DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 21 Desember 2017, 15:04 WIB

Kolom

Menjawab Glorifikasi Pariwisata: Mengapa Pariwisata Jadi Primadona

Fatma Puspitasari - detikNews
Menjawab Glorifikasi Pariwisata: Mengapa Pariwisata Jadi Primadona Fatma Puspitasari (Foto: istimewa)
Jakarta - Optimalisasi pariwisata di berbagai daerah membutuhkan penambahan infrastruktur, pembangunan penginapan-penginapan, hotel, agen perjalanan yang tak mampu diusahakan oleh penduduk lokal pada daerah wisata karena membutuhkan modal yang besar adalah benar adanya. Pariwisata membutuhkan investasi. Investasi memutar roda ekonomi, karena dana tidak bisa duduk manis di bank. Pariwisata adalah industri; seperti semua industri, pariwisata membuka lapangan kerja. Hanya pariwisata yang memiliki range tenaga kerja bervariatif, jam kerja yang bisa diatur fleksibel.

Area wisata terbagi dalam area buatan manusia (man-made marvel) dan area alam (natural marvel). Contoh area wisata buatan manusia misalnya Monas, Menara Eiffel, S.E.A Aquarium, museum, dan masih banyak lagi. Sementara, area alam misalnya Danau Toba, Pantai Kuta, festival budaya, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, area wisata masih bisa dikembangkan lagi misalnya membuat efek iluminasi dengan menggunakan lampu efek khusus pada spot wisata tersebut, misalnya iluminasi Shirakawa-Go yang dilakukan pada musim dingin.

Wisata adalah mengudarasa. Perjalanan membuat penikmatnya tidak hanya merasakan lingkungan sekitarnya tapi juga semua citarasanya. Suasana. Semua yang bisa dicecap oleh panca indra kita, juga hati kita. Pariwisata senantiasa meninggalkan kesan yang mendalam, yang dijaga agar wisatawan datang dan datang lagi. Wisata kuliner, wisata petualangan, wisata pendidikan, wisata religi, semua memiliki pasar tersendiri. Jauh sebelum era media sosial, pariwisata telah menjadi industri besar.

Sekarang, bagaimana pemerintah dan swasta bisa memanfaatkan pariwisata dalam ukuran komprehensif yang terukur multiplier effect-nya. Kita contohkan Kabupaten Batu, Malang yang memiliki Jatim Park, Museum Angkut, salah satu museum transportasi yang dikelola dengan baik. Sudah bisa dihitung berapa jumlah pengunjung Jatim Park. Multiplier effect meliputi penambahan nilai dari produk lokal Malang, dari buah apel menjadi kudapan berbahan apel yang bisa meningkatkan nilai jual.

Pemerintah daerah harus melakukan pemasaran dan perhitungan yang baik, perizinan yang tertata. Jangan menjadi abusive pada potensi pariwisata. Di sini pemerintah harus berperan aktif. Wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara perlu diperlakukan sama baiknya. Wisatawan nusantara bisa saja menghabiskan uang lebih banyak, sementara bisa saja wisatawan mancanegara berhemat karena hanya bermodal niat berpetualang.

Contoh lain adalah Geopark Ciletuh, Jawa Barat memiliki modal awal bentang alam luar biasa bagi penikmat wisata petualangan. Kekayaan ini terus dikembangkan melalui status geopark nasional. Petani-petani yang tinggal di obyek wisata ini bisa dikatakan sukses meningkatkan nilai jual hasil pertanian menjadi produk organik bersertifikat.

Geopark Ciletuh yang merupakan kerja sama cantik akademisi, geologis, Universitas Padjajaran, Badan Geologi Nasional, Pemerintah Daerah Jawa Barat, dan pemerintah pusat telah memetik hasilnya dari sektor pariwisata. Tidak ada hotel di Ciletuh; masyarakat dibina untuk bisa mengelola home stay. Penikmat wisata alam dan petualangan tidak memerlukan kemewahan hotel berbintang. Semua memiliki pasarnya tersendiri. Selain Ciletuh, Belitong, Radja Ampat, Rinjani juga telah berstatus geopark nasional.

Kekayaan alam dan kemampuan manusia membangun konsep-konsep pariwisata terintegrasi bisa saling melengkapi. Saat ini prosesnya masih terus berjalan. Pemerintah telah menetapkan 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Pemerintah telah mendirikan Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba, Badan Otoritas Pariwisata Borobudur, Kawasan Wisata Mandalika, semua berkembang simultan dengan pembangunan infrastruktur perhubungan darat, laut, dan udara.

Ini bukan pekerjaan instan yang dapat dilihat hasilnya dalam waktu singkat, meskipun efeknya relatif lebih cepat dibanding industri lain. Ini adalah proses yang meliputi promosi, pembinaan, pendidikan, pemasaran, hingga perlindungan. Suatu investasi besar pada manusianya, pada masyarakatnya.

Masyarakat yang mata pencarian utamanya nelayan bisa mendapatkan nilai tambah dari ikan yang didapatkan. Jika ikan kembung mentah sekilo Rp 30.000, maka bila ikan kembung ini diolah menjadi ikan kembung bakar, seekor ikan dengan berat 100 gram atau sepersepuluhnya bisa dihargai Rp 15.000. Kita bisa mengajak para nelayan menjadi supplier home-stay. Istri-istri nelayan bisa memanfaatkan waktu membuat cinderamata yang khas, memanfaatkan kekayaan lokal. Masyarakat diajak untuk menjaga kelestarian alam agar pariwisata dan kesejahteraan dapat berkesinambungan.

Tugas pemerintah salah satunya melakukan pembinaan, merangkul mitra-mitra, membuat organisasi pemberdayaan masyarakat. Nilai tambah lain, misalnya membuat kapal-kapal rakyat menjadi kapal wisata. Berlayar sambil menikmati sajian laut nan segar, semua ini sangat dimungkinkan.

Konektivitas dibutuhkan tidak hanya untuk memfasilitasi pariwisata. Adalah kekeliruan bila menyangka pembangunan bandara hanya untuk pariwisata. Konektivitas memfasilitasi semua sektor, perdagangan, pendidikan, dan lain-lain; pariwisata termasuk di dalamnya.

Sementara di Bali, pemerintah pusat dan daerah perlu menjaga kekayaan alam dan budaya Bali dari hal-hal yang eksploitatif. Menjaga Ubud tetap hijau, mengatur kuota wisatawan agar tidak menjadi macet dan sesak, membuat pengelolaan sampah terintegrasi. Sungguh masih banyak pekerjaan rumah untuk Bali, yang dapat dikatakan telah matang sebagai lokasi wisata.

Silakan dipikirkan seperti apa pekerjaan untuk daerah-daerah yang pariwisatanya belum seperti Bali. Pembangunan pariwisata tidak salah. Perencanaan sudah ada, sudah berjalan. Mungkin belum banyak orang yang tahu. Masyarakat dapat membantu menjaga, mengawasi, memanfaatkan potensi-potensi yang ada. Masyarakat setempatlah yang sewajarnya menjadi penerima manfaat utama dari pariwisata di daerahnya.

Fatma Puspitasari Publication Head pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed