SBY Pecah Golkar
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Djoko Suud

SBY Pecah Golkar

Rabu, 26 Okt 2011 10:50 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
SBY Pecah Golkar
Jakarta - Fadel tereliminasi dari KKP. SBY memilih Cicip sebagai ganti. Pergeseran ini dinilai aneh. Orang yang kapabel diganti figur yang belum dikenal. Benarkah ada agenda khusus dalam pergantian menteri ini? SBY memecah Partai Golkar yang berdasar survei mengungguli Partai Demokrat?

Berbagai kalangan bertanya-tanya, mengapa SBY mengganti Fadel Muhammad dari posisinya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Sebab selama menjadi menteri, Fadel telah banyak berbuat. Menggempur pelaku illegal fishing yang selama ini menjadi raja pemasok ikan di berbagai daerah. Menyetop impor ikan lele dan memberdayakan peternak ikan patin. Serta menolak keras garam impor di kala petani garam sedang panen.

Langkah yang berani dan keras itu telah memberi optimisme kalangan marjinal, bahwa di kabinet SBY yang terkesan neolib itu masih ada menteri yang nasionalis. Berjuang memperjuangkan kemandirian bangsa. Bekerja untuk memberdayakan ekonomi rakyat kecil. Namun mengapa menteri yang memberi secercah harapan itu justru diganti? Toh Kuntoro Mangkusubroto Kepala UKP4 juga memberi nilai bagus untuk kinerja Fadel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudi Silalahi menyebut, digesernya Fadel karena tersandung masalah. Alasan ini terbantah kemudian. Kasus tanah UIN (yang sudah selesai) tidak kronis dan kritis seperti yang terbayangkan. Apalagi itu jika dibanding perkara Andi Mallarangeng serta Muhaimin Iskandar di Kemenpora dan Kemenakertrans.

Adakah digantinya Fadel karena 'kecelakaan' atau keteledoran SBY menerima laporan dari stafnya? Yang dimaksud kecelakaan karena Partai Golkar 'merasa' akan mendapatkan tambahan jatah menteri memberi tambahan nama Cicip untuk dipilih. Sedang teledor karena tidak melihat prestasi Fadel dan mendalami asbabul nuzul Cicip dalam peta dinamika Partai Golkar.

Setumpuk 'kesalahan' itu dalam politik tidaklah bisa dianggap sebagai kesalahan. Dan SBY yang dikenal cerdas serta cermat itu muskil melakukan itu. Maka asumsi yang 'terbaui' dalam perkara ini adalah tudingan adanya agenda tersembunyi dalam masuknya Cicip dan menyingkirkan Fadel. Pergantian itu adalah strategi memecah Partai Golkar dari dalam. Kok bisa?

Soliditas Partai Golkar memang terjaga. Namun jika mau mempetakan di dalam, faksi pastilah ada. Di partai ini kini tinggal tiga faksi yang berpengaruh. Faksi itu 'terbentuk' sejak Munas Golkar VII di Bali tahun 2004. Itu setelah Surya Paloh, Wiranto dan Prabowo mendirikan partai sendiri.

Faksi itu adalah Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan faksi JK. Kendati JK sudah di luar panggung, tetapi mantan Wapres ini tetap menyisakan warna. Sebab Agung Laksono dan Cicip bagian dari sukses JK memegang jabatan sebagai Ketum Partai Golkar di Munas yang penuh 'intrik' dan 'penghianatan' itu.

Faksi itu menyatu dan mengharmonisasi Partai Golkar setelah kemenangan Ical dalam Munas Partai Golkar di Pekanbaru tahun 2009. Koalisi Akbar Tandjung, JK (terwakili Agung Laksono) dengan Aburizal Bakrie (pendatang baru) berhasil menang lawan Surya Paloh. Kemenangan ini membawa gerbong baru Ical dalam struktur Partai Golkar sekarang.

Harmonisasi Partai Golkar itu terekam dalam survei yang dilakukan beberapa lembaga. Partai ini dianggap lebih 'prospektif' dibanding Partai Demokrat. Itu sejalan dengan kian menurunnya 'kepercayaan' terhadap SBY mendekati akhir jabatan. Untuk itu pelengseran Fadel sebagai Menteri KKP digantikan Cicip dianggap sebagai 'pelor' pembuka borok lama. Partai Golkar masuk dalam kotak faksi, dan soliditas bisa dipecah melalui catatan-catatan masalalu pribadi.

Fadel dalam Partai Golkar termasuk kelompok moderat. Dia diterima oleh tiga faksi yang ada. Namun karena itu pula bargaining posisinya menjadi lemah. Dia dikalahkan Cicip yang di era JK memang pernah 'dijanjikan' jadi menteri. Adakah Partai Golkar terpancing dengan 'umpan beracun' itu?

Ical cukup arif. Ketum Partai Golkar ini memberi harapan Fadel agar konsen di partai, menggarap konstituen di wilayah Indonesia Timur. Tapi adakah itu ampuh meredam emosi Fadel yang merasa terdzolimi? Atau justru gara-gara pergantian menteri sesama Golkar itu partai ini menjadi oleng?

(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads