Barack Obama memiliki kesamaan. Sama-sama berkulit berwarna, tapi mengandung gen
bule. Bedanya gen bule Obama dari ibunya yang berdarah Irlandia, sementara gen bule
saya berasal dari buyut saya kelahiran Portugal. Sayangnya gen itu sama sekali tidak memengaruhi penampilan fisik kami.
Kesamaan lainnya, soal selera makanan. Sejak anak-anak saya menyukai hampir semua makanan dari Amerika Serikat. Awalnya saya menyukai keju, coklat dan kue donat. Saat ini saya juga menyukai hot dog, steak dan ayam goreng ala Amerika. Selain itu, makanan Indonesia yang kami sukai juga sama seperti emping dan kerupuk.
Makanan dari Amerika Serikat itu, saat ini juga disukai anak-anak saya. Meskipun terkadang mengejutkan, seperti habis makan pempek bersama cukanya yang penuh aroma ikan dan bawang putih, mereka minum Coca-cola. Lidah yang sudah digigit pedasnya cabai dan bawang putih, kemudian digigit soda. Lalu, bayangkan aroma mulutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara ideologi, kami pun memiliki kesamaan. Yakni menjunjungi tinggi nilai-nilai demokrasi dan tidak menolak peranan pemodal besar dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan.
Hanya, perbedaan yang mencolok saya dengan Obama soal nasib. Obama merupakan seorang presiden di negara paling berpengaruh di dunia saat ini, Amerika Serikat. Sementara saya adalah rakyat biasa, yang memiliki berbagai persoalan mendasar sebagai manusia seperti pangan dan sandang, dan hidup di negara yang memiliki banyak persoalan mendasar, serta selalu menjadi 'market' dari negara-negara besar. Mulai dari
persoalan ekonomi hingga cara berpikir mengenai kemanusiaan, lingkungan hidup, pendidikan, hingga hiburan.
Sosok Obama memang luar biasa. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang jarang
datang ke Istana Negara buat menghadiri upacara 17 Agustus selama Soesilo Bambang
Yudhoyono menjadi presiden, akhirnya datang juga ke Istana Negara saat jamuan makan malam kepada Obama dan istrinya. Mungkin bila Abdurahman Wahid masih hidup, dia pun akan menghadiri jamuan makan malam 'anak Menteng' itu.
Mengapa Membenci Obama?
Saya tidak habis pikir, kenapa ada rakyat Indonesia yang menolak kehadiran Obama ke
Indonesia. Memang penolakan ini bukan terhadap sosok pribadi Obama, melainkan statusnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Sebuah negara yang dituduh sebagian wong Indonesia, sebagai negara penjajah Republik Indonesia ini.
Coba kalau Obama seorang artis Hollywood atau pemain sepakbola di klub terkenal seperti Manchester United mungkin kehadirannya dielu-elukan.
Membenci Amerika Serikat,menurut saya, juga tidak beralasan. Jika tidak salah, Amerika Serikat-lah yang mendesak NICA buat meninggalkan negara ini setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Desakan mundur ini yang kemudian mendorong Perjanjian Meja Bundar yang kemudian melahirkan pengakuan adanya Republik Indonesia. Jadi, peranan Amerika Serikat cukup penting atas berdirinya Republik Indonesia. Jika tidak didesak Amerika Serikat mungkin bangsa ini masih dijajah Belanda yang mendompleng NICA.
Peranan penting lainnya, sejak rezim Soekarno hingga hari ini banyak orang Indonesia
yang mendapat beasiswa sekolah atau kuliah di Amerika Serikat. Mereka yang disekolahkan di Amerika Serikat ini hampir semuanya menjadi pejabat negara, politisi
ulung, pengusaha sukses, atau pejuang demokrasi yang mumpuni. Beberapa anak muda di Palembang yang selama proses Reformasi 1998 berada di garis depan melawan rezim
Soeharto, juga turut disekolahkan ke Amerika Serikat. Salah satunya Jamilah.
Yang luar biasa, industri hiburan, mode dan pers, yang berkembang di Amerika Serikat sangat memengaruhi hampir semua kehidupan orang Indonesia. Setiap produk industri film atau music yang diluncurkan di Amerika Serikat, pasti akan disambut luar biasa girangnya oleh orang Indonesia. Begitu juga dengan dunia mode. Anak-anak hingga orang dewasa akan melahap apa saja mode yang lagi trend di Negeri Paman Sam itu. Saya sendiri, misalnya, mengoleksi banyak album music dan film dari industri hiburan Amerika Serikat. Dan celana jeans saya βpakaian yang dipopularkan para Cowboy di akhir abad 19β juga mendominasi di lemari pakaian saya.
Sementara dunia pers Indonesia. Mulai dari etika jurnalistik, gaya penulisan, serta pengelolaan industrinya juga banyak meniru apa yang dilakukan pegiat pers di Amerika Serikat. Tokoh-tokoh pejuang pers dan kebebasan berekspresi banyak sekali berbicara dengan referensi dari pemikiran orang-orang pers atau pakar komunikasi di Amerika Serikat.
Tidak heran pula nama media massa Indonesia, khususnya televisi menyebut namanya
dengan gaya bahasa Inggris (baca Amerika Serikat), seperti halnya nama mal dan perumahan elite di Indonesia. Misalnya SCTV, Metro TV atau antv.
Para senimannya juga demikian. Sebagian merasa 'hadir' jika sudah menimba ilmu atau
menampilkan karyanya di Amerika Serikat. Beberapa penulis Indonesia, misalnya, merasa
menemukan karya terbaiknya saat berkarya di negara itu.
Di kampus, hampir semua ilmu pengetahuan yang berkembang di Amerika Serikat juga
menjadi pijakan para intelektual buat menjelaskan atau mencari jalan keluar persoalan di Indonesia. Para aktifis LSM yang meneriakkan demokrasi dan HAM, serta lingkungan hidup, juga sebagian besar dibiayai oleh pemerintah atau rakyat Amerika Serikat.
Pokoknya, satu buku dengan ketebalan 1.000 halaman tampaknya masih kurang buat menjelaskan pentingnya peranan Amerika Serikat dalam membentuk karakter bangsa Indonesia.
Panutan Indonesia
Jika menelisik ke sejarah, tampaknya kita harus berani mengatakan bahwa Amerika Serikat merupakan panutan bangsa Indonesia dalam membangun Republik Indonesia hari
ini dan di masa mendatang. Kemajuan Negara itu di bidang ilmu pengetahuan, budaya,
dan system politik yang demokratis pantas buat ditiru Indonesia.
Di masa kerajaan Sriwijaya, misalnya, apa yang berkembang di India dan Tiongkok, juga turut berkembang di Indonesia (baca Nusantara). Mulai dari system pemerintahan, bisnis, budaya, hingga agama. Bukti-buktinya masih kita rasakan pada hari ini.
Lalu, di masa kerajaan Islam atau kesultanan, bangsa di Nusantara juga berpanut pada
apa yang berkembang di Timur Tengah, khususnya Arab dan Persia. Bukti-buktinya juga
masih kita rasakan dan lakukan saat ini.
Kemudian di masa penjajahan Belanda, bangsa ini pun berpanut dengan negeri Belanda.
Gaya hidup, seni-budaya, sistem birokrasi, banyak dilakoni orang Indonesia. Bahkan bila ada yang menikah dengan wong Belanda, derajat sosial mereka naik di masyarakat. Mungkin lantaran fisik yang bertambah cantik atau tampan, juga selera hidup yang lebih modern. Bukti-buktinya jelas masih kita rasakan dan jalankan sampai sekarang ini.
Jadi, tidaklah salah bila kita menempatkan Amerika Serikat menjadi panutan, seperti halnya India, Tiongkok, Arab, Persia, Belanda, di masa lalu.
Bagaimana dengan nasionalisme kita? Ya, nasionalisme kita adalah mempertahankan wilayah negara, pemerintahan, serta bahasa Indonesia. Ibaratnya, setelah menghadiri upacara bendera 17 Agustus, saya pergi ke cafe di sebuah mal di Palembang buat makan steak dan sebungkus kentang goreng.
Salahkah itu? Tentu saja tidak, sebab saya memesanΒ makanan tersebut menggunakan bahasa Indonesia dan membayarnya dengan mata uang rupiah, serta membawa kartu tanda penduduk di dompet, sebagai bukti saya merupakan warga Negara Indonesia.
Piss, Obama. I Like Donut....
*) Taufik Wijaya, wartawan detikcom dan pekerja seni. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi. (tw/vit)











































