DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 15 Agustus 2018, 13:00 WIB

Kolom

Pendidikan Berkesadaran Gender

Lailiyatis Sa'adah - detikNews
Pendidikan Berkesadaran Gender
Jakarta - Seorang teman bercerita tentang pengalamannya menerima rapor anaknya yang duduk di bangku TK. Saat menanyakan bagaimana perkembangan Kaka, panggilan akrab anaknya yang sudah 2 tahun itu sekolah, guru kelasnya menjawab, "Kaka sudah lumayan bisa fokus saat pembelajaran dibanding tahun sebelumnya. Bapak tidak perlu khawatir, Kaka akan terus berkembang seiring bertambah usia dan ini juga wajar karena ia laki-laki yang cenderung aktif dibanding anak perempuan."

Alhasil, teman saya itu agak kecewa mendengar jawaban guru kelas anaknya. Kaka memang terlihat aktif beraktivitas, sehingga oleh gurunya dianggap mempengaruhi terhadap fokus saat pembelajaran berlangsung. Namun, menurut teman saya itu, dan saya juga setuju, sejatinya tidak dihubungkan dengan jenis kelamin karena ia seorang anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan, menurut guru TK Kaka, lebih mudah fokus, mudah diarahkan, penurut, dan lain sebagainya.

Masyarakat kita, dengan demikian, sadar atau tidak, sesungguhnya tidak bisa lepas sepenuhnya dari budaya patriarki, meyakini keunggulan seseorang berdasarkan jenis kelamin (sex). Dan, ironisnya budaya patriarki ini juga secara nyata berpengaruh pada iklim akademis di dunia pendidikan.

Guru di sekolah Kaka, dan mungkin juga dialami oleh banyak pendidik pada umumnya tidak paham bahwa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelamin dengan apa yang dalam ilmu sosial disebut gender. Pernyataan guru kelas Kaka kepada teman saya sebagai wali murid, yang menyebutkan bahwa Kaka terlalu aktif sehingga cenderung kurang fokus saat pelajaran sebenarnya persoalan "gender", bukan "seks".

Konsep Gender

Gender tidaklah sama dengan seks yang berarti jenis kelamin, sebagaimana didefinisikan dalam kamus Inggris-Indonesia karangan John M. Echols & Hassan Sadhily yang mengemukakan kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Seks atau jenis kelamin merupakan penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.

Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Perubahan ciri dan sifat-sifat yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lainnya disebut konsep gender (Fakih, 2006: 71).

Secara biologis alat-alat kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan, hal ini merupakan kodrat dan ketentuan Tuhan. Santrock (2003: 365) mengemukakan bahwa istilah gender dan seks memiliki perbedaan dari segi dimensi. Istilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan.

Istilah gender dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan maksud untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang mempunyai sifat bawaan (ciptaan Tuhan) dan bentukan budaya (konstruksi sosial). Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Gender secara sederhana dapat dipahami sebagai atribut yang dilekatkan, dikodifikasi, dan dilembagakan secara sosial maupun kultural kepada perempuan atau laki-laki. Ia berkaitan dengan pikiran dan harapan masyarakat tentang bagaimana seharusnya menjadi laki-laki dan perempuan. Misalnya, perempuan itu seharusnya lemah lembut, sementara laki-laki tegas dan keras; perempuan emosional, laki-laki rasional; juga berkaitan dengan hal-hal yang lebih luas, seperti perempuan seharusnya menjaga dan mendidik anak di rumah, sedangkan laki-laki mencari nafkah di luar rumah; laki-laki mengatakan cinta, melamar, menikahi atau nanti menceraikan.

Oleh karenanya, anggapan bahwa laki-laki harus begini, sementara perempuan harus begitu, sudah kodrat atau diatur dari "sananya" merupakan anggapan salah kaprah. Berbeda dengan gender, jenis kelamin adalah atribut yang dilekatkan secara biologis pada perempuan atau laki-laki. Misalnya, laki-laki mempunyai jakun, perempuan tidak; perempuan mempunyai payudara, rahim, dan mengalami menstrurasi, laki-laki tidak; perempuan memiliki vagina, laki-laki memiliki penis. Semua itu sudah kodrat. Artinya, jenis kelamin tidak berubah, tidak bisa dipertukarkan dan selalu sama di mana pun dan kapan pun.

Konteks Pendidikan

Pencampuradukan keduanya (seks dan gender) bukan tanpa risiko. Ia jelas mempengaruhi konstruk pemikiran masyarakat dalam memandang laki-laki dan perempuan. Karena terjadi ketimpangan --untuk tidak mengatakan kesalahan-- dalam mempersepsikan laki-laki dan perempuan, maka yang terjadi sebagaimana dialami keluarga teman saya dan Kaka, putranya.

Budaya patriarki yang sangat kuat tertanam dalam benak seorang pendidik akan mudah menyimpulkan bahwa anak laki-laki dianggap lebih pintar daripada perempuan, padahal tidaklah benar. Anak laki-laki lebih layak sebagai pemimpin upacara daripada perempuan, padahal tidak harus begitu. Anak perempuan yang banyak bertanya di kelas dianggap tidak sopan sebab tidak mencerminkan sifat kelemahlembutan dibanding laki-laki, padahal persepsi ini lagi-lagi salah. Yang diutamakan sekolah ke jenjang lebih tinggi adalah anak laki-laki sebagai calon bapak rumah tangga pencari nafkah, sedangkan anak perempuan calon ibu yang tugasnya mengurus rumah. Dan, seterusnya.

Maka, jika budaya patriarki tersebut terus dilanggengkan, apalagi dalam dunia pendidikan sejak sekolah paling dasar, bukan mustahil akan berpengaruh pula pada pola hidup anak didik saat dewasa di luar sekolah. Dan, itu berarti pada akhirnya akan menganggap tabu jika seorang perempuan beraktivitas membangun karire di luar rumah, atau tabu bagi laki-laki mengurus rumah, bersih-bersih cuci piring serta baju kotor, dan lain-lain.

Dari sanalah, dibutuhkan pendidikan yang berkesadaran gender. Artinya, kemajuan pendidikan dan kesuksesan seseorang tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, tetapi lebih pada pola asuh dan support orangtua dan orang-orang sekelilingnya. Kesadaran ini perlu dimengerti dan diinternalisasi oleh segenap masyarakat, baik formal maupun informal. Semoga.

Lailiyatis Sa'adah guru dan ibu rumah tangga, domisili di Yogyakarta

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed