DetikNews
Selasa 24 Oktober 2017, 11:00 WIB

Kolom

Indonesia Sarapan Roti

Setyaningsih - detikNews
Indonesia Sarapan Roti Foto: iStock
Jakarta - Tahun 2017, sebuah perusahaan roti berjargon "Rotinya Indonesia" merayakan tahun jadi ke-22. Dan, bertepatan dengan Hari Roti Sedunia perusahaan tersebut menggelar program yang cukup bombastis bernama "Gerakan Aku Suka Sarapan Rotinya Indonesia" (GASSRI). Tanpa saya sebut merek, Anda tentu tahu roti apa yang telah beranjak namanya dewasa ini. Sebuah koran nasional bertanggal 18 Oktober 2017 mewartakan bahwa gerakan sarapan roti nasional berlangsung serentak di 22 kota di Indonesia.

Penyelenggara gerakan membagikan roti ke sekolah-sekolah dasar, mengajak murid menyerukan "Ikrar Aku Suka Sarapan Roti", dan membuat acara-acara seru. GASSRI mengedukasi masyarakat betapa sarapan pagi sangat penting. Tentu dengan tambahan catatan, sarapan roti nan bergizi, praktis, dan enak sebagai bagian dari pemenuhan gizi sehari-hari.

Edukasi GASSRI menggeser mulut cerewet emak-emak kita di dapur saat anak-anak tidak lekas bergegas. Imajinasi sarapan nasi mengepul dengan telur goreng mengkilat atau telur rebus dengan kuning telur merekah berganti dengan suara jingle gerobak roti kala pagi. Anda dan anak-anak Anda tentu sudah hafal betul lagunya! Jingle roti menggantikan doa-doa pagi yang bersembunyi di antara kepulan nasi.

Biografi tokoh bangsa sempat bercerita kekalahan sebagai pribumi sekaligus keinginan menjadi setara dengan kaum kulit putih dalam hal gaya hidup dan taraf ekonomi yang disimbolkan oleh roti. Soetomo, salah satu pendiri Budi Utomo di buku DR. Soetomo dalam Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (1951) garapan Imam Supardi pernah bercerita soal relasi pekerjaan dan roti. R. Soewadji, bapak Soetomo yang menjabat asisten wedana, sering kedapatan mengeluh dan menggerutu karena beban berat pekerjaan. Soetomo pun bertanya kepada bapaknya, mengapa mau bekerja di lingkungan pemerintah kolonial.

R. Soewadji menjawab, "Kalau tidak suka bekerdja begini, masakan saja dapat memberikan makanan roti padamu!" Jawaban R. Soewadji secara tidak langsung menyinggung gaya hidup yang berubah lewat meja makan kaum pribumi. Nasi berganti roti menunjukkan kemapanan ekonomi, tapi berganjar rasa sakit hati dan ketidaknikmatan bekerja sebagai manusia Jawa yang berirama, dikejar kepastian target dalam bekerja. Roti bisa jadi semacam kemewahan di tengah kehidupan yang rentan diskriminasi.

Namun, kita juga mengingat tiga tokoh pergerakan saat bergerak ke negeri Belanda di permulaan abad ke-20. Tjipto, Douwes Dekker, dan Soewardi tidak hanya sibuk berpolitik, tapi juga memikirkan belanja, memasak, dan makan. Nasionalisme juga tentang masalah perut yang beres! Mereka harus beralih dari nasi ke roti karena beras menjadi pangan pokok yang terlalu mahal dan mewah. Beras yang mereka alihkan dari roti adalah bentuk idealisme menolak sokongan dari pihak lain (Irna H.N. Hadi Soewito, 1991). Mereka jauh dari tanah Ibu Pertiwi yang membuahkan beras setiap waktu.

Gizi dan Gensi

Pada tahun 50-an, kita mendapati maskot kece di dunia per-roti-an lewat sosok Giman yang muncul di halaman akhir majalah-majalah seperti Minggu Pagi. Giman memang tidak mengiklankan roti, tapi mengiklankan mentega merek Blue Band. Digambarkan dengan jelas setiap saat Giman merasa lesu dan tidak bersemangat, akan segera beres dengan menyantap roti yang sudah diolesi mentega Blue Band. Iklan sudah mewartakan sekaligus mewabahkan keakraban anak dan keluarga Indonesia dengan roti sebagai sarapan, kudapan, atau bekal sekolah.

Sepertinya sejak tahun 70-an, roti semakin mengisi meja makan keluarga seiring propaganda pemerintah membumikan minum susu di pelbagai pelosok negeri. Banyak dari kita memiliki ingatan kolektif, membawa gelas dari rumah dan mendapat susu cokelat gratis yang dimasak oleh pihak sekolah. Bersamaan dengan pembagian susu, ada sebungkus roti bakpia kacang hijau yang diharap melengkapi program pemenuhan-perbaikan gizi. Pemerintah menganggap nasi sudah biasa. Roti memiliki taraf gizi sekaligus gengsi lebih tinggi.

Sekalipun, banyak perut Indonesia masih saja belum menerima kehadiran roti dengan tabah. Roti tidak bisa menjadi "nasi yang lain". Seperti kabar yang datang dari jemaah haji tahun 2017, menu sarapan roti membawa masalah "masih lapar". Kita cerap salah satunya pengakuan Mansyur, jemaah haji alas Blitar, "Setiap sarapan menunya roti. Saya tidak bisa makan roti. Perut saya sudah terbiasa terisi nasi. Saya ndak kenyang. Pokoke nggak wareg-lah." (Media Indonesia, 6 Agustus 2017).

Raga orang Indonesia yang kemungkinan terbiasa bekerja keras di negara beriklim tropis, memang sulit menerima roti. Roti memilih kelas penyantapnya tubuh-tubuh dalam ruang yang tidak perlu berpanas dan berpeluh serta cenderung bertempat tinggal di wilayah perkotaan.

Propaganda roti kini tidak terlalu menunjukkan kedigdayaan pemerintah atau kemapanan keluarga. Bahkan, misi edukatif dikemas dalam sarapan roti berhasil menutup kesan komersialitas yang tentu akan diamini keluarga karena merasa terbantu oleh kudapan sehat. Pemerintah pun turut tertolong karena berhasil memenuhi target keberhasilan gerakan sarapan nasional. Roti tidak mendiskriminasi, asal sanggup membeli.

Setyaningsih esais, tinggal di Boyolali. Penghayat pustaka anak


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed