Kolom

Pemimpin yang Tangguh

Masduri - detikNews
Senin, 13 Agu 2018 12:04 WIB
Ilustrasi: Fuad Hasyim/detikcom
Jakarta -

Pemimpin itu dicintai dan dibenci, sekaligus pula dipuji dan dicaci. Beban besar yang ada pada pundaknya, menjadikan ia sebagai tumpuan harapan besar keseluruhan kepentingan publik. Karenanya, pemimpin itu mestinya bukan sembarang orang. Harus benar-benar orang pilihan, yang pikiran dan jiwanya tangguh, tentu pula disokong oleh fisik yang kuat dan sehat. Ajaran Plato tentang pemimpin harus filsuf menegaskan kekuatan pikiran sebagai jangkar berdaulatnya kepemimpinan yang tangguh. Bahasa filsuf tak hanya berkaitan dengan kebijaksanaan pemimpin dalam menjalankan tugasnya, lebih dari itu, kekuatan pikiran filsuf harus mampu memproyeksikan masa depan bangsa yang dipimpinnya.

Pemimpin besar, apalagi sekelas presiden, tak mengurusi hal-hal sederhana. Pemimpin memang harus bekerja, tapi pekerjaannya bukan mengurusi hal-hal teknis, yang sesungguhnya bisa dikerjakan oleh para pembantunya, misalnya saja para menteri. Pemimpin itu harusnya bekerja memproyeksikan masa depan bangsanya, menyusun strategi terbaik bagi pencapaian yang berjangka. Pada batas-batas tertentu, kita dapat membenarkan misalnya tindakan blusukan dan segenap pernak-perniknya sebagai wujud dari kepedulian pemimpin, kesederhanaan, mungkin pula wujud rasa sepenanggungan. Tetapi itu semua tak cukup; pemimpin juga harus punya ide dan gagasan segar, sehingga segenap kerja yang diwujudkannya adalah proyeksi, bukan reaksi terhadap hal-hal sederhana dari masalah kebangsaan yang kita hadapi.

Belakangan elite pemimpin kita mudah riuh pada hal remeh-temeh, mungkin ini wujud dari pembelaan dirinya. Geger tentang Indonesia bubar, elite goblok dan maling, pengibulan sertifikat tanah, dan partai Allah vs partai setan, yang mendapat respons reaktif, bahkan destruktif dari elite pemimpin kita, menandai kerja yang mereka garap adalah hal-hal sederhana, dari wacana dan opini remeh temeh, yang sesungguhnya tak terlalu perlu direspons serius. Era disrupsi teknologi informasi memungkinkan warga negara kita bisa memilah dan memilih gagasan dan pandangan yang baik dan buruk atau pula benar dan salah. Pemimpin tak perlu membela diri, karena yang bisa membela dirinya hanya hasil kerja dan pencapaian prestisius dari proyeksi besar yang digarapnya.

Pemimpin akan terus dianggap melakukan pengibulan, kebohongan, dan kedustaan selama tak ada hasil kerja konkret dari keseluruhan hal yang dijanjikan. Membela diri dengan membeberkan pencapaian-pencapaian tak lebih dari dramatisasi pencitraan, yang bisa saja dianggap sangat tidak penting, selama rakyat masih merasakan tidak hadirnya negara dalam ruang kehidupannya. Negara hadir, dalam bahasa Bung Karno, sebagai jembatan emas. Jembatan dari keseluruhan proyeksi yang digarapnya. Pemimpin memiliki tugas besar yang tidak sederhana dalam upaya merealisasikan segenap hal yang dicanangkan. Kehadiran pembantu presiden, seperti menteri atau jabatan setingkat menteri, dan keseluruhan struktur hingga tingkat terendah di desa bertugas untuk menyederhanakan gagasan besar dari presiden, supaya dapat terealisasi dalam kehidupan nyata.

Pemimpin dan pemimpi tak jauh beda. Pemimpin adalah panglima terdepan, dari perjalanan kebangsaan yang kita lakukan. Pencapaian-pencapaian besar dari negara-negara adidaya tak lepas dari kontribusi besar pemimpinnya, misalnya Abraham Lincoln dan John F. Kennedy di Amerika Serikat, yang mengajak warganya membayangkan masa depan negara dengan bertumpu pada kerja keras. Di sini ketangguhan pemimpin sangat dibutuhkan. Ketangguhan itu mencakup beberapa hal.

Pertama, ketangguhan dari kritik. Sebagai tumpuan dari keseluruhan kepentingan publik, pemimpin akan terus dicaci dengan beragam kecaman dan kritik, yang kadang-kadang tidak jelas juntrungnya. Namun, ini sudah kondrat kepemimpinan. Kalau yang diharapkan hanya kecintaan dan pujian dari rakyat, lalu menafikan kebencian dan cacian dari rakyat, tak usah jadi pemimpin. Kondrat kepemimpinan itu sudah pasti tak lepas dari kritik. Bahkan, idealnya sebaik apapun kepemimpinan suatu rezim, harus terus dikritik. Hal ini dalam upaya menjaga keajekan pemimpin dalam jalan yang benar. Karena kecenderungan untuk menyimbang, kata Lord Acton, akan terus abadi dalam kekuasaan para pemimpin.

Kedua, ketangguhan dari kegagalan. Seperti telah diuraikan di atas, pemimpin itu seperti pemimpi. Gagal dari rencana yang dicanangkan adalah hal biasa, tapi jangan dibiasakan supaya tidak digoyang oleh rakyat di akar rumput. Pemimpin harus memiliki kekuatan besar untuk terus melawan kegagalan. Beragam hal yang diproyeksikan harus bisa terealisasi. Karenanya, upaya keras harus terus dilakukan. Di sini bagian ketiga, ketangguhan bekerja keras. Pemimpin harus pantang menyerah. Kerja yang dilakukannya adalah kerja keras dan kerja tuntas. Tak boleh setengah-setengah dalam menggarap apa yang diproyeksikannya.

Lebih dari itu, pada bagian keempat, pemimpin juga harus terus merawat ketangguhannya untuk bermimpi. Jangan sepelekan harapan dan mimpi. Karena semua yang didapat sekarang adalah wujud dari proyeksi diri. Pencapaian besar kita sebagai bangsa, dimulai dari satu titik pengharapan, hingga mewujud seperti sekarang ini.

Ketangguhan pemimpin sangat menentukan arah kebangsaan kita. Saya jadi teringat catatan dari Hobbes tentang negara ideal. Baginya, negara harus hadir seperti Leviathan, seekor binatang yang dalam catatan mitologi Timur Tengah dikenal amat kuat dan buas. Hobbes menghendaki negara berwibawa dalam pandangan rakyatnya, sehingga stabilitas keamanan dan distribusi kesejahteraan dapat terwujud. Kewibawaan suatu negara tentu ditentukan oleh ketangguhan pemimpinnya. Pemimpin tangguh adalah segalanya. Karena ketangguhan mendasari segala proyeksi, kebijakan, dan eksekusi yang dilakukan oleh suatu rezim.

Masduri dosen Filsafat dan Pancasila pada Program Studi Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

(mmu/mmu)