Mantan Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin, yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia, ikut bertarung memperebutkan kursi Presiden lagi. Sepertinya Putin merupakan calon terkuat.
Putin selepas menjadi Presiden Rusia, 2000-2008, rela 'turun jabatan' menjadi Perdana Menteri Rusia, 2008-2012, merupakan siasat agar bisa maju kembali dalam Pemilu Presiden 2012. Konstitusi Rusia membatasi jabatan seseorang bisa menjadi Presiden hanya dua kali periode, membuat Putin tidak bisa maju dalam Pemilu Presiden 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang Pemilu Presiden 2012 pun antara Putin dan Medvedev juga sudah melakukan kesepakatan, di mana Putin mengatakan akan mengangkat Medvedev sebagai Perdana Menteri bila Putin terpilih. Perilaku politik kedua orang itulah yang membuat mereka disebut seperti pasangan pahlawan Batman dan Robin, duo pahlawan yang menumpas kejahatan bersama.
Meski Medvedev memfasilitasi Putin untuk maju dalam Pemilu Presiden, namun pemilu kali ini sepertinya tidak mudah bagi Putin. Ketidakpuasan rakyat Rusia kepada pemerintah bukan ditujukan kepada Medvedev namun kepada Putin. Ribuan rakyat Rusia menentang Putin dengan teriakan dan poster yang berbunyi seperti, "Putin, Ukhodi" (Putin, menyingkirlah), dan "Rossiya bes Putina!" (Rusia tanpa Putin).
Sikap sebagaian rakyat Rusia itu bisa sebagai bentuk kekecewaan atas terlaksananya Pemilu Parlemen yang dilaksanakan Desember 2011 yang berlangsung secara tidak jujur. Ada dugaan kecurangan pemilu dilakukan United Russia secara massif yang membuat partainya Putin itu memenangi Pemilu Parlemen dengan raihan 46%. Demonstrasi itu bisa juga dilandasi keinginan adanya perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di Rusia sebab selama dipimpin Batman dan Robin, Rusia tidak mampu memberi kesejahteraan yang lebih pada masyarakat Rusia terutama kaum muda Moscow.
Menghadapi tentangan masyarakat yang bisa menurunkan popularitasnya, pasti Putin tidak tinggal diam. Ia melakukan cara-cara agar popularitasnya terjaga bahkan bila perlu naik. Langkah yang dilakukan Putin, sepertinya meniru cara-cara politisi di Indonesia. cara-cara itu seperti pertama, membuat demo tandingan. Demo dari penentang Putin yang berlangsung secara besar-besaran dari Januari hingga Februari 2012, membuat Puting galau. Sehingga untuk menunjukan bahwa ia masih didukung mayoritas rakyat Rusia dan untuk menghalau penentangnya, ia menskenario demo mendukung dirinya.
Demo yang mirip rapat akbar dengan konsentrasi massa di Stadion Moscow, massa sebanyak 105.000 orang, itu menyatakan dukungannya terhadap Putin. Bila penentangnya saat demo meneriakan, "Enyahlah Putin", maka demo di stadion itu meneriakan, "Lindungi Negara", "Kita akan menulis sejarah kita" dan "Pilih Putin!"
Karena demo tandingan maka massa yang datang itu adalah bukan massa biasa namun massa dari institusi-institusi di bawah pemerintahan Rusia, kalau di Indonesia seperti PNS. Demonstran yang mendukung Putin itu adalah para pegawai pemerintahan, guru, perawat, dan pegawai BMUN Rusia.
Kedua, menjelang Pemilu Presiden, Putin akan mencari popularitas dan simpati. Caranya? Ya seperti politisi Indonesia, yakni merasa didzolimi. Upaya pembunuhan terhadap Putin yang dilakukan oleh kelompok yang terkait dengan Chechnya di sebuah kota pelabuhan di Ukraina, pasti bisa meningkatkan popularitas dan simpati rakyat Rusia kepada Putin.
Namun benarkah upaya pembunuhan itu murni, ataukah ini bagian dari rekayasa tim sukses Putin agar ia mendapat dukungan dari rakyat Rusia? Cara-cara mendapat dukungan dari rakyat dengan memposisikan diri sebagai pihak terzalimi, di Indonesia sangat ampuh untuk mendulang suara. Buktinya saat konferensi pers selepas Bom JW Marriott II, 2009, Presiden SBY membawa foto dirinya yang ditembak. Padahal foto itu sudah pernah diperlihatkan di tahun 2004.
*) Ardi Winangun adalah pengamat politik dan peminat studi internasional. Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. No kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com
(vit/vit)











































