Area wisata terbagi dalam area buatan manusia (man-made marvel) dan area alam (natural marvel). Contoh area wisata buatan manusia misalnya Monas, Menara Eiffel, S.E.A Aquarium, museum, dan masih banyak lagi. Sementara, area alam misalnya Danau Toba, Pantai Kuta, festival budaya, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, area wisata masih bisa dikembangkan lagi misalnya membuat efek iluminasi dengan menggunakan lampu efek khusus pada spot wisata tersebut, misalnya iluminasi Shirakawa-Go yang dilakukan pada musim dingin.
Wisata adalah mengudarasa. Perjalanan membuat penikmatnya tidak hanya merasakan lingkungan sekitarnya tapi juga semua citarasanya. Suasana. Semua yang bisa dicecap oleh panca indra kita, juga hati kita. Pariwisata senantiasa meninggalkan kesan yang mendalam, yang dijaga agar wisatawan datang dan datang lagi. Wisata kuliner, wisata petualangan, wisata pendidikan, wisata religi, semua memiliki pasar tersendiri. Jauh sebelum era media sosial, pariwisata telah menjadi industri besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah daerah harus melakukan pemasaran dan perhitungan yang baik, perizinan yang tertata. Jangan menjadi abusive pada potensi pariwisata. Di sini pemerintah harus berperan aktif. Wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara perlu diperlakukan sama baiknya. Wisatawan nusantara bisa saja menghabiskan uang lebih banyak, sementara bisa saja wisatawan mancanegara berhemat karena hanya bermodal niat berpetualang.
Contoh lain adalah Geopark Ciletuh, Jawa Barat memiliki modal awal bentang alam luar biasa bagi penikmat wisata petualangan. Kekayaan ini terus dikembangkan melalui status geopark nasional. Petani-petani yang tinggal di obyek wisata ini bisa dikatakan sukses meningkatkan nilai jual hasil pertanian menjadi produk organik bersertifikat.
Geopark Ciletuh yang merupakan kerja sama cantik akademisi, geologis, Universitas Padjajaran, Badan Geologi Nasional, Pemerintah Daerah Jawa Barat, dan pemerintah pusat telah memetik hasilnya dari sektor pariwisata. Tidak ada hotel di Ciletuh; masyarakat dibina untuk bisa mengelola home stay. Penikmat wisata alam dan petualangan tidak memerlukan kemewahan hotel berbintang. Semua memiliki pasarnya tersendiri. Selain Ciletuh, Belitong, Radja Ampat, Rinjani juga telah berstatus geopark nasional.
Kekayaan alam dan kemampuan manusia membangun konsep-konsep pariwisata terintegrasi bisa saling melengkapi. Saat ini prosesnya masih terus berjalan. Pemerintah telah menetapkan 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Pemerintah telah mendirikan Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba, Badan Otoritas Pariwisata Borobudur, Kawasan Wisata Mandalika, semua berkembang simultan dengan pembangunan infrastruktur perhubungan darat, laut, dan udara.
Ini bukan pekerjaan instan yang dapat dilihat hasilnya dalam waktu singkat, meskipun efeknya relatif lebih cepat dibanding industri lain. Ini adalah proses yang meliputi promosi, pembinaan, pendidikan, pemasaran, hingga perlindungan. Suatu investasi besar pada manusianya, pada masyarakatnya.
Masyarakat yang mata pencarian utamanya nelayan bisa mendapatkan nilai tambah dari ikan yang didapatkan. Jika ikan kembung mentah sekilo Rp 30.000, maka bila ikan kembung ini diolah menjadi ikan kembung bakar, seekor ikan dengan berat 100 gram atau sepersepuluhnya bisa dihargai Rp 15.000. Kita bisa mengajak para nelayan menjadi supplier home-stay. Istri-istri nelayan bisa memanfaatkan waktu membuat cinderamata yang khas, memanfaatkan kekayaan lokal. Masyarakat diajak untuk menjaga kelestarian alam agar pariwisata dan kesejahteraan dapat berkesinambungan.
Tugas pemerintah salah satunya melakukan pembinaan, merangkul mitra-mitra, membuat organisasi pemberdayaan masyarakat. Nilai tambah lain, misalnya membuat kapal-kapal rakyat menjadi kapal wisata. Berlayar sambil menikmati sajian laut nan segar, semua ini sangat dimungkinkan.
Konektivitas dibutuhkan tidak hanya untuk memfasilitasi pariwisata. Adalah kekeliruan bila menyangka pembangunan bandara hanya untuk pariwisata. Konektivitas memfasilitasi semua sektor, perdagangan, pendidikan, dan lain-lain; pariwisata termasuk di dalamnya.
Sementara di Bali, pemerintah pusat dan daerah perlu menjaga kekayaan alam dan budaya Bali dari hal-hal yang eksploitatif. Menjaga Ubud tetap hijau, mengatur kuota wisatawan agar tidak menjadi macet dan sesak, membuat pengelolaan sampah terintegrasi. Sungguh masih banyak pekerjaan rumah untuk Bali, yang dapat dikatakan telah matang sebagai lokasi wisata.
Silakan dipikirkan seperti apa pekerjaan untuk daerah-daerah yang pariwisatanya belum seperti Bali. Pembangunan pariwisata tidak salah. Perencanaan sudah ada, sudah berjalan. Mungkin belum banyak orang yang tahu. Masyarakat dapat membantu menjaga, mengawasi, memanfaatkan potensi-potensi yang ada. Masyarakat setempatlah yang sewajarnya menjadi penerima manfaat utama dari pariwisata di daerahnya.
Fatma Puspitasari Publication Head pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman
(mmu/mmu)











































