Dia seorang pengacara yang brillian dan seorang politisi yang cakap yang mendapat dukungan dan pujian rakyat. Lebih dari itu dia memiliki seorang isteri unggulan, bekas Miss Manila, Imelda Romualdez yang cantik, cerdas dan mempunyai kemampuan untuk mendukungnya tampil dalam politik.
Semua kelebihan itu telah mengantarkannya pada kemenangan dalam Pemilihan Umum Presiden pada tahun 1965. Pada awal masa pemerintahannya, Marcos berhasil memelihara posisi Filipina sebagai negara yang paling depan dalam bidang ekonomi dan kemajuan dalam sistem pemerintahan dan administrasi publik di antara semua negara di Asia, kecuali Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi keuntungan yang dialaminya tidak berlangsung terus menerus. Dia mampu mencapai kemajuan, tetapi tidak mampu menghadapi cobaan. Teguh dalam mendaki, tetapi panik menghadapi ujian. Akibatnya, telah kita saksikan. Dia jatuh secara terhina sehingga negara dan bangsa Filipina terombang-ambing beberapa waktu.
Cobaan itu mulai setelah untuk kedua kalinya Marcos terpilih menjadi Presiden, pada tahun 1969. Berikut sesudah itu dia mulai menghadapi cobaan. Kondisi alam yang tidak baik mengakibatkan produksi hasil pertanian menurun. Bersamaan dengan itu timbul reaksi dari Partai Komunis dan pemberontakan bersenjata.
Dalam situasi demikian, kalangan oposisi mulai melancarkan kritik. Mungkin karena merasa krisis saat itu bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya, namun kesombongannya telah mendorongnya marah dan bertindak berlebihan (excessive). Marcos kemudian tak segan-segan memberlakukan system darurat. Tokoh-tokoh oposisi dipenjarakan, kebebasan pers dihilngkan. Pemerintahannya berubah menjadi otoriter.
Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan Amerika Serikat yang menjadi pendukung di belakangnya. Amerika sebagai negara yang sering tampil membela demokrasi, hak azasi manusia dan kebebasan pers, merasa terganggu, terutama malu terhadap propaganda komunis. Karena itu Amerika mulai menjauh dan mencari tokoh alternatif yang tidak terlibat dengan perkara-perkara tersebut.
Dalam situasi demikian, Marcos panik, dia mulai memperkecil lingkaran pendukungnya. Dia mengangkat orang-orang dekatnya. Untuk memelihara dukungan mereka, dia melakukan korupsi dan memberikan mereka hak monopoli dalam berbagai bidang. Kekerasan terhadap oposisi makin meningkat dan korupsi merajalela. Akibatnya, rakyat menjadi marah.
Puncak kemarahan terjadi ketika tokoh oposisi termuka, Benigno Aquino, kembali dari Amerika, dibunuh di Bandara pada tahun 1983. Keadaan menjadi chaos dan akhirnya people power bergerak dan menjatuhkan Marcos pada tahun 1986. Dia melarikan diri ke Hawaii dan kemudian ke Amerika Serikat.
Kebangkitan dan kejatuhan Marcos hendaknya menjadi pelajaran bagi kita, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang lain. Meskipun memilki berbagai keunggulan, namun karena keangkuhan dan jauh dari rakyat, akhirnya jatuh secara keji.
Beberapa faktor yang dapat disebut sebagai penyebab kejatuhan itu adalah, pertama, ketidakmampuannya mengendalikan diri dalam menghadapi kritik. Kedua, keunggulannya mendorongnya menjadi angkuh terhadap rakyat dan lawan-lawan politiknya. Akibatnya, krisis ekonomi yang semula timbul di luar kesalahannya, berubah menjadi malapetaka baginya.
Ketiga, dan ini yang terpenting, korupsi yang dilakukan dan dibiarkan di kalangan terdekatnya, menjadi bencana bagi negerinya dan menimbulkan kemarahan rakyat. Keempat, ketergantungan pada kekuatan negara lain (Amerika), bukan pada dukungan rakyatnya, menjadi boomerang terhadap diri dan negaranya. Dia tidak melihat rakyat sebagai fondasi kekuasan, tetapi memandang kekuatan raksasa Amerika sebagai jaminan.
*) Said Zainal Abidin adalah ahli manajemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.
(nwk/nwk)











































