DetikNews
Senin 04 Desember 2017, 15:18 WIB

Kolom

Memanusiakan Muhammad Sang Nabi

Hilmi Amin Sobari - detikNews
Memanusiakan Muhammad Sang Nabi Hilmi Amin Sobari (Foto: istimewa)
Jakarta - "None of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad." ~ W. Montgomerry Watt, Muhammad at Mecca, 1958.

Saat masih kecil saya kadang ditugasi untuk mengumandangkan azan ketika waktu salat telah tiba. Sambil menunggu imam, di sela-sela azan dan iqomah, saya dan para jamaah salat lainnya biasa mengisinya dengan ritual puja-puji kepada Nabi Muhammad SAW, tradisi khas santri yang jarang saya temui di kota-kota besar seperti di Jakarta.

Karena dilakukan berulang-ulang dengan berbagai lirik dan nada, maka sebagian liriknya saya hafal hingga hari ini. Salah satu yang paling saya suka berbunyi begini: "Muhammadun basyarullah kalbasyari, bal huwa kalyaquti bainal hajari --Muhammad adalah manusia, sama seperti yang lainnya, hanya saja ia bagaikan batu permata di antara berbagai jenis bebatuan."

Tentu saja, sebagai seorang anak kecil, waktu itu saya tidak mampu memahami apa arti sesungguhnya dari kalimat basyarullah kalbasyari itu --manusia yang sama dengan manusia lainnya. Justru kalimat kalyaquti bainal hajari --bagaikan batu permata di antara berbagai jenis bebatuan-- itulah yang paling menggetarkan saya karena sosoknya bagi saya penuh dengan metafora yang indah bak superhero.

Glorifikasi terhadap Muhammad seperti itu yang kemudian mengawali perkenalan saya dengan sosoknya, dan membentuk imajinasi tentangnya: ia sang Rasul yang suci dan tak tersentuh, manusia agung tanpa cela sedikit pun; ketika persoalan menghadang maka cukup dengan mengangkat kedua tangan, dan berdoa lalu secara ajaib turunlah wahyu pemberi solusi; pemimpin perang tanpa tanding karena dibantu oleh pasukan langit yang tak terkalahkan; dan, berbagai penggambaran yang sangat ideal lainnya.Bukankah tokoh superhero selalu dicitrakan sempurna seperti itu oleh pecintanya?

Glorifikasi seperti itu pada satu titik bisa menjadi mental block yang kontra-produktif bagi hubungan antara Muhammad dengan penganut ajarannya, terutama yang tak mengenalnya secara personal. Kesempurnaan imajinya menciptakan jarak yang mengganggu proses peneladanan, penganut ajarannya takut, dan rendah diri: merasa tak mungkin mampu mendekatinya karena hanya manusia biasa yang mahallul khatha wannisyan --makhluk yang lahir dengan kodrat alpa dan lupa.

Yang terjadi kemudian pada sebagian kasus, glorifikasi seperti ini menciptakan pengikut yang memaksakan dirinya untuk sesempurna Muhammad, dan pada tahap yang lebih buruk memaksa orang lain menerima dan mengikuti pola peneladanan yang diterapkannya. Gerakan purifikasi keagamaan yang miskin nalar dan kering imajinasi seperti itulah yang memunculkan para pelaku teror. Mereka mengimajinasikan seorang Muhammad yang keras dan kaku dalam menghadapi perbedaan dan keberagaman.

Beruntungnya, citra Muhammad yang sempurna itu perlahan memudar saat usia saya lebih dewasa, khususnya setelah saya belajar di pondok pesantren. Muhammad bisa saya dekati dengan pendekatan yang lebih rasional melalui kajian tarikh atau sejarah atau yang lebih populer disebut sirah nabawiyah. Keraguan berlanjut saat saya membaca karya-karya penulis barat yang kritis disertai temuan baru yang menambah wawasan tentang Muhammad.

Dari kajian kritis itu pula saya mulai menemukan versi baru tentang sosoknya yang selama ini luput dari jangkauan, versi membumi yang menegaskan posisinya sebagai manusia biasa (basyarullah kalbasyari). Ternyata, sebagai manusia biasa Muhammad pernah berbuat salah, dan kemudian mendapat surat teguran dari Tuhan; pernah kalah sewaktu Perang Uhud, dan bahkan diisukan telah mati ketika peperangan masih berlangsung padahal nyatanya masih hidup dengan luka di wajahnya, dan gigi tanggal.

Pernah mengelak saat pendapatnya soal pertanian yang setelah diujicoba justru gagal panen, dan beliau menjawab: kamu lebih tau urusan duniamu! Dan, menangisi kematian Khadijah dengan kesedihan sangat dalam hingga memutuskan hijrah ke Thaif, dan disambut dengan makian dan lemparan batu hingga beliau mengadu kepada Allah, dan kemudian mendapat penghiburan dari budak penolongnya yang mengenal Nabi Yunus yang beliau sebut sebagai saudara. Dan, berbagai sifat manusiawi lainnya.

***

Seandainya saya lahir di Barat barangkali bukan sosok di atas yang menghuni benak saya tentang imaji Muhammad. Seperti kutipan yang saya letakkan sebagai pembuka paragraf di atas, Muhammad kurang mendapat perhatian yang layak, bahkan pada sebagian kasus justru dilecehkan dan dipenuhi nada permusuhan yang muncul karena ketidaktahuan.

Di Barat, Muhammad dikenal sebagai sosok gelap yang legendaris, Mahound: jahat dan musuh besar bagi mereka. Jika di sini anak kecil yang menangis ditakut-takuti dengan hantu atau setan agar terdiam, maka di Barat sosok untuk menakut-nakuti itu adalah Mahound Pada bagian yang lain ia digambarkan sebagai seorang pesulap palsu yang berhasil mengecoh bangsa Arab untuk tunduk dan mengikuti apapun kemauannya.

Sebuah kisah menceritakan tentang seekor banteng putih yang meneror masyarakat dan kemudian muncul membawa al-Quran, kitab suci yang dibawa untuk bangsa Arab, melayang dengan fantastis di kedua tanduknya. Juga dikisahkan ia melatih seekor merpati agar mematuk kacang yang ada di telinganya, agar tampak seolah-olah malaikat sedang berbicara padanya.

Pengalaman mistiknya digambarkan dengan buruk, seolah-olah dia adalah penderita epilepsi, yang pada zaman itu sama dengan mengatakan bahwa beliau dikuasai roh jahat. Kehidupan seksnya juga dicela karena menikah dengan banyak wanita, dan ketika sampai kepada pernikahan dengan Aisyah maka pandangannya adalah pelecehan terhadap anak di bawah umur, dan seterusnya.

Semua mitos salah-kaprah itu dikembangkan dari zaman pra-modern pada waktu Perang Salib sebagai metode pertahanan kultural karena ketakutan Barat atas kembalinya imperium Islam seperti yang pernah terjadi di Spanyol yaitu kolonisasi selama berabad-abad. Dan islamo-phobia itulah yang saat ini masih dirasakan walaupun kemudian setelah dunia riset sejarah lebih terbuka maka sosok Mahound yang jahat secara perlahan ditampilkan berbeda oleh sejarawan Barat yang menekuni kajian Islam dan Timur Tengah; sosoknya lebih netral, dan seringkali mendapat pujian atas keberhasilan Muhammad dalam berbagai bidang.

Di sini saya kutipkan satu pujian dari George Bernard Shaw (1936). Setelah mengkaji secara mendalam tentang Muhammad, ia mempercayai Nabi Muhammad adalah orang yang mampu memberikan solusi bagi masalah-masalah manusia modern seandainya dia masih ada saat ini, dan memegang kepemimpinan manusia modern. Bahkan Bernard juga mengusulkan agar Muhammad diberikan gelar sebagai "The Savior of Humanity" atau Penyelamat Kemanusiaan. "I have prophesied about the faith of Mohammad that it would be acceptable the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today."

Dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) yang kontroversial, Michael H Hart menempatkan Muhammad di urutan pertama mengalahkan Newton, Yesus, dan Sidharta Gautama. Ketika terus didesak untuk merevisinya ia bergeming dengan pendapatnya, dan menyatakan dalihnya bahwa Muhammad adalah "the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level." (Satu-satunya tokoh sejarah yang mampu meraih keberhasilan puncak dalam bidang agama dan dunia.)

***

Di internal umat Islam sendiri sosok Muhammad tidak dipersepsikan sama. Islam kultural --atau Islam Nusantara-- misalnya mengambil sosok yang santun, lemah lembut, penebar kasih sayang dan anti-kekerasan. Sedangkan Islam politik biasanya menggunakan jargon agama dengan membawa sosok Muhammad yang tegas, keras, dan meletakkan persaudaraan dan persatuan Islam sebagai prioritas; kepemimpinan politik harus ada di bawah komandonya, dan mereka senang meneriakkan kalimat thayyibah seolah-olah tengah didukung Tuhan secara langsung melalui glorifikasi sosok Muhammad versi mereka.

Sosok Muhammad yang manusiawi seyogianya yang terus dikenalkan ke umat muslim pada khususnya, dan manusia pada umumnya. Barangkali jika kita mau mengubah pandangan kita terhadap manusia agung ini menjadi sosok yang lebih manusiawi saya yakin dampak yang kita rasakan akan jauh lebih positif-natural. Mengenalnya secara personal, akrab, tanpa jarak, dan apa adanya sebagai seorang manusia biasa, ayah dari anak-anaknya, kakek dari cucunya, atau pemimpin yang memberi tauladan yang baik. Barangkali dengan cara seperti itu baru kita akan benar-benar mengenalinya sebagai manusia yang dipenuhi unsur kemanusiaan, dan karenanya jejaknya bisa diikuti siapapun.

Sebagai penutup saya kutipkan satu fragmen dari sirah Muhammad karya Karen Armstrong yang mengutip sejarawan sekaligus ahli tafsir Ibnu Jarir At-Thabari tentang kegalauan yang dihadapinya saat menerima wahyu pertama: sosok yang sangat manusiawi dan mudah ditemukan dalam kehidupan modern saat ini ketika tertimpa masalah berat dan di luar jangkauan kemampuan manusia pada umumnya.

"Muhammad mendapati dirinya dalam keadaan terteror dan mengalami perubahan mendadak. Berpikir bahwa dia, di luar kehendaknya, mungkin menjadi kahin (dukun) yang dikuasai jin dan merasa putus asa, kata ahli sejarah At-Thabari, dan membuatnya tidak ingin hidup terus. Keluar dari gua, Muhammad mendaki ke puncak gunung dan bermaksud menerjunkan dirinya supaya mati."

Mengenalmu sebagai manusia biasa membuatku rindu padamu, ya Rasul. Shalatullah wa salamuhu alaik ya habibana. Selamat merayakan Maulid!

Hilmi Amin Sobari penganut ajaran Muhammad yang sedang bahagia merayakan sosoknya yang agung sekaligus manusiawi. Pernah nyantri di PPMWI Kebarongan, Banyumas, Jawa Tengah


(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed