Secara pribadi saya tak rela hal itu. Untuk apa jika sekadar menguntungkan pada para politisi PDIP? Untuk apa memberi keuntungan pada Golkar, yang sudah banyak mengeruk keuntungan sepanjang 32 tahun Orde Baru dan tidak banyak membawa keuntungan bagi rakyat? Untuk apa memberi keuntungan hanya kepada PKS, yang ternyata juga menampakkan kecondongannya menikmati kekuasaan?
Sebetulnya, sejauh anda dan seluruh jajaran pendukung anda menjalankan kebijakan yang taat hukum, saya kira tak ada yang perlu dikhawatirkan dari proses yang berlangsung di Pansus Hak Angket DPR. Dalam sistem presidensial, posisi anda sangat kuat sebab lembaga legislatif dan eksekutif tidak bisa saling menjatuhkan. Mosi tidak percaya hanyalah praktek yang lazim dijumpai dalam sistem parlementer. Meski demikian, pemakzulan juga bukan barang aneh dalam sistem presidensial; kita bisa mendapatkan sejumlah contoh untuk itu, misalnya di Amerika Serikat dan Republik Irlandia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Justru saya sesungguhnya sering tidak percaya pada pertunjukan yang disuguhkan oleh Pansus Hak Angket yang menangani kasus ini. Ada beberapa hal yang membangkitkan perasaan tidak percaya itu. Pertama, saya tidak bisa menyingkirkan prasangka bahwa itu hanya sandiwara politik; setidaknya itu bagian dari manuver untuk melakukan tawar-menawar. Kedua, tingkat kepercayaan saya rendah terhadap performa DPR kita; mereka adalah para politisi yang berupaya dengan segala cara untuk duduk di Senayan. Ketiga, dunia politik kita dikuasai oleh para cukong.
Mencermati perilaku politisi kita hari ini, dan bagaimana mereka mendapatkan uang demi mengejar kursi mereka, saya tak bisa membuang ingatan terhadap apa yang pernah saya baca mengenai situasi politik di Amerika Serikat tahun 1920-an. Anda tahu betul, Pak Presiden, di seputar kekuasaan uang datang dan pergi begitu gampang. Panggung politik memerlukan topangan uang besar dan mesin politik yang mampu menyerap dan mengucurkan uang demi menangguk suara. Wartawan radikal I.F. Stone (kita mengenalnya di sini sebagai penulis buku Peradilan Socrates) menyebut zaman yang seperti ini sebagai 'zaman pengemis.'
Mesin-mesin politik selalu mendasarkan operasinya pada sistem yang bobrok, di mana politisi yang memenangkan pemilihan memberikan proyek-proyek pemerintahan kepada anggota partai yang loyal mendukung pemilihannya. Di Amerika tahun 1920-an, mereka sekaligus juga bekerja membekingi para mafia yang menjalankan bisnis prostitusi dan penyelundupan minuman keras.
Harry S. Truman, politisi Partai Demokrat, adalah salah seorang yang karier politiknya sering dikait-kaitkan dengan mesin politik Tom Pendergast, bos Missouri. Investigasi yang dilakukan oleh pemerintahan Roosevelt terhadap Pendergast mengungkapkan praktek brutal dan korup perpolitikan AS waktu itu. Namun Truman selamat dan ia naik menjadi wakil presiden pada periode keempat kepresidenan Roosevelt dan kemudian menjadi presiden di tahun 1944 menggantikan Roosevelt yang meninggal tahun itu.
Saya takut hal yang serupa tengah berlangsung saat ini di Indonesia: dominasi mesin-mesin politik yang bekerja untuk mendongkrak seseorang ke puncak kekuasaan dengan imbalan proyek-proyek pemerintahan. Saya takut bahwa mereka juga membekingi para mafia atau organisasi-organisasi semacamnya.
Saya kira buku Gurita Cikeas tulisan George Aditjondro memiliki fungsi pentingnya di sini, yakni bahwa ia mengumpulkan seluruh pergunjingan tentang dari mana sumber keuangan untuk mendanai kemenangan anda didapatkan. Dan apakah kasus Century berkaitan dengan itu? Saya yakin, Pak Presiden, itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran banyak orang dan mereka semua ingin tahu jawabannya.
Salam dari saya,
A.S. Laksana
NB: Saya sebenarnya lebih berharap bahwa, kalau toh ada pemakzulan, itu akan memberikan keuntungan kepada rakyat Indonesia.
(asy/asy)











































