotak-kotakkan masyarakat dalam konteks pemilihan. Segala sesuatunya tidak lagi berangkat dari pilihan politik yang rasional, tetapi lebih ke arah pengakuan atas suatu ideologi berbasis agama tersebut dan keberpihakan yang bersifat dogmatis.

Prabowo dan koleganya sudah menang dengan "gaya politiknya" di kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017. Akankah hal yang sama berlaku di Pilpres 2019 mendatang?

David F. Butar Butar peneliti di Depublica Institute (Center for Local Development Research and Studies)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed