Orang aneh dengan ajaran aneh makin banyak saja. Di Panarukan muncul nama Agung dengan ajaran Brayat Agung Majapahit. Sedang dari Cirebon, Jawa Barat, Tantowi mendirikan Surga Eden. Di tengah musim hujan dan badai kencang, βsang kiaiβ mengaku Tuhan. Titahnya tidak boleh dibantah dan segala maunya wajib diamalkan.
Ngangsu kaweruh (mengaji) dengan mursyid tidak bernasab memang sah. Itu sudah terjadi di banyak padepokan yang tersebar di negeri ini. Maklum, sejarah memberi peninggalan itu. Kian subur saat demokrasi berkecambah dan kesadaran akan hak sebagai manusia terhargai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khasanah literer mengidentifikasi Al-Hallaj yang pernah βmengakuβ Tuhan. Ana al-Haqq, βakulah kebenaranβ sangat populer. Pengakuan itu membawa Hallaj ke tiang gantung. Tubuhnya dimutilasi, dibakar, dan abunya terserak di Sungai Tigris. Hallaj βdimusyrikkanβ, dianggap menyekutukan Tuhan.
Para ahli tafsir yang ragu berusaha mencari tahu. Sirr al-Ilah dibedah. Dan at-Thawasin dibuka ulang. Kalimat βaku milikNya, dan aku belum menjadi milikNyaβ menjadi bahan kajian. Kredo di pasal 23 Kitab At-Thawasin itu akhirnya memberi konklusi, sanksi Hallaj politis. Pencari jalan Allah itu harus menerima takdirnya dengan tidak manusiawi.
Di abad-abad berikutnya Louis Masignon kembali membuka spiritualitas Hallaj. Dia melihat Hallaj masih menduduki singgasana kegelapan di umat beriman. Melalui serangkaian kitab dan telaahnya, Masignon akhirnya menjadi bagian dari βpemutihanβ sufi yang mensejarah itu.
Di Indonesia sosok yang βmirip Hallajβ selain Hamzah Fansuri, juga Syekh Siti Jenar. Bedanya, Fansuri tidak βpunyaβ jamaah, sedang Siti Jenar banyak santri. Ungkapan βnora ono pengeran kajaba aku, lan nora ono aku kajaba pengeranβ (tidak ada Tuhan selain aku, dan tidak ada aku selain Tuhan), serta keyakinannya βhidup itu kematian, dan kematian adalah kehidupanβ mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari.
Para santri untuk βmenuju matiβ berpura-pura merampok dan memperkosa agar dibunuh. Dan utusan para wali dari Demak terkaget-kaget dengan cara ungkap Syekh Siti Jenar menjabarkan βmaβrifatnyaβ dalam βmenyatuβ dan mengagungkan asma Allah. Siti Jenar akhirnya βmenujuβ kematian.
Siti Jenar dan Hallaj adalah βpengemisβ ridha Allah. Mereka tidak jauh dengan cinta yang diminta Rabiβah Al-Adawiyyah. Sejauh pengelanaan para aulia itu tidak terbersit syahwat. Apalagi mengamini harmonisasi βtumbu oleh tutupβ yang bermakna menyatunya lingga (penis) dan yoni (vagina).
Jika Tantowi ternyata menghalalkan persetubuhan santriwati, maka lelaki ini hampir pasti bukan spiritualis dan pasti bukan Islam, tapi penjahat kelamin. Begitu juga Agung dari Brayat Agung yang mencerca Nabi Muhammad dan menyuruh pengikutnya meninggalkan salat dan puasa.
Memang benar dalam ranah ini pernah ada Nava Durga βWisnu bersetubuhβ di empat kiblat dan Tantra Bhairawa amalan Raja Kertanegara yang disinisi Pararaton. Tapi kalau itu yang diamalkan, maka jangan mengaku Islam, dan jangan diajarkan. Sebab paham itu di Hindu maupun Buddha juga dianggap menyimpang.
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
(iy/iy)











































