DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 08 Februari 2018, 11:53 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Matinya Demokrasi di Mesir

Zuhairi Misrawi - detikNews
Matinya Demokrasi di Mesir Foto: Dok. Anadolu Agency
Jakarta - Ketika Hosni Mubarak berhasil ditumbangkan oleh angin revolusi pada 2011, semua melihat fajar demokrasi telah terbit di Mesir, bahkan diramal akan menjalar ke dunia Arab yang lain. Dunia internasional memandang dunia Arab akan mengalami transformasi besar karena rakyat akan menemukan momentumnya sebagai pemegang kedaulatan utama.

Namun harapan besar tersebut sekarang terkubur. Setelah 7 tahun revolusi, Mesir kembali ke masa lalu: otoritarianisme. Pemilu Presiden yang akan digelar pada Maret 2018 mendatang terancam hanya akan diikuti oleh satu kandidat, yaitu Abdul Fattah el Sisi, Presiden Mesir.

Para kandidat lain yang sejatinya akan mewarnai Pemilu Presiden di Mesir satu per satu gagal melenggang. Ada yang menolak maju, dikriminalisasi, hingga dipersekusi. Ada aroma yang sangat menyengat, bahwa petahana melakukan berbagai manuver untuk menghadang munculnya lawan yang tangguh dalam konstestasi demokrasi.

Sami Anan, kompetitor terkuat el Sisi akhirnya dikriminalisasi dengan tuduhan korupsi. Anan merupakan lawan terkuat el Sisi yang punya latar belakang militer serta mempunyai jaringan kuat dengan Eropa dan Amerika Serikat plus Arab Saudi. Langkah Anan untuk melenggang sebagai kandidat orang nomor satu di Mesir dijegal di tengah jalan, karena dianggap mampu menggerus popularitas dan elektabilitas el Sisi.

Maklum, dalam empat tahun terakhir tidak ada pencapaian yang istimewa dari el Sisi kecuali soal perang melawan kelompok teroris. Itu pun Mesir tidak pernah absen dari ancaman bom bunuh diri. Kelompok teroris melancarkan serangan mematikan tidak hanya di gereja, tetapi juga di masjid, dan pihak keamanan.

Belum lagi, perekonomian di Mesir terus merosot hingga titik-nadir dengan naiknya harga bahan-bahan pokok, dan tingginya inflasi yang menyebabkan terjun bebasnya nilai mata uang Mesir terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat.

Mesir dalam beberapa tahun terakhir sejak dipimpin el-Sisi juga terpuruk dalam hal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), karena terjadi penangkapan terhadap lawan-lawan politik dan para aktivis HAM, sehingga Amerika Serikat menunda bantuan militer ke Mesir karena catatan buruk soal HAM.

Melihat kondisi yang miris itu, sebenarnya Pemilu Presiden dapat menjadi momentum untuk mengoreksi kepemimpinan el Sisi. Apakah rakyat Mesir masih menghendaki petahana atau sebaliknya justru menghendaki perubahan kepemimpinan nasional?

Tidak hanya Sami Anan yang diperlakukan secara tidak adil. Hisyam Gunaynah yang digadang-gadang akan ditunjuk oleh Sami Anan sebagai Cawapres jika dirinya memenangkan pertarungan juga diperlakukan secara mengenaskan. Ia diserang oleh orang yang tidak dikenal, sehingga mengalami luka yang dapat mengancam nyawanya.

Begitu pula kandidat dari kelompok kiri dan kaum muda, Khaled Ali memilih untuk mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai Presiden Mesir. Ia menjadi harapan bagi gerakan Januari 2011 yang berhasil menjatuhkan Hosni Mubarak. Tapi karena kondisi politik yang sangat tidak sehat, ia diminta oleh berbagai aliran politik untuk mengurungkan niatnya maju sebagai kandidat Presiden.

Ahmad Syafiq, mantan Perdana Menteri yang mendapat dukungan dari kelompok borjuis dan mempunyai popularitas lumayan besar pun mengurungkan niatnya untuk maju sebagai kandidat Presiden Mesir. Ia diancam akan dikriminalisasi atas sejumlah dugaan korupsi di masa lalu.

Ada satu kandidat lagi, Muhammad Anwar Sadat, Pimpinan Partai Reformasi dan Pembangunan, yang mendapat dukungan dari kalangan liberal pun tidak jadi maju sebagai kandidat Presiden karena ia mencium ada bau tak sedap dalam Pemilu Presiden yang akan datang.

Hanya ada dua kandidat yang akan menjadi kompetitor el Sisi yang mendaftar di detik-detik akhir jelang penutupan, yaitu Ahmad Fudhali dari Partai Damai Demokratis dan Musa Musthafa Musa dari Partai Esok. Kedua kandidat ini sebenarnya dari partai yang mendukung pemerintahan el Sisi. Banyak pihak memandang kedua kandidat sengaja dimajukan, sehingga el Sisi tidak menjadi kandidat tunggal.

Melihat peta pertarungan Pemilu Presiden di Mesir pada Maret nanti hampir bisa dipastikan tidak akan ada demokrasi yang substantif. Ada pemilu, tetapi tidak ada demokrasi yang meniscayakan kompetisi gagasan untuk kemajuan Mesir. Banyak pihak memandang, bahwa Mesir terperangkap dalam kubangan "demokrasi tanpa kaum demokrat". Artinya, demokrasi hanya dilaksanakan secara prosedural, tapi tidak ada jiwa besar dari petahana untuk menciptakan demokrasi yang substantif.

Mesir telah kembali ke era Hosni Mubarak yang terbukti mematikan api demokrasi. Rezim otoriter telah membunuh demokrasi. Karenanya, kelompok oposisi di Mesir mengancam untuk memboikot Pemilu Presiden yang akan datang.

Hassan Hanafi dalam analisisnya di Harian al-Masry al-Youm memandang adanya upaya yang tidak sehat dalam Pemilu Presiden di Mesir karena media massa yang umumnya dikuasai pemerintah mewacanakan Presiden el-Sisi ditetapkan secara aklamasi untuk memimpin Mesir empat tahun yang akan datang. Padahal Mesir dengan segala pluralitas faksi politik sejatinya memerlukan sebuah kompetisi demokrasi yang sehat, sehingga rakyat dapat memilih pemimpin terbaik.

Pada akhirnya, Mesir akan menghadapi masa-masa komplikasi politik di masa yang akan datang. El Sisi diprediksi akan melenggang bebas sebagai Presiden Mesir untuk empat tahun yang akan datang. Namun kepemimpinannya tidak akan mendapatkan legitimasi politik yang kokoh dari rakyat karena diraih melalui proses yang tidak jujur, bebas, dan adil.

Kondisi tersebut akan memunculkan ketidakpercayaan terhadap el-Sisi dan pada akhirnya Mesir akan mengalami goncangan politik lagi. Apalagi prasyarat revolusi benar-benar nyata di depan mata, seperti krisis ekonomi dan retaknya lingkaran militer. Di samping kaum muda yang mulai kehilangan harapan terhadap el Sisi yang nyata-nyata membunuh benih-benih demokrasi yang sebenarnya mulai tumbuh di Mesir.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed