DetikNews
Senin 15 Mei 2017, 10:28 WIB

Kolom

Langkah Kuda Trump di Semenanjung Korea

Muhammad Takdir - detikNews
Langkah Kuda Trump di Semenanjung Korea Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Siapa menduga Presiden AS, Donald Trump menyatakan ingin bertemu dengan Presiden Korea Utara, Kim Joung Un. Dalam Bahasa Trump, "I would be honoured to meet Kim Jong Un in the right circumstance". Seperti biasa, tak ada penjelasan detail lebih lanjut apa yang dimaksud Trump dengan "right circumstance".

Pernyataan yang disampaikan pekan lalu itu berbeda 180 derajat dengan apa yang selama ini jadi sikap bombastis Trump terhadap Korea Utara, rough states atau pihak yang dianggapnya notorious people. Persis tweet gila tentang apa saja yang selalu dibuatnya dini hari, pukul 03.00 am. Sampai saat ini, tak banyak orang bisa memahami langkah zig zag Donald Trump.

Dunia mungkin tak pernah "kepikiran" dua orang eksentrik itu akan saling berhadapan. Mereka berdua memegang tombol nuklir mematikan yang setiap saat bisa bergerak tanpa disadari. Trump yang reaktif, dan Kim Jong Un yang impulsif.

Setelah Trump menggerakan kapal induk Carl Vinson, tiga kapal perusak dan penjelajah di Pasifik ke perairan Korea dengan alasan drill, semua orang berkeringat dingin memikirkan kondisi terburuk efek manuver tersebut. Jika Trump nekat melakukan strike di pangkalan udara Siria, tentu bukan hal tabu melakukannya di Korea Utara.

Padahal, keputusan berani itu diambil saat Trump justru tengah mengadakan pertemuan puncak dengan Pemimpin China Xi Jinping di Mar-a-Lago (resor peristirahatan milik Keluarga Trump). Xi Jinping merupakan sekutu paling dekat Kim Jong Un.

Trump belajar menegakkan apa yang mungkin "sulit" dilakukan pendahulunya, Obama. Sedikit nekat bergaya Mad Max menyelesaikan persoalan internasional yang menyita atensi global maupun domestik di AS. Meski lebih banyak diwarnai aroma advonturir, tapi kenekatan Trump menunjukkan bahwa selama dirinya berdiam di Gedung Putih, "AS will always seriously means what is says".

Terlalu dini menyebutnya sebagai doktrin militer atau postulat politik luar negeri Trump. Namun, satu hal yang pasti, sejauh dalam soal show of force, Trump berhasil mencekoki orang yang meragukan dirinya dengan prinsip "what you get, is what you see".

Sisi lain dari strategi zig zag itu adalah situasi Semenanjung Korea menjadi lahan framing tentang munculnya "the new Trump". Kepemimpinan yang membuatnya berbeda dengan Barrack Obama. Kira-kira ibarat potret kontras antara Jimmy Carter dan Ronald Reagan pada dekade 1980-an, dengan Obama dan Trump dalam episode milenia 2000-an.

Trump punya kesempatan besar menarik distinction yang membedakan dirinya dengan Obama (tanpa melakukan ini pun, sebenarnya keduanya sudah ibarat bumi dan langit). Sebagai master dari "the art of the deal", Trump bisa saja meninggalkan posisi tradisional Washington selama ini; bubarkan gencatan senjata yang secara praktis menjadi sandungan politis munculnya "aroma" baru di Semenanjung Korea. Toh, Trump sejak lama sudah dikenal senang mengambil keputusan a-conventional!

Paket bargain-nya, Pyongyang menghentikan produksi dan uji coba senjata nuklirnya plus membuka pintu bagi International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk melakukan monitoring. Sebaliknya, Washington menghentikan seluruh latihan militernya dengan Seoul dan mencabut seluruh sanksi ekonomi atau sanksi lainnya vis-à-vis Pyongyang.

Lalu, bang! AS akhirnya mengakui Korea Utara dan cease fire diformalkan menjadi perjanjian perdamaian kedua pihak di Semenanjung Korea. Langkah kuda ini perlahan akan membuka jalan bagi unifikasi Korea. Keputusan bersejarah yang akan sulit dilupakan banyak orang atau komunitas internasional.

Ini adalah skenario happy ending yang tak akan dilewatkan begitu saja oleh Trump. Persis seperti ketika Richard Nixon membuka jalan normalisasi hubungan dengan China pada tahun 1970-an. Sesuatu yang ketika itu diragukan sulit diwujudkan.

Boleh jadi, pertandanya "undangan kepada Kim Jong" berkunjung ke Washington daripada Trump bermain ke Pyongyang. Trump pasti ogah mencontoh Bill Clinton yang demokrat berkunjung ke Pyongyang pada 2009 dalam misi pembebasan jurnalis Laura Ling dan Euna Lee yang ditahan tentara Korut akibat tuduhan spionase.

Seperti biasa kata Trump, "what the hell do you have to lose?" Bagi Trump, tidak ada ruginya. Jika dirinya bisa mengubah Korut, kesempatan besar bagi Trump membangun hotel dan lapangan golf di negara tersebut. Bayangkan, Trump tower berdiri megah di dekat Kim Il-sung square atau di sekitar kawasan Geumsusan Memorial Palace di Pyongyang.

Setidaknya, itu keuntungan paling riil yang dapat diraihnya selain popularitas dan pengakuan dunia. Selebihnya, siapa yang tahu; Trump masuk dalam shortlist nominasi penerima Nobel Perdamaian 2017 atau 2018. Who knows?

Muhammad Takdir alumnus Geneva Centre for Security Policy (GCSP), Swiss





(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed