DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 17 Agustus 2018, 15:39 WIB

Kolom

Konstruksi Teks Proklamasi

Sofah D. Aristiawan - detikNews
Konstruksi Teks Proklamasi Foto: Pradita Utama
Jakarta - "Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia..."

Sebuah kalimat deklaratif. Bagian naskah bersejarah yang enggan dikesampingkan saban Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Sebuah negeri yang oleh Benedict Anderson --Indonesianis yang baru saja berpulang pada akhir 2015 lalu di Malang-- disebut dengan setengah memuji sebagai "imagined communities dengan unsur-unsur pembentuk yang saling tidak mendengar dan tidak mengenal, yang disatukan oleh harapan dan sentimen." Berkelindan, dan naskah itu serupa tiang pembatas yang ajek. Sejak dibacakannya, tak ada niat untuk melangkah mundur.

Khidmat, gemetar, tanpa perlu teriak. Sebab, Sang Proklamator, ia yang selalu membakar semangat rakyat, justru takzim saat membacakan kata demi kata naskah itu. Ada syukur dari momen yang ditunggu-tunggu, bahkan didesak untuk segera. Dalam naskah itu terangkum usaha satu bangsa yang tersingkir selama bertahun-tahun untuk bebas. Dari Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta itu menjalar ke mana-mana pekik yang melegakan dan penuh kenekatan: Indonesia merdeka!

Tiga Hari yang Cemas

Naskah itu ramai kita menyebutnya dengan "Teks Proklamasi". Isi yang pendek, disusun dengan tergesa-gesa, terlihat coretan lebih di satu tempat. Kalimat-kalimat yang bergegas itu terekam di atas secarik kertas bloknot bergaris tipis biru. Sobekan dari sebuah buku yang biasa dipakai anak-anak sekolah rendah. Teks penting itu ditulis Bung Karno di tengah kelimun yang cemas dalam situasi tegang, saat tempat yang mereka perjuangkan selama ini kini telah terjadi vacum of power --Jepang sudah takluk, menyerah pada Amerika Serikat dan sekutunya, tak punya lagi daya atas klaim Ibu Pertiwi.

Dari situ, proklamasi seperti tak bisa dinanti-nanti lagi; momentum tak datang dua kali. Celah carut marutnya dunia akibat Perang Dunia II mesti direspons segera dengan kemerdekaan Indonesia. "Kapan lagi, Bung?" dan "Sekarang waktunya." Demikian desak para pemuda yang tak sabar. Dini hari, 17 Agustus 1945, di satu ruangan rumah milik perwira angkatan laut Jepang, hanya ada raut muka yang gelisah. Kita tak begitu tahu, sebab itu, gugupkah Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo dalam merancang naskah yang nampak dihiasi coret-coret itu?

Sebelumnya, Soekarni (salah satu pemuda pemberani yang tak sabar itu) menyodorkan rancangan teks proklamasi buah pikiran para pemuda, "...segala badan-badan pemerintahan yang ada harus direbut oleh rakyat dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya." Naskah itu dibaca. "Terlalu radikal, Bung," Bung Hatta menampik keras. "Terlalu berisiko, kita mesti menghindari apa yang tidak kita inginkan," lanjut perwira Jepang yang bersimpati, dan seketika diamini Bung Karno. Ia pun menambahkan, "Jepang pasti tak akan diam begitu saja, tuan-tuan mesti hindari rakyat dan tentara Peta (Pembela Tanah Air) berhadapan dengan serdadu Jepang."

Silang pendapat belum usai. Di ruangan itu sesak....

Sebelumnya lagi, sore hari, 15 Agustus. Di tempat berbeda, naskah lain menggema. Kabar telah dibacakannya teks itu beredar luas, meski berkabut tampak dan tidak. Kabar itu menjurus jadi rumor. Diketik sepanjang 300 kata, yang sebelumnya dibuat pada 13 Agustus di Asrama Prapatan No. 10, hasil guratan pena Bung Sjahrir. Ia berterus terang soal isi naskah yang belakangan tak diketahui keberadaannya itu, "Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain."

Dorongan para pemuda untuk merebut klaim dengan segera menimbulkan suasana yang dilematik. Sebab, telah ada sebuah panitia yang bekerja menyusun apa dan bagaimana Indonesia kelak, juga merancang teks proklamasi pada rapat-rapat bulan Juni dan Juli 1945. Namun, badan itu luput, bahkan ditolak keberadaannya. "Badan itu buatan Jepang, kita mesti merdeka dengan cara kita sendiri," tutur para pemuda meyakinkan. Lanjut Wikana (31 tahun), "Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah," setengah menggeram pada Bung Karno.

Memang, para pemuda menginginkan Bung Karno menyatakan Indonesia merdeka tanpa peduli pada panitia itu, melainkan langsung atas nama rakyat Indonesia. Sekarang juga. Tapi, Bung Karno berpendirian, ia yang mengepalai panitia itu. Oleh karenanya, menjadi satu keharusan melibatkan 21 anggota panitia itu yang merupakan wakil-wakil dari daerah. Sebab, di sana agenda persalinan Indonesia telah disiapkan rapi. "Gertak, tidak lain daripada gertak, tapi meleset karena prinsip yang bertentangan," kenang Bung Hatta. Malam hari, 15 Agustus, perdebatan di serambi muka rumah Bung Karno itu nampak tak ada titik temu.

Proklamasi atau Deklarasi Kemerdekaan?

Tanggal 15, 16, dan 17 Agustus. Tampaknya, hari-hari itu demikian sibuk akibat keadaan ruwet dan jadi tak menentu. Barangkali, semacam laku kompromistis antara rencana yang disusun jauh-jauh hari oleh panitia bentukan Jepang itu, yang akan membidani kelahiran sebuah negeri baru dengan hasrat mereka yang menolak segala hal tentang Jepang sejak awal. Terkadang, ruwet dan tak menentu itu munculkan kebingungan dan alpa.

Situasi seperti itu agaknya memaksa teks maha penting itu cuma memuat sebuah pengumuman. Tak ada kata-kata canggih, atau kalimat yang menghadirkan suatu sebab dan wacana yang ditawarkan akibat dari pengumuman itu. Yang ada, ia "tidak menggetarkan perasaan... tidak sama dengan apa yang telah kuangankan dalam kuburanku yang gelap di Banceuy dulu," keluh Bung Karno. Ia sederhana dan nampak tak disiapkan dengan matang + berbau Jepang. Sebab itukah, dalam bulan-bulan pertama kelahiran Republik ini, Bung Sjahrir bersikeras tak mengakui naskah bersejarah itu?

Kita tak pernah tahu. Yang jelas, teks proklamasi itu hadir dari kebutuhan yang diminta segera. Tapi, diminta oleh siapa? Gairah pemuda-pemuda nekat yang tak mengerti risiko itu? Atau, panitia yang berlindung dan memuji-muji Jepang?

Agaknya, Bung Karno menangkap kegelisahan itu dan mengambil jalan tengah. Belakangan, dalam pidato bertanggal 17 Agustus 1961, ia menjelaskan dengan berkobar-kobar: "Proklamasi kita memberi tahu kepada kita sendiri dan kepada seluruh dunia, bahwa rakyat Indonesia telah menjadi satu bangsa yang merdeka." Bung Karno ingin menegaskan: sebetulnya tak jadi soal jika perkataan-perkataan teks itu sederhana. Karena, bagi Bung Karno, falsafah, dasar, tujuan, prinsip sebagai sebuah bangsa itu termaktub dalam apa yang disebutnya dengan deklarasi kemerdekaan, yakni pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.

Dan, di banyak negara, menurut Bung Karno, mereka cuma punya salah satunya. Lanjutnya lagi, "Kita mempunyai Proclamation of Independence dan Declaration of Independence sekaligus!" Bagi Bung Karno, dua hal itu sejatinya tak bisa dipisahkan. Sebab, "'Proklamasi' tanpa 'Declaration' berarti bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tidak mempunyai dasar penghidupan nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai 'raison d'etre', tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pertiwi. Sebaliknya, 'Declaration' tanpa 'Proklamasi', tidak mempunyai arti." Oleh karena, "...tanpa kemerdekaan, maka segala falsafah, segala dasar-dan-tujuan, segala prinsip, segala 'isme' akan merupakan khayalan belaka, angan-angan kosong-melompong," tutup Bung Karno.

Selain itu, proklamasi kemerdekaan, menurut Bung Karno lagi, ialah jembatan emas. Kita jadi tahu, mereka yang menyusunnya sadar, pekerjaan mereka menyimpan cela dan belum final. Sekadar "jembatan". Maka, naskah itu ialah gambaran kerendahan hati. Tak ada kesempurnaan, melainkan perbaikan yang terus-menerus.

Sebab itu, kita bisa mengira-gira bahwa "d.l.l." itu sejatinya menunjukkan ruang yang demikian luas bagi generasi setelahnya untuk mengisi apa yang belum selesai. Tentu, bukan cuma oleh mereka yang menjabat dan memerintah, tapi juga mereka yang lewat partisipasinya dalam segala penciptaan kreatif, yang berusaha memaknai betul apa itu proklamasi.

Jadi, proklamasi ialah kesempatan yang menemukan kesiapan. Setidaknya, Bung Karno bersikap demikian, seperti dalam Youth Want to Know, program TV sekitar tahun 1950 di Amerika. "Mengapa 17 Agustus 1945?" salah satu tanya dari seorang pemuda Amerika. Bung Karno dengan percaya diri menjawab, "Waktu itu imperialisme sedang lemah, retak, hancur lebur. Saat itulah yang paling tepat."

Dari sana, justru proklamasi hadir sebagai sebuah perbuatan, bukan semata-mata wacana yang mesti ditunggu hingga matang dan sempurna. Ia menerebos ketidakpastian, juga momentum yang dijemput cepat. Pada akhirnya, toh mengetahui tidak mesti selalu mengawali sebuah perbuatan. Agaknya, itulah konstruksi bangunan teks proklamasi.

"Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja."

Sofah D. Aristiawan mahasiswa Administrasi Publik FISIP Unpad, alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) VII Megawati Institute


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed