DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 13 Februari 2018, 11:48 WIB

Kolom

Ompung Saulina dan Akal Sehat

Suparlan Lingga - detikNews
Ompung Saulina dan Akal Sehat Ompung Saulina (Foto: istimewa)
Jakarta - "Janganlah sidang lagi aku, Bapak. Aku sudah lelah di hari tuaku ini." Inilah rintihan Ompung (baca: Nenek) Saulina Sitorus ketika memohon kepada Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkaranya. Apa daya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Balige memvonis Ompung Saulina dengan hukuman 1 bulan 14 hari penjara. Saulina yang sudah berumur 92 tahun ini dituduh menebang pohon durian milik kerabatnya Japaya Sitorus ketika hendak membangun makam (tugu) leluhurnya.

Kisah Ompung Saulina ini terjadi di Dusun Panamean, Desa Sampuara, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Kasus ini bermula ketika Ompung Saulina berniat membangun makam leluhurnya di tanah ulayat (wakaf) marga Sitorus. Ia bersama anak dan keponakannya menebang pohon durian berdiameter 5 inci yang diklaim kerabatnya, Japaya Sitorus. Meski sudah tua renta, Ompung Saulina diseret ke pengadilan. Padahal Saulina mengaku sudah mendapat izin dari pemilik tanah ulayat. Sementara Japaya sendiri juga mengaku bahwa pohon durian miliknya itu ditanam di tanah leluhur Saulina.

Menurut pengacara Ompung Saulina, Boy Raja Marpaung, ada banyak kejanggalan dalam kasus ini. Pemilik tanah (Kardi Sitorus) sendiri jelas mengatakan bahwa dia mengizinkan Ompung Saulina untuk membersihkan lahan itu sebelum pembuatan makam. Kardi juga sudah mencoba menginisiasi perdamaian namun pihak pelapor menolak karena merasa uang ganti rugi terlalu kecil. Ompung Saulina juga sudah meminta maaf kepada pelapor, namun kasus ini tetap dilanjutkan ke pengadilan. Akhirnya kasus ini pun mendapat sorotan publik setelah diekspose berbagai media massa.

Matinya Akal Sehat

Terlepas dari konstruksi hukum kasus ini, ada persoalan esensial yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama. Ketika saya menyaksikan kondisi Ompung Saulina (di televisi dan beberapa video jurnalis), ada perasaan miris yang menyesakkan dada. Bagaimana mungkin seorang nenek yang sudah uzur diseret ke meja hijau karena persoalan sepele? Apa yang ada dalam pikiran para pelapor (terhitung masih kerabatnya) ketika bersikeras memidanakan nenek renta itu, meski upaya damai sudah dicoba oleh pemilik tanah yang sah? Kenapa para pelapor tetap menolak dengan alasan uang ganti rugi yang terlalu kecil? Sebegitu dahsyatkah daya tarik uang merasuki pemikiran pelapor? Apakah tidak tersisa sedikit pun ruang (baca: hati nurani) untuk mempertimbangkan kondisi Ompung Saulina?

Di sisi lain, kita juga menyayangkan aparat penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan) yang terlibat dalam proses pemidanaan Ompung Saulina. Bagaimana perasaan para penyidik ketika menginterogasi (mempersiapkan BAP) Ompung Saulina, atau para penuntut (jaksa) ketika mempersiapkan penuntutan? Di mana hati nurani mereka ketika melihat seorang nenek renta (bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia) harus diproses ke pengadilan? Tidakkah tersisa sedikit pun ruang empati terhadap kondisi dia? Kenapa aparat penegak hukum ini tidak berusaha lebih keras untuk membujuk pelapor agar menyelesaikan kasus di luar pengadilan (perdamaian)?

Tragedi Ompung Saulina menjadi salah satu contoh nyata matinya akal sehat di negeri ini. Saulina menjadi korban kesekian kali dari rentetan degradasi akal sehat dalam penegakan hukum di Tanah Air. Masih segar dalam ingatan kita kasus Nenek Asyani di Situbondo (2015) yang divonis 1 tahun penjara karena dituduh mencuri kayu jati di tanah Perum Perhutani. Sebelumnya, ada kasus Nenek Minah di Banyumas (2009) yang dihukum 1,5 tahun penjara karena dituduh mencuri tiga buah kakao yang harganya tidak lebih dari Rp 10.000.

Mungkin aparat penegak hukum bisa berdalih tetap memproses berbagai kasus itu dengan alasan prinsip kesetaraan di depan hukum (equality before the law). Namun, sebenarnya mereka bisa mengedepankan keadilan restoratif (restorative justice). Ini jika aparat penegak hukum benar-benar mengutamakan akal sehat daripada hanya prosedur formal semata. Pertanyaannya, kenapa aparat penegak hukum tetap menggebu untuk melanjutkan proses hukum? Apakah mungkin ada motivasi lain (misal: iming-iming material dari pelapor)? Saya tidak mau berprasangka buruk, namun sungguh menyayangkan ketidakpedulian mereka.

Kalau untuk para pelapor (pihak yang memperkarakan), saya pikir jika mereka mau memakai akal sehat, tentu tidak akan tega memidanakan nenek renta. Kita benar-benar tak habis pikir, bagaimana mereka tega melakukan hal ini kepada perempuan lansia yang seharusnya menikmati masa tuanya. Dalam benak saya, bukankah para pelapor ini juga dikandung dan dilahirkan dari rahim seorang ibu? Mengapa tidak ada sedikit pun penghormatan dan belas kasihan kepada perempuan tua yang sudah menjanda? Apalagi secara kesehatan, pada usia ini mereka sudah memasuki tahap kemunduran fisik, mental, dan sosial. Mereka jelas tidak bisa mengikuti proses persidangan dengan baik (baca: normal).

Potret kematian akal sehat ini sudah meracuni banyak manusia di tengah kompetisi (persaingan) dalam kehidupan modern. Tidak jarang orang mengorbankan akal sehat demi segepok uang (materi) dan kekuasaan. Contoh nyata ialah para elite pemburu kekuasaan (baca: politisi) yang menghalalkan apa saja, mulai dari politik uang sampai provokasi SARA (politik identitas) untuk meraih suara atau dukungan. Berbagai janji manis ditebar ketika kampanye, namun begitu terpilih langsung lupa dan hanya memikirkan kepentingan pribadi serta kroninya. Maka tidak heran jika banyak pejabat yang masuk jeruji penjara karena merampok uang rakyat.

Sementara di sisi lain, beberapa pengusaha tidak segan mempermainkan hukum demi mendapatkan keuntungan (kepentingan ekonomi). Tidak heran jika kita sering melihat konflik perusahaan (baca: pengusaha) dengan masyarakat kecil terutama menyangkut sengketa tanah dan pencemaran lingkungan. Ketika berhadapan dengan masyarakat, beberapa pengusaha hitam justru memakai penguasa (baca: pejabat) dan aparat penegak hukum untuk membungkam masyarakat.

Ironisnya, generasi muda kita juga tidak lepas dari fenomena kematian akal sehat ini. Potret hedonisme dan konsumerisme sangat marak dalam pergaulan anak muda zaman now. Penghormatan terhadap orangtua dan guru juga semakin menipis (bahkan ada yang menganiaya dan membunuh gurunya karena ditegur). Banyak anak muda gemar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang atau mengejar materi semata dan tidak tertarik lagi jika berbicara tentang pemberantasan kemiskinan atau menolong kaum marginal. Emang gue pikirin, kalimat pemungkas yang biasa diucapkan ketika ada yang mengingatkan mereka untuk memperbaiki diri atau lebih peduli dengan orang lain (masyarakat dan bangsa).

Harapan

Meski potret realitas di atas cukup memprihatinkan, namun saya tetap optimistis dengan adanya ruang harapan untuk terus membangun akal sehat di negeri ini. Sebagai contoh dalam kasus Ompung Saulina, kita bisa melihat potret kepedulian dari pengacara muda seperti Boy Raja Marpaung dkk yang mau mendampingi secara konsisten. Begitu juga dengan artis Alexandra Gottardo (beserta suaminya) yang langsung datang mengunjungi kediaman Ompung Saulina untuk memberi dukungan.

Saya terenyuh ketika melihat Alexandra memeluk dan berbicara hangat (bersenda gurau) dengan Ompung Saulina, meskipun ada kendala bahasa. Namun rasa empati dan cinta bisa membuat kedua perempuan itu saling berkomunikasi dan berbagi. Senyum dan tawanya mengembang lebar.

Pemandangan ini mengingatkan saya ketika berada di stasiun kereta bawah tanah (subway) New York dua tahun lalu. Ada seorang perempuan muda kulit putih berbaju modis (bersama pasangannya) kebetulan melewati seorang gelandangan (nenek tua) berkulit hitam. Perempuan muda itu langsung berhenti dan memeluk gelandangan tersebut. Dia juga memberikan makanannya sambil mengusap-usap punggung perempuan tua itu. Saking senangnya, mata perempuan tua itu langsung berkaca-kaca sambil mengucapkan, "Thank you my dear, God bless you."

Nah, apa yang dipertunjukkan Alexandra dan perempuan muda itu merupakan contoh masih adanya akal sehat di dunia ini. Itulah yang mendorong orang-orang yang mau berjuang untuk membela kaum lemah dan tertindas seperti Ompung Saulina. Inilah orang-orang yang terus berjuang untuk merawat akal sehat dan menyebarkannya melalui perilaku dan aktivitas mereka.

Saya pikir masih ada orang-orang yang terus menghidupi akal sehat mereka di tengah kehidupan yang semakin individualis dan pragmatis. Masih ada segelintir politisi dan pejabat berintegritas yang mau memperjuangkan kepentingan rakyat di tengah sistem yang membusuk (korupsi sistemik). Masih ada aparat penegak hukum yang mau mengedepankan keadilan restoratif daripada sekedar aturan formal hukum tertulis. Masih ada beberapa anak muda yang terus memegang teguh idealisme dan mempertahankan kesadaran kritis meski digempur budaya hedonisme dan narsisme.

Sepak terjang para pejuang ini menyisakan harapan bagi kita untuk terus menumbuhkan dan merawat akal sehat di negeri ini. Saya percaya dan optimistis, akan terus lahir orang-orang (terutama anak muda) yang mau menggunakan akal sehatnya untuk terus memperbaiki dan membangun bangsa kita. Semoga!

Suparlan Lingga pegiat pengembangan masyarakat, alumnus Universitas Massachusetts Lowell, Amerika Serikat


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed