Menlu Kasiviswanathan Shanmugam nampaknya belum cukup terintegrasi di bumi Singapura, oleh sebab itu bangsa Indonesia harap maklum. Terlihat jelas Shanmugam masih asing di Negeri Singa itu dan tak mengenal sejarah negaranya dengan baik. Shanmugam seperti tidak mengenal jejak langkah pemimpin senior Singapura, PM Lee Kuan Yew, yang telah mengunjungi makam Usman-Harun. PM Lee berhadap-hadapan dan meletakkan karangan bunga pada makam dua pahlawan itu, sebagai tanda berkhidmat dari seorang sahabat. Apa yang telah terjadi adalah keputusan politik masa lalu, dengan dimensi dan konstelasi berbeda.
Tapi Shanmugam sampai kemarin masih merasa perlu untuk menyinggung kehormatan Usman-Harun dengan pernyataan, "... Sangat penting bagi kami untuk diketahui, bahwa marinir tidak dihormati karena membunuh warga Singapura," (TEMPO, 12/2/2014). Jika pernyataan tersebut benar, maka dengan pendekatan sama, Shanmugam dan mereka yang sepaham berarti telah menempatkan Jenderal MacArthur, jenderal-jenderal sekutu dan para prajurit veteran yang dihormati sebagai pahlawan itu adalah pembunuh juga. Sebab mereka, sesuai pandangan Shanmugam, telah membunuh ratusan ribu warga sipil Jepang, Korea, Vietnam, Timur Tengah dan Amerika Latin; bahkan dalam jumlah sangat jauh lebih banyak daripada operasi heroik Usman-Harun.
Tapi makna heroik dan heroisme, kepahlawanan, mana Shanmugam paham? Dari puaknya sejarah Singapura tak mengenal mereka sebagai pahlawan. Mana Shanmugam bisa mengerti, kalau sepanjang sejarah puak-puaknya tidak pernah berani melawan penindasan dan merebut hak-hak kemerdekaan? Singapura hanya mengenal kepahlawanan Lim Bo Seng dari keluarga Lim, Tan Chong Tee dari keluarga Tan, dan Adnan bin Saidi dari keluarga Saidi, tapi Kasiviswanathan atau Shanmugam kakek moyang Shanmugam?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usman-Harun adalah pahlawan, gagah berani dalam menunaikan tugas negara. Dalam alur ini pula veteran tentara dan sukarelawan Belanda-Indonesia saling berjabat tangan, "Kita sahabat, bukan musuh. Dulu kita saling bunuh karena membela negara!" PM Lee Kuan Yew dari puak berbeda dari Shanmugam dengan ksatria menghormati Usman-Harun, karena Usman-Harun bukan secara pribadi membunuh warga Singapura, seperti versi Shanmugam, yang bisa berdampak menimbulkan distorsi di akar rumput. Hanya puak pahlawan yang tahu apa makna pahlawan. Shanmugam, RI-Singapura tak memerlukan.
Lange Voorhout, 14 Februari 2014
Keterangan penulis: Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.
(es/es)











































