DetikNews
2017/02/14 16:30:56 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Yang Kearab-araban, Yang Keeropa-eropaan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Halaman 1 dari 2
Yang Kearab-araban, Yang Keeropa-eropaan Foto: (dokumentasi pribadi/Foto: Andy Diswandi)
Perth - "Haji Iqbal, hurry up! Why are you late, my brother?"

Sambil menyetir forklift untuk mengangkati palet-palet berisi barang-barang kiriman, lelaki berkulit legam itu menyapa saya. Ia buruh di gudang perusahaan jasa pengiriman tempat kami bekerja.

Namanya Abdy, Abdurrahman Masoud lengkapnya, asalnya dari Jibouti, Afrika. Awalnya Abdy tak tahu saya muslim. Begitu tahu, dia langsung tampak lebih ramah, dan mengubah caranya memanggil saya. Soal "Haji Iqbal", tentu ia cuma bercanda. Tapi Abdy tak lagi memanggil saya dengan "mate" sebagaimana lazimnya cara Australia, bukan juga dengan "Iqy" sesuai panggilan buat saya dari teman-teman lain di gudang. Dia sekarang memanggil saya dengan "my brother".

Sebelum kenal Abdy, saya pernah berjumpa dengan banyak muslim dari berbagai negara. Saya ingat-ingat, ternyata kebanyakan mereka saling menyapa dengan panggilan "brother". Begitu pula para khatib di Universitas Western Australia tempat saya rutin jumatan sekarang, dalam khotbah mereka pun selalu muncul sebutan bagi jamaah: "Brother and sister in Islam..."

Pada waktu lain, dalam sebuah penerbangan, saya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki Arab Saudi. Ketika kami bicara bahasa Inggris, dan dia tahu bahwa saya muslim, segera kalimat-kalimatnya berlimpah dengan ucapan "masya Allah". Anehnya, dia menyebut saya dengan "you" saja. Misalnya saat bertanya, "So which part of Indonesia do you live?"

Aneh, kan? Iya, lah. Ini memang aneh. Kenapa dia tidak memakai "antum" untuk kata ganti orang kedua? Kenapa cuma "you"? Bukannya kami sesama muslim? Juga Abdy dan teman-teman muslim yang lain, kenapa mereka memanggil saya dengan "brother" dan bukan "akhi"? Padahal di Indonesia, oleh sesama muslim Indonesia, berkali-kali saya malah dipanggil dengan antum dan akhi. "Antum sekarang tinggal di mana, Akh Iqbal? Keluarga sehat-sehat?"

Dari situ lantas muncul dua biji tanda tanya di kepala saya. Benarkah umat Islam Indonesia lebih Islam dibanding muslim di negara-negara lain? Atau... umat Islam Indonesia lebih Arab dibanding orang Arab sekalipun?

Debat kusir tentang kaitan Arab dan Islam ini masih sering muncul di mana-mana. Banyak muslim merasa lebih afdhol memakai apa-apa yang berbau Arab, mulai pakaian hingga ucapan, agar lebih kental keislamannya. Di sisi seberangnya, banyak orang tak sepakat jika Islam harus diartikan dengan apa-apa yang berbau Arab. Islam itu universal, universalitas Islam justru akan hilang jika di mana-mana muslim harus diarabkan, dan sebagai muslim Indonesia kita harus tampil dengan ciri budaya Indonesia. Begitu pendapat mereka.

Perdebatan semacam ini sering memanas, karena lantas lari ke mana-mana. Yang tidak suka dengan budaya Arab dibilang membenci kebiasaan Nabi Muhammad. Yang suka dengan yang Arab-Arab dibilang ingin mengarabkan Indonesia.

Problem identitas beginian semestinya disikapi dengan memahami dulu duduk perkaranya. Kalau kurang cermat, yang akan muncul adalah generalisasi, sikap gebyah uyah yang bikin segalanya kian rumit dan berakhir menjadi konflik.

Generalisasi tersebut banyak bentuknya. Yang cukup sering terjadi, ketika orang bicara tentang Arab, acapkali tak dibedakan dulu antara Arab sebagai entitas budaya, Arab sebagai entitas etnis, dan Arab sebagai entitas politik-administratif alias negara Arab Saudi.

Modus begini lazim terjadi, tak bedanya dengan sering cerobohnya kita dalam membedakan antara Yahudi sebagai etnis atau salah satu cabang dari kelompok ras Semit (Jews), Yahudi sebagai agama (Judaism), dan Yahudi sebagai orang yang memeluk agama Yahudi (Jewish). Atau yang belakangan lebih sering muncul di tengah kita adalah gagalnya orang membedakan antara China sebagai negara, dan China sebagai etnis. Akibatnya, sebagai contoh, perayaan Tahun Baru Imlek yang meriah oleh warga keturunan Tionghoa ikut tertuding sebagai tanda berkuasanya negara Tiongkok alias RRC atas Republik Indonesia hahaha.
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed