DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 17 Mei 2018, 10:52 WIB

Kolom

Perempuan Melawan Terorisme

Neni Nur Hayati - detikNews
Perempuan Melawan Terorisme Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Indonesia kembali berguncang atas kasus kejahatan teroris yang mengakibatkan hilangnya beberapa nyawa. Kericuhan narapidana dengan polisi yang terjadi di rumah tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat menewaskan lima anggota Brimob dan satu orang narapidana terorisme. Kemudian disusul dengan aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018). Akibat aksi teror tersebut, 13 orang meninggal dunia dan 43 orang mengalami luka-luka.

Senin (14/5/2018) ledakan bom kembali terjadi di depan Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur sekitar pukul 08.05 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan empat orang tewas termasuk dua pelaku ledakan, 10 orang terluka, empat di antaranya personel polisi dan enam warga sipil. Pelaku ledakan bom diduga satu keluarga.

Tiga rentenan peristiwa aksi teror yang terjadi dalam waktu berdekatan itu, siapa yang menyangka bahwa pelaku aksi teror tersebut ternyata melibatkan perempuan dan anak. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan kita bersama. Apalagi para pelaku aksi teror tersebut hampir dipastikan semua beragama Islam. Pelaku bom Surabaya ternyata diketahui merupakan anggota sel teroris aktif Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Mereka diduga kuat merupakan aksi lone wolf, jaringan atau sel terputus teroris yang berafiliasi dengan ISIS.

Fenomena aksi lone wolf ini dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka adalah pelaku sekaligus korban yang terpapar radikalisme dan terorisme dari media sosial. Mereka melakukan pergerakan sendiri dengan membuat bom dan secara terus-menerus melakukan teror (Gus Yakut, 2018). Perbuatan yang keji dan biadab itu tak seharusnya menimpa negara Indonesia, khususnya menyerang perempuan dan anak.

Mulai dari saat ini, hendaknya kita semua meningkatkan kewaspadaan. Aksi teror tersebut bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Barangkali tak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran kita bahwa mereka para pelaku teror adalah satu keluarga. Suami yang melakukan doktrin kepada istri dan juga anaknya untuk melakukan aksi jahat dengan dalih jihad dalam Islam. Sungguh ironis bagaimana mungkin seorang ibu melakukan legitimasi kepada anaknya bahwa Islam mengajarkan terorisme. Anak yang tak berdosa pun akhirnya harus meregang nyawa karena ulah busuk mereka yang tak bertanggung jawab.

Perempuan tidak boleh tinggal diam ketika darurat terorisme sudah terjadi. Perempuan harus bersatu untuk melakukan perlawanan dan pencegahan terhadap maraknya aksi terorisme. Tak bisa dipungkiri bahwa kaum perempuan acap menjadi sasaran terorisme, baik itu sebagai pelaku atau pun korban. Perekrutan kelompok-kelompok teror yang semakin berkembang ini ternyata lebih mudah dilakukan terhadap kaum perempuan termasuk menggunakan media sosial sebagai propaganda yang nyata. Jika mereka bisa memaksimalkan peran perempuan dalam aksi terorisme, itu berarti mereka mempunyai jumlah petempur lebih banyak lagi. Biasanya sesama kaum perempuan akan lebih mudah terpengaruh.

Selain perempuan dianggap sebagai kaum tak berdaya yang bisa dicuci otaknya dengan mudah, juga dianggap lebih tidak mencurigakan. Misalnya saja ketika perempuan menjalani proses pemeriksaan tidak lebih ketat daripada laki-laki saat berhadapan dengan petugas keamanan. Mereka sering dianggap tidak membahayakan sehingga petugas keamanan lengah dan aksi teror yang dilakukan perempuan pun tidak terelakkan (Patresia Kirnandinata, 2017).

Melawan Terorisme

Dengan melihat realitas tersebut, setidaknya ada beberapa upaya perlawanan dan pencegahan yang bisa dilakukan kaum perempuan dalam menghadapi aksi teror ini. Pertama, seluruh organisasi yang bergerak di bidang perempuan dan anak di tingkat pusat untuk mendorong aparat pemerintahan agar segera melakukan tindakan cepat untuk menangani kasus aksi teror dan mendesak agar Perppu Antiterorisme segera diterbitkan jika revisi RUU tak juga dilakukan. Selain itu melakukan penolakan terhadap segala bentuk aksi teror, guna memberikan jaminan keamanan dan rasa aman kepada masyarakat khususnya kaum perempuan.

Kedua, perempuan sebagai masdrasatul 'ula harus menanamkan nilai-nilai keislaman serta ketauhidan seperti ramah tamah, toleransi, Islam sebagai rahmatan lil alamin serta nilai kebangsaan kepada anak-anaknya sejak kecil. Dengan memiliki pemahaman yang benar sesuai syariat Islam sejak kecil, pemikiran radikal teroris dapat ditekan sedini mungkin.

Ketiga, kaum perempuan harus gemar membudayakan literasi. Tidak hanya untuk kepentingan dirinya, tapi juga masyarakat luas. Dengan banyak membaca berbagai macam literatur tentang sebuah kasus, kaum perempuan akan mampu memilah mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak. Dengan banyak membaca kaum perempuan tidak akan ketinggalan zaman pada bidang teknologi informasi. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan secara otomatis tidak akan terjadi.

Keempat, aktivis perempuan di berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan yang bergerak di bidang perempuan dan anak yang sudah memiliki forum komunikasi perempuan, hendaknya kembali mengaktifkan dan memanfaatkan forum ini untuk wadah berdiskusi dengan kaum perempuan lainnya. Forum ini diharapkan dapat berperan aktif dengan mengadakan berbagai kegiatan yang menyentuh pengajian ibu-ibu di pelosok desa guna melakukan tindakan preventif, dan menjadi garda terdepan terhadap kasus terorisme yang terjadi. Solidaritas kaum perempuan merupakan bentuk upaya sadar masyarakat dalam menjaga keamanan di wilayah masing masing.

Kelima, perempuan hendaknya tidak mudah untuk terlibat dan ikut ke dalam ajakan-ajakan pengajian yang dianggap mencurigakan. Baiknya, ketika ada ajakan pengajian dari orang yang tak dikenal apalagi di media sosial untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Lakukan diskusi terlebih dahulu dengan keluarga atau teman terdekat yang dapat dipercaya. Atau, tegas untuk tidak ikut serta masuk di dalamnya. Karena mengikuti ajakan pengajian dari orang yang tak dikenal bukan hal yang perlu kita coba-coba. Ini dilakukan untuk menghindari risiko buruk yang terjadi untuk kaum perempuan.

Neni Nur Hayati Wakil Ketua Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya, alumnus UIN Sunan Gunung Djati Bandung


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed