DetikNews
Jumat 07 Apr 2017, 14:30 WIB

Kolom

Menimbang Cinta di Balik Kasus Ganja

Arie Saptaji - detikNews
Menimbang Cinta di Balik Kasus Ganja Arie Saptaji/ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta - Kisah Fidelis Ari Sudarwoto memilukan dan mengetuk hati nurani. Pegawai negeri sipil di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat itu menanam ganja di kebun rumahnya dan menggunakannya untuk mengobati sang istri, Yeni yang didiagnosis mengidap Syringomyelia, suatu penyakit sumsum tulang belakang. Selama mengonsumsi ganja, kondisi Yeni menunjukkan gejala membaik.

Malangnya, perbuatan Fidelis dilaporkan ke pihak yang berwenang, Badan Narkotika Nasional (BNN) setempat, dan pria itu terpaksa mendekam di sel tahanan sejak 19 Februari 2017. Setelah Fidelis ditahan, sehingga tidak dapat lagi menyediakan ganja bagi istrinya, Yeni meninggal dunia pada 25 Maret, meninggalkan dua anak.

Legalitas

Hukum berkutat di seputar legalitas. Orang yang tertangkap melakukan pelanggaran hukum mesti menanggung akibat sebagaimana yang sudah disuratkan. Tidak ada ruang kompromi. Kepala BNN Budi Waseso, misalnya, menilai tindakan Fidelis menanam ganja tidak dapat ditoleransi dan tidak ada pengampunan meskipun tanaman itu digunakan untuk pengobatan. Artinya, hukum menutup diri terhadap pertimbangan di luar aspek legalitas, seperti nilai-nilai kemanusiaan dan belas kasihan.

Sejumlah film mengulik tentang bagaimana manusia bermain petak-umpet dengan hukum. Manusia —lengkap dengan niat, motivasi, ambisi, kelicikan, dan kecerdikan yang tak melulu hitam-putih— bertukar tangkap dengan hukum yang lurus-kaku menuntut kepatuhan mutlak. Menariknya, sebagian film menawarkan solusi yang melampaui aspek legalitas tadi. Ketika jalan hukum nyatanya buntu, biasanya cinta (atau belas kasihan) dimunculkan sebagai jalan alternatif. Perkelindanan ketiganya —manusia, hukum, cinta— menawarkan refleksi yang menarik.

Dalam Sully (Clint Eastwood, 2016), si tokoh utama mengupayakan yang terbaik di tengah situasi genting, dan berhasil menyelamatkan nyawa orang-orang yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya. Namun, hukum berupaya mencekik, memojokkan, dan mempersalahkannya, memperkirakan keputusannya sebagai keteledoran —jika diperbandingkan dengan kalkulasi mesin. Nah, ketika faktor manusia ikut diperhitungkan, tokoh utama pun terlepas dari jerat hukum. Mesin sebagai wakil hukum nyatanya tidak mampu mengendus kepahlawanan.

Di sisi lain, hukum juga bisa melewatkan kelicikan. Dalam Hell or High Water (David Mackenzie, 2016), Toby dan kakaknya merancang serangkaian aksi perampokan dengan strategi yang licin guna menelikung hukum. Ketika akhirnya ia lolos, penonton bisa memaklumi —meskipun bukan berarti membenarkan— langkah-langkah Toby yang digerakkan oleh kecerdikan dan kelicikan dan sekaligus naluri seorang bapak untuk melindungi dan menyediakan warisan bagi keturunannya. Toh seorang polisi mengingatkannya, meskipun Toby berhasil mengelabui hukum, "Pelanggaran itu akan terus menghantuimu sepanjang sisa hidupmu."

Menimbang Cinta di Balik Kasus GanjaFoto: Isfari Hikmat/detikcom
Dibenturkan

Kekakuan hukum kadang-kadang perlu dibenturkan dengan hukum lain yang lebih tinggi, seperti diperlihatkan dalam Hacksaw Ridge (Mel Gibson, 2016) dan Aligarh (Hansal Mehta, 2015). Dalam Hacksaw Ridge, seorang prajurit yang dituduh membangkang dibebaskan oleh keputusan kongres tentang bela negara. Kemenangan legal ini dilanjutkan dengan kemenangan moral: tokoh utama membuktikan keunggulan pilihan moralnya di tengah medan laga.

Dalam Aligarh, tokoh utama dibebaskan dari tuduhan bertindak asusila karena pengadilan mengedepankan perlindungan terhadap privasi. Namun, kemenangan legal ini berbuntut tragedi. Film tidak memaparkan, tapi hanya mencantumkan catatan tersirat, bahwa orang-orang yang tidak puas dengan keputusan pengadilan akhirnya menyingkirkan tokoh utama melalui hukum rimba alias main hakim sendiri —langkah yang, dalam kasus ini, tidak tersentuh hukum

Eye in the Sky (Gavin Hood, 2015) menampilkan dilema pelik antara hukum militer dan HAM, antara membekuk teroris sebelum beraksi versus melindungi warga sipil. Penonton diajak memaklumi kompleksitas persoalan dan sekaligus diberi ruang untuk menyepakati atau menyesalkan keputusan yang diambil.

Film komedi fantasi The Mermaid (Stephen Chow, 2016) menawarkan solusi menarik. Dikisahkan, perkawinan antara teknologi yang canggih dan manipulasi legal memuluskan sebuah proyek reklamasi. Komunitas yang terdampak —kawanan duyung yang mendamba (melambangkan kaum yang tak terwakili atau tersingkirkan dalam percaturan hukum?)— semula merancang balas dendam melalui hukum rimba. Beberapa percobaan gagal secara konyol. Dan, penyebabnya tidak lain karena muncul kekuatan yang melampaui hukum: cinta.

Berikut ini dialog yang menautkan antara keadilan (hukum) dan cinta.

"Untuk menyelamatkan orang yang kaucintai, kau rela mengorbankan segala sesuatu. Itulah watak kita. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."

"Duyung jatuh cinta pada manusia yang jahat? Tidak adakah keadilan?"

"Cinta tidak mengenal hukum. Cinta itu melampaui aturan atau batasan apa pun... Manusia memang bisa jahat. Namun, ada juga manusia yang baik. Cinta itu ada di sekeliling kita. Cinta itu sabar. Cinta mampu bertahan dalam ujian waktu. Tidak berkesudahan."

Ah, cinta itu memang tidak masuk akal. Melampaui hukum dan melibatkan kekuatan di luar manusia. Maka, cinta relatif lebih mudah dituturkan melalui film bergenre fantasi.

Kembali ke dunia nyata, apa yang bakal tergelar dalam kasus-kasus hukum yang marak di sekitar kita belakangan ini? Dalam pergulatan antara manusia dan hukum, akankah kita menemukan cinta?

Arie Saptaji penulis, penerjemah, editor, dan tukang nonton. Tinggal di Yogyakarta.


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed