DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 18 Januari 2018, 12:40 WIB

Kolom

Oprah dan Pidato Besarnya

Tantowi Yahya - detikNews
Oprah dan Pidato Besarnya Oprah Winfrey (Foto: Paul Drinkwater/NBCUniversal via Getty Images)
Jakarta - Beberapa hari belakangan ini dunia 'diguncang' oleh pidato Oprah Winfrey yang disampaikannya di Golden Globes, ajang penghargaan untuk praktisi film Hollywood. Demikian memukaunya, pidato mantan ratu talkshow ini disebut-sebut sebagai pidato terbaik di ajang pemberian penghargaan di AS. Pidato ini melahirkan banyak pujian dari pengamat politik dan masyarakat Amerika, dan biasalah...mulai ada dorongan agar Oprah maju di Pilpres Amerika 2020. Demikian besar dampak dari sebuah pidato yang disiapkan dengan baik bagi penyampainya.

The right message at the right time by the right people adalah ungkapan yang tepat atas kesuksesan pidato tersebut. Oprah mengangkat topik yang lagi banyak diperbincangkan yaitu ras dan wanita dalam perspektif kesetaraan dan kesempatan. Disampaikan pada saat yang tepat, ketika rakyat Amerika sedang dipusingkan dengan berbagai kebijakan kontroversial Presiden Trump. Meski dukungan agar Oprah maju di pilpres perlu dikaji lebih jauh oleh Oprah dan timnya, namun pidato berdurasi 9 menit tersebut telah berhasil menyihir publik Amerika. Nama Oprah Winfrey mulai bersinar di panggung politik.

Pidato-pidato yang Mengguncang

Dalam sejarah perjuangan bangsa dan peradaban politik modern, kita mengenal beberapa pidato yang mengguncang dan mengubah dunia. I Have A Dream, pidato yang disampaikan oleh Martin Luther King pada 1963 menjadi awal persamaan hak bagi seluruh ras di AS. Melalui pidato berjudul The Only Thing We Have to Fear is The Fear Itself, Franklin D. Roosevelt bukan saja berhasil mengangkat moral rakyat Amerika yang sedang dilanda depresi, tapi menjadikannya presiden selama 12 tahun. Di era perang dingin, pidato Mikhail Gorbachev, Freedom of Choice yang disampaikannya di depan Sidang Umum PBB, 7 Desember 1988 menandai transisi Uni Soviet menjadi negara bukan komunis sekaligus mengakhiri era perang dingin.

Dalam konteks kita, dengan pidato yang membakar, Bung Tomo berhasil membuat arek-arek Suroboyo berani mati dalam melawan tentara pendudukan Inggris pada 1945. Tidak ada pula yang bisa menyangkal, nasionalisme rakyat kita di tahun-tahun awal kemerdekaan adalah hasil pompaan semangat Bung Karno melalui pidato-pidatonya yang membakar. Meski tidak punya apa-apa sebagai bangsa yang baru merdeka, rakyat bangga akan negara dan bangsanya dan rela mati untuk itu.

Apa itu Pidato Hebat?

Dalam bahasa Inggris pidato hebat biasa disebut big speech. Adjektif "big" paling tidak mengandung tiga makna. Pertama, besar dalam substansi yang disampaikan; kedua, dalam magnitude yang dibangun, dan ketiga, besar dalam perubahan yang dihasilkan. Seluruh pidato yang saya ambil sebagai contoh di atas memenuhi semua aspek sebagai pidato besar (big speech).

Oprah menyampaikan pesan yang sekarang sedang menjadi perhatian publik Amerika yang dibalut dalam kata-kata yang mudah, dan disampaikan secara meyakinkan. Hasilnya, rakyat Amerika kagum akan kecerdasannya dan mendorongnya maju di pilpres. Hal yang sama dialami oleh Barack Obama, senator yang kurang begitu dikenal saat itu. Setelah pidato hebatnya di konvensi Partai Demokrat pada 2004, Obama mendadak terkenal. Rakyat Amerika menemukan tokoh baru yang menjanjikan. Pidato yang ditulis sendiri oleh Obama dan disampaikan dengan begitu meyakinkan itu berujung pada dukungan rakyat Amerika yang lagi butuh perubahan.

Pidato hebat bermula dari materi yang hendak disampaikan. Topiknya bisa apa saja. Topik yang dipilih kemudian dikemas dalam kata-kata yang mudah dan disampaikan dengan baik. Di sinilah jebakan bermula. Banyak pembicara yang memilih topik berat yang sesungguhnya tidak dikuasainya sehingga dia terlihat gamang. Banyak pula yang memilih topik ringan tapi disampaikan dengan kata-kata "canggih" yang sulit dimengerti khalayak. Akibatnya pidato tidak nyambung.

Ada adagium the singer not the song. Dalam public speaking, ini juga berlaku meski tidak mutlak. Cara penyampaian sangat tergantung pada gaya penyampainya, artinya sangat individu. Ada yang bergaya oratif dengan pengulangan-pengulangan kata seperti Bung Karno dan Bung Tomo. Ada pula yang santai penuh canda seperti Aa Gym. Tidak ada yang paling baik di antara keduanya. Gaya sangat individu. Yang penting khalayak khusyuk mendengar pembicara sampai tuntas dan membeli ide serta gagasan yang ditawarkan.

Kemampuan menyampaikan pidato tidak selalu berkorelasi pada bakat, tapi lebih pada pelatihan. Saya bisa menyimpulkan berdasarkan pengalaman sebagai public speaker selama ini bahwa public speaking adalah sebuah kemampuan yang bisa dipelajari. Banyak tokoh politik dan bisnis yang pada awalnya buruk dalam public speaking namun selang beberapa lama kemudian menjadi pembicara yang baik.

Oprah dan Obama memang mempunyai bakat sebagai pembicara tapi itu hanya menyumbang 40% dari keberhasilan. Selebihnya adalah persiapan dan latihan. Sebagai pembawa acara televisi, Oprah memang terlatih untuk berbicara di depan publik. Demikian juga Obama, latar belakangnya sebagai pengacara, aktivis, dan anggota senat membuatnya mau tidak mau bersinggungan dengan masyarakat dan seringkali harus bicara di depan khalayak dalam rangka menjual ide dan pemikirannya.

Tapi sekali lagi, itu tidak akan berarti banyak jika mereka tidak membuat persiapan dengan baik dan melakukan latihan-latihan. Pidato Obama di konvensi Partai Demokrat disiapkan selama 2 minggu, dan latihan sebelum naik podium selama 3 jam. Hasilnya, pidato berdurasi 17 menit tersebut diinterupsi oleh 33 kali tepuk tangan panjang.

Oprah Winfrey Presiden AS Berikutnya?

Meski pilpres masih dua tahun lagi, tapi masyarakat Amerika sudah mulai berspekulasi siapa yang pantas menjadi presiden berikutnya. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba muncul nama Oprah Winfrey. Sebanding dengan yang mendukung, yang tidak mendukung juga sama banyaknya. Argumentasi yang muncul sangat klasik seperti, tidak punya pengalaman politik, tidak pernah berurusan dengan birokrasi, dan yang lebih tajam lagi, mengurus negara tidak bisa diselesaikan hanya dengan pidato. Hal yang wajar mengingat yang hendak diusung adalah figur publik yang jika terpilih akan menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan negara demokrasi terbesar kedua.

Argumentasi yang tidak mendukung menurut saya lebih banyak dilandasi oleh kekhawatiran, rakyat Amerika akan memilih figur terkenal dari kalangan selebritas yang belum tentu menguasai isu-isu teramat penting dalam memimpin sebuah negara, antara lain politik luar negeri dan ekonomi.

Amerika pernah mempunyai Presiden dengan latar belakang selebritas, Ronald Reagan. Mantan aktor ini dua priode (1981-1989) duduk di Gedung Putih dan tercatat sebagai salah satu presiden tersukses Amerika. Dia mengalahkan presiden petahana, Jimmy Carter secara mutlak (landslide victory). Di bawah pemerintahannya ekonomi mereka mengalami peningkatan tajam yang antara lain ditandai dengan inflasi menurun dari 12,5% ke 4,4%, dan pertumbuhan tahunan GDP sebesar 3,4%.

Dia mereduksi tarif pajak, belanja pemerintah, dan melakukan deregulasi ekonomi dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah-langkah ekonomi ini kemudian dikenal sebagai Reaganomics. Bersama Franklin D Roosevelt dan Bill Clinton, Ronald Reagan adalah satu dari tiga presiden yang approval rating-nya tinggi (68%) ketika berhenti bertugas.

Legacy yang ditinggalkan Reagan ini bisa dikapitalisasi oleh Oprah Winfrey dalam meyakinkan rakyat Amerika. Demikian pula keberhasilan Obama melalui pidato besarnya dapat dijadikan inspirasi bagi Oprah jika dia benar-benar berangan menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45. Hanya saja rakyat Amerika barangkali akan tetap membedakan Reagan dan Obama dengan dirinya.

Ronald Reagan adalah politisi yang pernah menjabat Gubernur California dua periode (1967-1975). Barack Obama adalah politisi dan senator. Keduanya telah banyak makan asam dan garam dalam politik, birokrasi, dan hubungan dengan rakyat. Celah yang bisa dimanfaatkan oleh Oprah adalah populasi perempuan di Amerika yang lebih tinggi daripada laki-laki, African-American yang sekarang berjumlah 37 juta (13,3%), dan barangkali inilah saatnya Amerika mempunyai presiden perempuan. Tantangan yang akan dihadapi Oprah cukup banyak, tapi waktu juga masih cukup banyak.

Tantowi Yahya Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga; praktisi dan pemerhati public speaking


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed