DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 September 2018, 10:06 WIB

Kolom

Menyederhanakan Olahraga Masyarakat

Irfan Aryanto - detikNews
Menyederhanakan Olahraga Masyarakat Puncak Perayaan Hari Olahraga Nasional 2018 (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Gegap gempita puncak perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) berlangsung di Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara pada Minggu, 9 September lalu. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dalam sambutannya mengaitkan Haornas sebagai momentum tepat menumbuhkan kesadaran berolahraga masyarakat, dan mengajak pihak swasta membangun sarana-sarana olahraga di berbagai negeri.

Perayaan kolosal Haornas menggariskan olahraga adalah hak setiap warga negara. Olahraga harus berupa kegiatan menyenangkan dan mensolidkan. Itulah mengapa spirit memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat harus menjadi udara yang dihirup seluruh lapisan masyarakat. Olahraga tidak boleh terbatasi oleh politik, kesukuan, dan keagamaan, apalagi sampai mengkotak-kotakkan.

Membanggakannya prestasi olahraga atlet Indonesia pada ajang Asian Games 2018 dengan raihan 31 emas menandai olahraga bangsa ini memiliki tren baik. Tetapi, jangan dilupakan, olahraga tidak selalu identik dengan prestasi. Bahwa olahraga sebagai kanalisasi pencegahan penyakit perlu didengungkan. Bila konsumsi obat-obatan dalam pengobatan penyakit memiliki efek samping, maka olahraga berfungsi mencegah penyakit lebih bijak menjadi pilihan.

Pada dasarnya olahraga identik dengan kegiatan fisik rutin yang menyehatkan. Sayangnya, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebanyak 26,1% penduduk Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik. Padahal aktivitas fisik rutin bermanfaat mengatur berat badan proporsional dan menguatkan kerja sistem pembuluh darah. Aktivitas fisik seperti menyapu, mengepel, berjalan, mencangkul, menimba air, dan lain-lain diyakini mendukung peningkatan kebugaran. Sedangkan, aktivitas seperti duduk kerja di depan komputer berjam-jam atau duduk menonton TV dan bermain games berpotensi terjadinya penyakit penyumbatan pembuluh darah serta mempengaruhi umur harapan hidup.

Kehidupan modern yang menuntut pola kompetitif dan penuh stres dapat memicu penurunan kesehatan signifikan. Padatnya pekerjaan penuh waktu menjadi alasan banyak orang tak berolahraga. Daripada pekerjaan terbengkalai, kegiatan olahraga ditunda dulu. Begitu pikir sebagian orang-orang. Jadilah olahraga menempati urutan kesekian dalam prioritas kegiatan.

Kegiatan olahraga dalam bentuk melakukan aktivitas fisik tanpa meninggalkan tempat bekerja merupakan alternatif untuk menjaga kebugaran. Sebagai contoh, jalan kaki tiga kali seminggu selama 30 menit dapat membantu sistem pernapasan lebih baik. Dibanding naik lift, sekali-kali gunakanlah tangga. Ingin beli makan siang, berhentilah meminta tolong kepada office boy. Percayalah, berjalan kaki membelinya akan mendukung kesehatan Anda. Perlu usaha keras memberikan porsi cukup untuk menggerakkan tubuh terutama bila mulai penat dan bosan.

Sebagai filter, aktivitas fisik mampu mengurangi gejala klinis depresi dan rasa cemas. Di beberapa instansi, senam dilaksanakan bersama untuk mengurangi tekanan dan membantu peregangan setelah sepekan penuh.

Tingginya intensitas aktivitas fisik memicu dampak positif terhadap penampilan. Salah satunya menunda proses penuaan. Ibu-ibu yang selalu ingin tampil lebih muda sebaiknya fokus kepada kebiasaan beraktivitas ketimbang dominan memakai anti-aging yang merogoh kantong dalam. Untuk anak-anak yang ketagihan gadget dialihkan dengan melakukan aktivitas fisik bersama. Dalam kegiatan menyenangkan dan ringan, selain kemampuan motorik terlatih dan kesehatan mata terjaga, suasana kekeluargaan semakin akrab.

Untuk konsistensi kebiasaan beraktivitas dan berolahraga, masyarakat diharap memilih kebiasaan sesuai minat dan kemampuan. Bila ada lapangan kosong, gunakanlah sebagai lapangan sepak bola dan rute berjalan kaki. Dengan pengadaan net dan bola, kegiatan bola voli sudah bisa berjalan. Bisa pula dirangsang dengan mengadakan perlombaan. Bukan sekadar menang atau kalah, tetapi untuk membiasakan kegiatan berolahraga di masyarakat.

Untuk mendukung hal ini, pemerintah daerah perlu menjaga iklim berolahraga di masyarakat dengan menjaga keberadaan ruang kosong sebagai sarana berolahraga. Orang-orang Indonesia punya hasrat bagus dalam berolahraga, tetapi bila ruang untuk aktualisasi tidak ada, maka hasrat ini akan layu. Dulu pemandangan anak-anak bermain bola biasa ditemukan. Setiap sore, dengan bekal bola kita sudah bisa bermain bola tanpa batasan waktu dan aturan yang mengikat. Kini, hal itu menjadi barang langka. Dulu olahraga murah dan mudah didapatkan. Sekarang mahal dan membutuhkan ongkos besar.

Akhir kata, Peringatan Hari Olahraga Nasional bukan sekadar jejak cerita mengenai perayaannya yang megah dan bombastik. Titik tekannya ada di implementasi pada masyarakat yang lebih sederhana dan mudah dilakukan. Dengan demikian Program Indonesia Sehat yang merupakan salah satu program dari agenda ke-5 Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat bisa terwujud dengan kebiasaan olahraga dan aktivitas fisik yang rutin.

Irfan Aryanto dokter gigi di Puskesmas Lappae, Kabupaten Sinjai; pengurus Persatuan Dokter Gigi Indonesia Cabang Sinjai


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed