Terus terang sudah saya siapkan kemungkinan dampak ikutan atas hasil akhir laporan Pansus. Sebab jika laporan itu sesuai ‘ imajinasi’ penggembira Pansus, maka geger akan melanda negeri ini. Bukan hanya saat diumumkan, tetapi juga ‘radiasi’ dari sengatannya.
Mengapa ‘radiasi’ itu mengarah ke sana? Itu karena gempitanya lobi-lobi, bicara clometan para faksi partai koalisi, serta kencangnya institusi mengobrak penunggak pajak. Di ‘dunia tanda’, itu sinyal aksi dan reaksi sedang mencari bentuk baru. Kalau itu terjadi, falsafah Sambernyowo rasanya pas sebagai padanan. Tijitibeh, mati siji mati kabeh. ‘Perang bubat’ tak terhindari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti Aburizal Bakrie, misalnya. Sejak kasus Century menggeliat, Ical tidak lagi memakai Lexus , mobilnya. Mobil itu diganti yang bermerk Century. Mobil itu yang selalu menemani Sang Ketum (Ketua Umum) Partai Golkar ini kemana-mana. Tak terkecuali ketika ‘membakar’ semangat kader Golkar di Wisma Kinasih Sukabumi tiga hari sebelum Pansus membacakan laporan akhir.
Juga yang perlu diingat adalah kedatangan George Soros ke Indonesia dan bertemu Boediono. ‘Penggoyang’ negeri miskin itu konon dalam rangka ‘penyelamatan’ Boediono dan Sri Mulyani. Jika sampai kasus Century memasuki ranah hukum, maka Soros akan ‘mentake-over’ bank ini. ‘Uang negara’ dikembalikan, dengan begitu kasus ini menjadi urusan internal Bank Indonesia (BI).
Konon lagi, jika skenario itu berjalan bagus, maka perlu langkah menciptakan reharmonisasi. Karena kasus Century telah melahirkan disharmonisasi banyak tokoh, maka perlu dibuatkan jalan yang ‘win-win solution’. Upaya itu berusaha ‘memuaskan’ semua pihak. Yang ‘mengincar’ jabatan Boediono diakomodasi, yang ‘dendam’ dengan Sri Mulyani hatinya terobati, dan yang menginginkan ‘uang negara’ kembali ‘disenangkan’.
Maka skenario kedua, konon, Boediono dan Sri Mulyani akan mengundurkan diri. Dua tokoh ini terbebaskan dari ‘jerat hukum’ dan jerat jabatan. Memberi ruang mereka yang ‘tersakiti’ dan ‘berambisi’ lega dan menaruh simpati terhadap Boediono dan Sri Mulyani, karena keduanya legowo untuk undur diri.
Dan segala konon itu akan ditutup dengan ‘gong konon’ berikutnya. Sebab konon-konon itu tidak paripurna tanpa konon yang terakhir ini. Konon pamungkas itu adalah kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Kendati tidak disinggung-singgung kedatangannya punya pertalian dengan kasus Century, tapi kedatangan itu ‘dikononkan’ sinyal ‘deal’ seluruh konon itu.
Maka konon berikutnya adalah sinyalemen banyaknya ‘pencegat’ agar ‘Anak SD Menteng’ itu tidak jadi menyambangi Indonesia. Maksudnya, tentu, supaya skenario itu buyar tanpa hasil. Soros batal investasi.
Benarkah konon-konon itu? Namanya konon biasanya diambil dari negeri dongeng. Kendati banyak dari konon ini ditimba dari sumber terpercaya.
*) Djoko Suud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)










































