'Bercurhat' Kepada Pak Presiden
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

'Bercurhat' Kepada Pak Presiden

Kamis, 10 Feb 2011 13:00 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Bercurhat Kepada Pak Presiden
Jakarta - Dengan segala hormat. Pak SBY, apa kabar, baik-baik saja bukan? Kami berharap agar
Bapak sehat-sehat saja dalam mengemban amanah membangun negeri ini menjadi negeri yang sejahtera, makmur, sentosa dan selalu diridahi Allah. Sehat fisik maupun
rohani.

Pak Presiden, selama ini kami seringkali mendengar curhat Bapak di media massa. Sebagian besar curhat Bapak tersebut terkadang membuat kami sedih karena kami tidak mampu membantu menyelesaikannnya. Khususnya curhat tentang gaji Bapak yang menurut Bapak itu belum cukup. Itu karena kami rakyatmu masih banyak yang miskin dan lemah, Pak. Hanya para pejabat Bapak saja yang hidupnya lumayan makmur. Baik mereka yang telah kami beri amanah di eksekutif maupun legislatif. Sedang kami, ya seperti yang kami rasakan selama ini. Mungkin Bapak belum begitu tahu duka dan derita kami menyaksikan tangisan Ibu Pertiwi yang tersayat karena dicabik-cabik oleh para koruptor. Menyaksikan ratapan anak negeri yang sakit dan kelaparan karena hidup dalam kemiskinan dan kenestapaan. Menyaksikan praktek hukum yang hanya memihak mereka yang kuat dan berkuasa. Menyaksikan hukum di negeri ini yang selalu diinjak-injak oleh para mafia hukum, baik dari kalangan pejabat, militer maupun politisi.

Di mata kami, negeri kita ini tidak ubahnya seperti gank mafia wahai Pak Presiden. Wajah angker negeri kita ini tidak jarang membuat perasaan bangga kami sebagai warga negara (nasionalisme) menjadi luntur karena rasa malu, teriris dan tersayat akibat menyaksikan sajian pemandangan yang menyebalkan oleh para aparatur pelaksanan pemerintahan negeri kita ini di berbagai lini dan level kekuasaan. Mereka para mafia ini semakin tamak ketika diberi kepercyaan mengemban amanah rakyat untuk mengelola negeri ini. Budaya korupsi, kolusi maupun nepotisme yang jelas-jelas menjadi sebab terbesar kehancuran negeri ini dengan sengaja terus terus dilestarikan. Bahkan yang lebih ironis, ternyata pelestarian budaya tersebut dilakukan secara sistematis dan terstruktur dan serta juga dilindungi oleh hukum yang direkayasa oleh para mafia berbaju pejabat negara. Adanya 'simbiosis-mutualisme' antara pengusaha, penguasa dan para politis sudah mengakar
sangat dalam dan menjadi rahasia yang diketahui khalayak ramai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi, tidak mengapa juga Pak Presiden. Kami ikhlas. Kami tidak akan mengimpor virus revolusi Tunisia maupun Mesir ke negeri ini. Karena kami masih yakin Bapak masih cukup waktu dan kekuatan untuk membenahi bangsa ini. Hanya saja, kali ini kami sangat ini sedikit curhat kepada Bapak. Bolehkan Bapak Presiden? Pak SBY, sebenarnya ini bukan keluhan. Karena nenek moyang kita adalah para pahlawan yang pantang mengeluh. Pak SBY, para pahlawan kita yang telah wafat tidak pernah mengeluh 'tidak dibayar' ketika mengusir para penjajah dari bumi Nusantara. Mereka berjuang dari hutan ke hutan. Mengobati luka dengan sepucuk daun di belantara hutan dengan ancaman peluru penjajah yang selalu siap merobohkan raga mereka. Terkadang mereka juga tidak makan Pak. Mereka adalah orang-orang yang penuh semangat, pemberani, pantang menyerah dan tidak pesimis menghadapi kerasnya kehidupan. Itu semua dilakukan demi negeri ini.

Pak Presiden, sejak saya mampu membaca berita di media massa maupun dengan melihat fenomena yang tak sempat tertulis oleh para penulis atau jurnalis, berita dan
realita yang selalu muncul di media adalah prilaku sebagian aparatur Negara kita yang seakan tidak pernah jera untuk terus-menerus menghancurkan negeri ini. Hidup kita di negeri ini sepertinya sudah tidak ada lagi keberkahannya Pak. Penuh dengan kedustaan, kebohongan, kepalsuan, penipuan, dan segela bentuk kejahatan dan perilaku yang menyimpang yang seolah bagai 'aqidah baru' yang konsisten dianut oleh aparatur negara pelaksana kepemerintahan negeri kita. Padahal, kemerdekaan negeri kita hampir mencapai usianya yang ke enam puluh enam tahun. Jangka waktu yang terlalu lama membuat negeri ini makmur dan maju. Kita ditinggal jauh oleh negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura.

Belum tuntas penyelesaian mega kasus Bank Century yang merugikan rakyat triliunan
rupiah yang sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya, sesaat kemudian kami kembali menyaksikan mega kasus lainnya yang dipelopori Gayus Tambunan sebagai pion-nya, seorang pegawai Dirjen Pajak dengan golongan pegawainya III A yang menjadi seorang miliarder dengan kekayaannya yang sangat fantastis, dan yang diungkap dari hasil korupsi/sogokan mencapai Rp 25 miliar(Republika,30/3/2009, jumlahnya Rp 28 miliar). Dari kasus Gayus Tambunan ini terungkap seluruh aparat penegak hukum terlibat, polisi, jaksa, aparat pajak, dan aparat penegak hukum lainnya, secara sistemik terlibat dalam terlibat dalam kasus ini. Ini hanyalah salah satu kasus telah merembet ke semua institusi penegak hukum, dan lembaga lainnya. Tapi anehnya, meski dalam kasus ini Gayus telah mengakui bahwa ia hanya menjadi pion, tapi tidak ada upaya yang maksimal untuk menguak actor dibelakang Gayus hanya dengan alasan akan menggoncangkan republik ini. Jika demikian wahai Pak Presiden, sungguh republik ini telah membunuh rakyatnya.

Begitu juga beberapa waktu lalu kasus pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia (BI), Miranda Gultom, yang sangat menyesakkan dada kami. Ada anggota dewan dari berbagai parpol yang menerima uang 'balas budi' dengan nilainya yang bermiliar-miliar, dan dijelaskan dengan gamblang dan terang benderang. Tapi, sampai sekarang yang ditekuk di pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) hanya yang menerima travel cheque. Tapi yang menyogok, masih dapat tertawa-tawa di rumahnya. Kasus yang paling spektakuler dalam sejarah bangsa ini, yaitu kasus BLBI yang menghabiskan Rp 650 triliun, dan tidak ada yang dihukum berat, dan hanya beberapa gelintir orang.

Bukan hanya itu Pak, tapi pejabat-pejabat disini meski tidak semua namun sudah banyak yang lupa diri ketika mendapat jabatan, baik pejabat biasa, legislatif sampai eksekutif. Kami berteriak dengan air mata darah agar wakil kami di legislatif tidak membuang-buang uang rakyat untuk jalan-jalan akhir tahun ke luar negeri. Tapi mereka tetap pergi meski negeri ini sedang ditimpa musibah dengan alasan studi banding. Mereka tidak ingat lagi nasib rakyat yang masih menderita, mereka lebih mementingkan urusan mereka sendiri daripada memikirkan nasib rakyat yang telah memilihnya. Bahkan yang sangat menyakiti kami, uang ratusan juta di mata mereka adalah uang receh. Sehingga jangan heran bila nasib rakyat miskin hanya menjadi komoditas politik para politisi menjelang pemilu saja. Padahal, ketika para pendiri republik ini telah menyepakati 5 butir Pancasila sebagai falsafah Negara Indonesia. Namun, faktanya hingga saat ini belum satu butir pun konsisten dijalankan oleh para penguasa negeri ini. Misalnya butir kedua yang berbunyi:
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Faktanya, puluhan juta orang masih berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan
mengatakan angka kemiskinan pada 2010 tidak banyak berubah dengan 2009 yakni 14,15 persen, dan di Indonesia orang suka atau tidak suka harus bekerja jikalau menganggur ia akan mati (antaranews.com).

Dan ironisanya lagi Pak Presiden, di saat yang bersamaan beban utang negara kita masih melangit. Terhitung total utang Indonesia saat ini mencapai Rp 1.600 triliun. Untuk yang akan jatuh tempo pada tahun 2010 ini mencapai Rp 115 triliun. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat konferensi pers di ruang pers Kementerian Keuangan, mengatakan "Pada tahun ini (utang jatuh tempo) Rp 110 triliun dan kalau ditambah bunga Rp 115 triliun" (detikfinance.com 25/05/10). Sebagai warga negara, kami juga teriris menyaksikan aksi-aksi Satpol PP yang begitu perkasa ketika membabat habis lapak-lapak pedagang miskin tanpa memberikan solusi yang adil bagi para pedagang-pedagang miskin tersebut. Kebijakan-kebijakan seperti menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL), konversi dari minyak ke gas, kekurangsigapan dalam menangani kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok, penanggulangan teror "bom dapur”, dan lain-lain merupakan bukti kacau balaunya negeri kita Pak.

Dalam masalah keamanan, kami juga sedih karena faktanya negara kita masih bergantung kepada Amerika. Kini kerjasama keamanan tersebut semakin erat. Sebagai
contoh: TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) sepakat untuk
meningkatkan kerja sama keamanan maritim di kawasan Asia Pasifik pada April 2010
lalu. Ancaman embargo masih menjadi senjata ampuh Amerika untuk menakut-nakuti
negara kita. Bagi kami, kita laksana budak mereka karena harus selalu mengikuti
kemauan mereka.

Pak Presiden, saya akhiri surat curhat ini. Kami tidak pandai memberikan solusi. Karena kami hanyalah masyarakat yang suara kami jarang sekali didengar. Ada ratusan tulisan-tulisan para aktivis di berbagai media massa di tanah air setiap bulannya. Dengarlah suara mereka. Dan dengarlah suara hati kami. Ada banyak anak negeri yang masih idealis dan jujur dalam membangun negeri ini. Mintalah bantu sama mereka Pak. Pesan kami, wahai Pak Presiden, bangunlah negeri ini dengan nurani dan telingamu, bukan dengan mulut para pembisik disekitarmu! Apalagi dengan curhat, kami belum layak mendengar curhatmu Pak Presiden! Kami masih terlalu lemah!

*) Teuku Zulkhairi adalah Ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads