DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 07 Mei 2018, 15:37 WIB

Kolom

Mandat Ketokohan

Udin Suchaini - detikNews
Mandat Ketokohan Foto: Arief Ikhsanudin
Jakarta -
Riak-riak politik saat ini kembali mengemuka. Konflik yang tengah terjadi bukan karena harta, tahta, dan wanita namun lucunya, perang hashtag ditengarai menjadi pemicu: asal bukan dia!

Apakah rakyat kita masih mudah diadu, rentan mengalami konflik sosial? Kita tahu, sejarah bangsa ini mudah sekali terpecah belah karena politik devide et impera, karena bangsa ini memang dikenal mudah menghancurkan semangat kemanusiaan dengan menukar kesempatan, tanpa menghiraukan tanggung jawab kemanusiaan yang lebih besar, yaitu tidak menyengsarakan orang lain.

Seorang tokoh memikul amanah mulia, diikuti oleh orang lain yang jadi pengikutnya. Dalam beberapa hal, juga ikut mendorong membesarkan volume kesalingtidakpercayaan. Yang sulit diterima akal, jika ada tokoh pemersatu, ternyata punya tujuan menjatuhkan lawan. Pun begitu dengan pendukungnya, para pejuang pesta demokrasi seolah taklid buta. Pesta yang seharusnya dikawal dengan gembira, namun hadir dengan berbagai intimidasi yang mengemuka. Tokoh yang seharusnya mengayomi dan menenangkan konflik pun berperan jadi pemantiknya.

Tulisan ini mengungkap sisi lain konflik yang yang dapat diselesaikan oleh tokoh; tokoh yang berperan seharusnya, tokoh yang mampu meredam konflik sosial. Mereka adalah inisiator yang dilakukan orang atau sekelompok orang yang berinisiatif secara aktif untuk mendamaikan massa yang sedang bertikai. Mereka bukanlah tokoh nasional, hanya tokoh lokal yang berperan sebagaimana mestinya.

Memahami Data


Pembaca data akan terusik dengan statistik konflik yang terjadi. Perkelahian massal terjadi dengan spektrum yang begitu masif dan mencengangkan. Kejadian-kejadian ini memang acap berulang, namun di satu titik dapat diredam. Dengan semangat perdamaian ada tokoh yang muncul ke permukaan, supaya konflik dapat didamaikan.

Statistik konflik dalam kasus perkelahian massal dapat diurai dari data Potensi Desa (Podes). Data tersebut menunjukkan desa tempat lokasi perkelahian massal itu terjadi, dengan narasumber aparat desa dan tokoh masyarakat setempat untuk memperoleh informasi. Penting untuk melihat kerawanan, juga memetakan inisiator penengahnya. Informasi yang ditanyakan dalam rentang waktu setahun terakhir sebelum pendataan.

Podes 2014 menjadi data terakhir yang mampu dievaluasi sebelum pendataan 2018 dilaksanakan. Hasilnya, 2.779 desa yang menjadi lokasi konflik perkelahian massal, tak satu pun provinsi luput dari kejadiannya. Paling sedikit adalah Kepulauan Riau (3 desa), dan tertinggi adalah Jawa Barat (259 desa). Pelbagai masalah menjadi penyebabnya. Harta, kekuasaan, asmara, ideologi, keramaian, serta penyebab lain yang menjadi pemicunya.

Kembali ke data konflik perkelahian massal yang tersebar di seluruh Indonesia. Tercatat, ada 1.404 desa mengalami konflik antarkelompok masyarakat, 1.128 desa mengalami konflik kelompok masyarakat antardesa, 108 desa mengalami konflik antara kelompok masyarakat dengan aparat keamanan, 99 desa mengalami konflik antara kelompok masyarakat dengan aparat pemerintah, 327 desa mengalami konflik antarpelajar/mahasiswa, 70 desa mengalami konflik antarsuku, dan 160 desa mengalami konflik antarkelompok lainnya.

Kejadian pada 2014 meningkat jika dibandingkan dengan kejadian perkelahian massal pada 2011, sebanyak 2.562 desa mengalami hal serupa. Kehadiran tokoh lokal sangat penting dalam kondisi ini. Siapa sajakah mereka? Pertama, Aparat Keamanan meliputi aparat kepolisian, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Satuan Pengamanan (Satpam), dan sebagainya. Kedua, Aparat Pemerintah meliputi aparatur pemerintah daerah, kecamatan, desa dan sebagainya. Ketiga, Tokoh Masyarakat, yakni seseorang yang memiliki pengaruh atau wibawa di lingkungannya. Keempat, Tokoh Agama, yakni orang yang memiliki kharisma dalam agama dan menjadi panutan orang-orang sekitar. Contoh: ulama/ustaz, pendeta, dll. Dengan kepercayaan dari warga, mereka membawa mandat perdamaian di lingkungannya.

Tokoh lokal ini berperan penting dalam mendamaikan konflik sosial di tingkat lokal desa. Sebanyak 1.678 desa yang didamaikan oleh aparat keamanan, 1.473 desa yang didamaikan aparat pemerintah, 1.335 desa yang didamaikan oleh tokoh masyarakat, 534 desa yang didamaikan oleh tokoh agama, serta 170 desa yang didamaikan oleh tokoh lain.

Konflik bisa muncul akibat ketidakpuasan publik terhadap masalah sosial dan ekonomi. Namun, konflik juga bisa dengan mudah dipicu oleh rasa iri, seakan mengendap perasaan saling tidak mempercayai. Bukan pada masalah-masalah yang didasari pada ideologi, serta jalan keluar yang konstruktif dalam mengamati penyebabnya: asal bukan dia!

Mandat


Tokoh yang besar bukan yang paling banyak pendukungnya, yang bahkan rela mati untuknya. Melainkan yang membuat dingin hati dan membuat berpikir konstruktif terhadap massa tanpa menyulut konflik. Saya menonton televisi yang memberitakan perang tagar, cukup dibuat heran. Acara Car Free Day yang seyogianya bisa dinikmati banyak orang, berujung intimidasi oleh segelintir orang yang tidak puas dengan pemerintah sekarang. Dikatakan "segelintir", karena pendukung ini hanya beriak ketika ada arus. Jangan sampai berpotensi menjadi konflik yang lebih besar, dan tidak bisa dikendalikan.

Menjadi tokoh dalam dunia politik masih terdengar agak bergengsi, namun menjadi pemilih mungkin sama sekali tak berarti. Menyebut diri sebagai pelaku politik pun hanya tokoh yang terkenal yang disambut baik. Jangan coba-coba bagi pemain politik yang masih merintis, apalagi hanya sekedar pendukung. Namun mereka tidak peduli, mereka tetap memainkannya dengan sepenuh jiwa, mereka tampak puas mengintimidasi pendukung lawannya. Sang tokoh menggulirkan wacana, pendukung merealisasikannya, sang tokoh pun tersenyum: itu karya saya!

Tegasnya, bukan perilaku itu, namun mereka bahagia dengan pilihannya. Mereka bukan tidak tahu ada tokoh lain yang lebih terkemuka. Pendukung bukan tidak faham kalau suara mereka hanya bisa menjangkau lingkungan terdekatnya. Tapi ada yang lebih penting dari kesadaran kualitatif, itulah kesadaran intuitif. Membuat pendukung melayani panggilan peran, itulah yang terjadi di kasus Car Free Day, pendukung menjalankan perannya. Sedangkan kesadaran kalkulatif untuk strategi yang menguntungkan, sang tokoh memetik hasil dari argumen yang digulirkan.

Kesadaran kalkulatif ini yang melemahkan persatuan. Karena yang disebut kebenaran hanya argumentasi dari tokoh yang didukungnya. Tidak ada kebaikan, yang ada hanya kesalahan dan kelemahan tokoh lawan yang dilihatnya. Sementara, meskipun belum ada tokoh yang mampu menandingi dari lingkungannya, pernyataan pun bergulir: asal bukan lawan politiknya! Mendukung tokoh tidaklah buruk, amat baik malah. Namun tokoh yang baik bukan cuma itu saja.

Itulah kalau mendukung hanya dengan semangat perlawanan, hanya dari itu ke itu saja. Beriaknya pun hanya itu-itu saja. Masih sebatas menyalahkan dan merasa tidak puas saja, bahkan menghadirkan tokoh khayalan: asal bukan dia! "Tokohku tidak terpilih, lawanku yang terpilih, siapapun yang mau melawannya akan kupilih." Akhirnya, bisa jadi tetap terpilih, namun dengan terpaksa harus menerima, pilihanku cukup ini adanya.

Mungkin sesuatu yang naif, jika berbagai akar persoalan yang beriak saat ini ditujukan kepada sekelompok orang yang mengintimidasi pengguna lain yang kebetulan di Car Free Day itu saja. Semua unsur berperan dan terlibat dalam upaya kolektif pada kehancuran rasa saling percaya yang kolektif pula. Jika ketokohan hanya membawa permusuhan, apakah ketokohan seperti itu yang kita inginkan? Jika ketokohan tidak membawa perdamaian dan kesejukan, namun intimidasi dan keburukan, apakah itu yang kita harapkan? Masing-masing dari kita cenderung menjadi serigala bagi yang lain, lupus est homo homini. Dan, masing-masing dari kita seperti musang berganti bulu, namun tak tak berganti watak.

Tokoh mampu menyelesaikan perannya sebagai inisiator penengah konflik, namun jika sang tokoh punya kepentingan, memicu konflik pun dengan mudah digulirkan. Kita bisa belajar banyak dari tokoh lokal, aparat keamanan, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh lain yang mendamaikan dinamika di lingkungan terdekatnya. Mereka melaksanakan mandat sebagai tokoh yang berupaya menjadikan damai suasana. Namun mengapa ketokohan yang lebih besar justru memperkeruhnya?

Pemilihan umum merupakan momen yang tepat sebagai ajang menunjukkan kemampuan diri, jangan sampai menuntun masyarakat dalam kebiadaban (uncivilized society), yang menurut Lewis Hendry Morgan (1877) hampir sama dengan barbarian society. Siapa tokoh yang pantas kita bela, apakah kita masih ragu di mana sesungguhnya tengah berada?

Udin Suchaini Analis Data di Badan Pusat Statistik, saat ini berkecimpung dalam Pendataan Potensi Desa (Podes)

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed