Salah satu cara ampuh untuk mengurangi secara signifikan kemacetan lalu lintas di wilayah Jabodetabek adalah dengan menggunakan angkutan kereta api, seperti yang tengah dikembangkan oleh PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ). PT KCJ telah melakukan uji coba penataan ulang manajemen perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Jabodetabek sejak 1 Desember 2011 dan rencananya akan mulai diterapkan pada hari ini tanggal 5 Desember 2011.
Selama masa uji coba ternyata muncul banyak kendala disisi manajemen PT KCJ dan juga pengguna. Kekacauan yang muncul pada saat uji coba harusnya dapat di minimalisir. Namun mengubah pola kebiasaan pengguna KRL memang tidak mudah. Yang menjadi sangat penting bagi PT KCJ adalah segera memperbaiki semua permasalahan dalam uji coba tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persoalan di Pengguna
Mengubah kebiasaan atau perilaku manusia atas apa yang selama ini dijalaninya secara psikologis mememerlukan upaya yang sangat mendasar. Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar dari awal.
Otak pengguna KRLJ harus secara terus menerus di rangsang dengan informasi yang mudah didapat, bersamaan dengan penggunaan rute baru KRLJ. Pengguna tidak bisa diubah pikirannya secara cepat dengan hanya membaca atau menonton perubahan rute dan tata cara penggunaan KRLJ melalui pemberitaan di media. Pengguna harus diajak berperan aktif dalam perubahan itu melalui aksi uji coba yang cukup.
Persoalan di PT KCJ
Uji coba yang dilakukan minggu lalu oleh PT KCJ tampaknya kurang terencana dengan baik dan terburu-buru, sehingga pengguna kesal dan bingung karena ketinggalan kereta atau salah naik kereta dan sebagainya.
Sebagai contoh, seorang pengguna setia KRLJ dari Depok yang bekerja di sekitar Sudirman, marah dan kecewa karena saat ini untuk sampai di stasiun Dukuh Atas Sudirman, ia harus turun terlebih dahulu untuk berganti kereta di stasiun Manggarai.
Dari pengamatan langsung yang saya lakukan di beberapa stasiun saat uji coba, menunjukkan bahwa PT KCJ kurang cermat dalam melakukan komunikasi dengan pengguna, khususnya terkait dengan perubahan rute. Meski pengumuman sudah ada di beberapa media cetak dan elektronik. Namun karena aksi ini bertujuan untuk merubah psikologis manusia, maka upaya PT KCJ saat ini belum optimal supaya tingkat kekesalan penumpang saat uji coba tidak tinggi.
Langkah yang Harus dilakukan PT KCJ
Supaya tingkat kekesalan pengguna KRLJ berkurang, disarankan PT KCJ memperpanjang masa uji coba sampai 7 hari ke depan dan melakukan beberapa langkah strategis, seperti sebarkan beberapa gambar rute baru perjalanan KRLJ dalam ukuran poster dan letakkan di tempat yang mudah terbaca, baik di dalam maupun di luar peron atau tempat membeli tiket di luar stasiun jika ada.
Kemudian siapkan meja informasi yang dilayani oleh tenaga profesional yang enak dipandang. Siapkan pula permen, brosur dan kalau mungkin segelas air dalam kemasan di meja informasi supaya dapat meredam kekesalan pengguna yang ketinggalan kereta atau bingung harus naik kereta yang mana atau turun di stasiun mana untuk ganti kereta dan sebagainya.
Selain itu PT KCJ perlu juga menambah rangkaian kereta untuk mengurangi penumpukan di setiap stasiun. Gunakan social media untuk berkomunikasi antara PT KCJ dengan para penggunanya sehingga berbagai informasi PT KCJ terkait dengan jadwal, rute dan sebagainya dapat disebarkan secara mudah dan murah.
Terakhir pastikan multi sektor yang terkait dengan pengoperasian KRLJ mendukung, seperti Direktorat Jenderal Kereta Api(terkait infrastruktur), Kementerian ESDM dan PT PLN (terkait dengan tarif listrik dan ketersediaan listrik), PT KA, Komisi V DPR-RI dan Badan Anggaran DPR-RI (dukungan politik anggaran). Salam.
*) Agus Pambagio adalah pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen.
(vit/vit)











































