DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Juni 2018, 12:43 WIB

Kolom

Ekonomi Lebaran

Ronny P Sasmita - detikNews
Ekonomi Lebaran
Jakarta -

Selain momen religius dan sosio kultural, Lebaran juga menjadi momen ekonomi di mana gelombang konsumsi biasanya membesar beberapa saat disertai dengan pergerakan jutaan manusia dari rantau ke kampung. Oleh karena itu, sangat dapat dipahami mengapa para ekonom dan analis ekonomi yang senang memuja suara pemerintah sumringah sembari mengatakan bahwa pada kuartal kedua tahun ini perekonomian nasional berkemungkinan besar mampu mencatatkan angka yang signifikan, semisal 5,2-5,3 persen.

Walaupun sebenarnya jika benar-benar ditanya dari mana asal angka proyeksi tersebut, saya cukup yakin jawabannya masih "wallahualam" saja. Tapi, okelah momentum tahunannya memang ada pada Ramadan dan Lebaran. Kendati demikian, sejatinya peningkatan konsumsi pada dua momen tersebut akan sepaket dengan bayang-bayang inflasi. Dan, seperti biasa pemerintah akan menggelontorkan semua energi yang dimiliki untuk menahan laju inflasi jauh hari sebelum Ramadan dan Lebaran.

Sampai hari ini, ekonomi nasional masih sangat bertumpu pada konsumsi, yang memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional sekira 55 persen. Peningkatan konsumsi saat momen Ramadan dan Lebaran adalah poin tambahan bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas angka pertumbuhan (sekali lagi, stabilitas angka, yakni lima persen) karena akan ada bantalan tambahan dari sisi konsumsi. Setidaknya secara teoritik proyektif demikianlah asumsinya. Walaupun tahun lalu terbukti tak banyak memberikan fakta nyata.

Lantas, mengapa saya tekankan stabilitas angka? Biasanya pemerintah hanya peduli dengan angka, bukan? Baik anggaran yang dimunculkan dalam angka, maupun data sosial kemasyarakatan dan data ekonomi makro. Selagi angkanya bagus, maka secara politik akan menjadi bagus pula pada akhirnya, terutama untuk 2019 nanti.

Jadi, dengan adanya momen Lebaran dan mudik, kuartal pertama yang tidak terlalu buruk akan mendapat keberlanjutan angka pertumbuhan yang tidak terlalu jauh berbeda. Dengan kata lain, secara teoritik dan secara komparatif, pemerintah masih akan dianggap "berhasil" mempertahankan zona aman nyaman secara komparatif. Setidaknya akan mendapat ranking bagus di level Asia dengan status negara berpertumbuhan terbaik sekaligus bermenteri keuangan terbaik.

Begitu pula dengan daerah-daerah yang terkenal sebagai kantong asal perantau, otomatis akan mendapat berkah ekonomi pula, sekalipun mungkin hanya dalam hal angka. Perantau ramai-ramai pulang kampung, membelanjakan atau menyedekahkan uang yang telah berhasil mereka renggut di kota di kampung halaman. Jajanan kampung akan laris manis, destinasi wisata akan sumpek ramai, sekaligus dengan sampah-sampahnya.

Tentu saja pergerakan ekonomi untuk beberapa saat akan memperlihatkan kegembiraan. Walau secara fundamental, boleh jadi tingkat konsumsi meningkat, tapi mungkin penggangguran tidak berkurang, dan yang miskin-miskin akan seperti itu saja. Karena Lebaran tak bergigi untuk menciptakan lapangan pekerjaan tetap. Toh Lebaran memang tak diniatkan begitu. Arti lainya, setelah Lebaran usai, semuanya akan kembali seperti semula. Tingkat konsumsi masyarakat daerah kembali pada tren grafik semula. Lapangan pekerjaan pun diperkirakan akan tetap seperti itu.

Selepas Lebaran bahkan tingkat eksodus manusia ke perantauan akan bertambah. Ada yang ikut saudara. Ada pula yang terinspirasi dengan keberhasilan tetangga yang merantau, lalu ikut kabur ke kota. Apakah di kota akan mendapat pekerjaan, jawabannya juga "wallahualam". Dan, saya kira seperti itulah kondisinya di daerah-daerah penghasil perantau sampai Lebaran tahun ini.

Sebut saja Sumatera Barat, misalnya. Konon, setengah dari total suku Minangkabau ada di perantauan, dan sebagian dari mereka terbiasa pulang kampung di saat Lebaran tiba. Jadi, saat jelang dan sepanjang Lebaran, jalan-jalan di daerah tersebut akan dilintasi oleh banyak mobil dengan plat nomor luar kota. Uang-uang rantau akan lebih banyak beredar di kampung. Dengan kata lain, ekonomi daerah akan lebih bergairah berkat perpindahan sebagian dana konsumsi masyarakat perantauan ke kampung halaman untuk beberapa saat.

Berkaca pada data, untuk musim Lebaran 2017 saja, Bank Indonesia (BI) memperkirakan kebutuhan dana tunai mencapai Rp 167 triliun. Jumlah ini meningkat 14% dibandingkan tahun sebelumnya, dan dipastikan itu bukanlah angka yang sedikit. Bahkan, riset Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) menyebutkan, total pengeluaran yang dikeluarkan pemudik selama arus mudik dan arus balik tahun lalu sebesar Rp 124,4 triliun.

Jadi, libur Lebaran yang bersamaan dengan libur sekolah, plus penambahan waktu cuti bersama tahun ini, dipastikan akan menambah besar peredaran dana Lebaran. Apalagi jika dikaitkan dengan adanya penambahan pos THR PNS dan pensiunan. Artinya, pengeluaran untuk konsumsi akan terkerek untuk beberapa saat. Oleh karena itu, wajar kiranya jika BI harus mengantisipasinya dengan menyediakan stok dana Rp 200-300 triliun untuk kebutuhan Lebaran.

Sebagian dana Lebaran tersebut memang dibelanjakan di kota di mana pemudik tinggal dan bekerja. Sebut saja untuk membayar sebagian biaya transportasi, sandang dan pangan Lebaran, hingga belanja oleh-oleh untuk sanak saudara. Tapi, sebagian dana juga mengalir ke daerah tujuan mudik. Tak hanya berbentuk salam tempel, pemudik juga membelanjakan uang untuk rekreasi dan kuliner di kampung halaman, hingga membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kota.

Khusus pemudik dari Jakarta, tahun lalu saja jumlahnya diperkirakan mencapai 6, 825 juta orang, naik 3% dibandingkan mudik Lebaran 2016. Para pemudik Ibu Kota itu diperkirakan setidaknya akan membawa dan membelanjakan dana sekitar Rp 7-9 triliun tahun ini di kampung halaman. Triliunan dana mudik yang mengalir ke daerah-daerah tersebut tentunya bisa menjadi pelumas yang menggairahkan roda ekonomi daerah, dan pada akhirnya menguatkan ekonomi nasional.

Harapannya, semoga pemerintah dan pengusaha di daerah-daerah bisa memanfaatkan kehadiran pemudik secara maksimal. Semoga pula, para pemudik bersedia lebih banyak membelanjakan dana di kampung, ketimbang membeli semua keperluan Lebaran di kota. Jika perlu, jika dirasa modal sudah cukup, berinvestasilah di desa, kembali menetap di desa, membuka usaha dan lapangan pekerjaan baru, melakukan transfer ilmu, pengetahuan, wawasan, serta transfer teknologi di desa, agar daya saingnya makin membaik. Semoga. Selamat mudik, selamat sampai di tujuan.

Ronny P Sasmita Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia/EconAct




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed